Australia Alumni Award untuk 2 Dosen ITB

>> Wednesday, February 25, 2009

From: Kusmayanto Kadiman
To: IA-ITB@yahoogroups.com
Sent: Thursday, February 26, 2009 12:46 PM
Subject: [IA-ITB] Australia Alumni Award untuk 2 diosen ITB



Kabar yang membanggakan, Prof Hendra Gunawan dan Prof Edi Tri Baskoro
mendapatkan Award untuk ketogori pendidikan. Berita lengkap ada di

http://www.ozmate.org/AustralianAlumniAward/tabid/104/Default.aspx

ITB tetap yang terbaik,
Kk

Read more...

Jutawan dari Daerah Kumuh

Posted by: "agung hertanto" agungeka@yahoo.com agungeka
Wed Feb 25, 2009 8:12 am (PST)


Slum Dog Millionaire.

Jutawan Anjing Kumuh atau Anjing Kumuh Jutawan, itu kira
kira terjemahannya. Film yang memenangkan delapan Oscar.

Saya nonton film ini sebelum dinominasikan Oscar, bahkan
sebelum mendapat award/hadiah apapun. Film jenis ini
tidak jamak diputar di Amerika, karena bukan tipikal film
konsumsi masyarakat Amerika, sehingga hanya diedarkan secara
terbatas dikota-kota tertentu di Amerika, dan itupun
di movie theatre tertentu saja. New York City adalah
bastion (bentengnya) kaum liberal dan intelektual
Amerika, maka jenis film seperti ini juga diputar.

Slum Dog adalah low-budget movie, awalnya diragukan
oleh producernya akan mendatangkan duit. Bahkan rencananya
akan langsung dijual dalam bentuk DVD mem'bypass' tayangan
layar perak. Diragukan apakah akan ada peminatnya. Kalaupun
ada, apakah bisa menutup beaya operasi tayangan layar perak.
Pemasarannya kemudian diambil alih oleh Fox Searchlight
dari Warner Bros. Dari mulut kemulut film ini merebak
kemana-mana.

Film ini bercerita tentang seorang pemuda berasal dari
daerah kumuh dan buta huruf dan ikut TV Game Show yang
menghadiahi pemenangnya dengan uang jutaan rupee. Kalau
kita nonton film ini dan berhenti disitu tangkapan kita,
film itu menjadi mustahil dan kita salah baca. Film
ini justru menarik karena TV Game Show itu hanya
sebagai penguntai pengalaman-pengalaman sipemuda dan
kakak serta teman wanitanya sejak kecil.

Bagaimana dia sewaktu kecil hidup di daerah kumuh, bermain
main dengan ceria bersama teman-temannya dan kakaknya.
Bagaimana mereka sebagai kelompok tak-terjamah dan
minoritas muslim menjadi korban perburuan dan kekerasan
para Hindhu Fundamentalis (fundamentalis dimana mana
sama saja). Bagaimana mereka sebagai anak-anak
mengkais kais bukit sampah bersama anjing-anjing liar.
Bagaimana mereka ditinggal mati orang tuanya dan
tidak mampu sekolah (dus mereka buta huruf), kemudian
ditampung badan sosial yang sebetulnya kriminal itu,
mengkaryakan anak-anak yatim piatu sebagai pengemis
kota. Bagaimana kemajuan India mengabaikan mereka
yang miskin. Bagaimana sulitnya menerobos barier
kasta untuk memperbaiki nasib ekonominya, meskipun
harus ikut TV Game Show sekalipun. Bagaimana kakak
beradik dan putri itu terpisahkan, dan berakhir dengan
happy dan sad-ending sekaligus.

Para pemainnya (yang anak anak kecil) adalah anak lokal
dari daerah kumuh itu juga, dan sampai sekarang masih
tinggal didaerah itu. Mereka bermain sangat natural.
Ini mengagumkan. Di film itu juga tersirat Cinta itu
mampu bertahan dalam kemiskinan. Tentu saja bukan
film India kalau tidak ada tarian Bollywood.

Berlawanan dengan dugaan banyak orang, film
ini adalah adaptasi dari novel penulis
dan diplomat India, Vikas Swarup, yang memenangkan
hadiah Boeke Prize dan pernah dinominasikan untuk
Commonwealth Writers Prize. Novel ini kemudian
diadaptasi oleh Simon Beaufoy screen writer yang
ternama. Untuk menjiwai tulisan itu Beaufoy melakukan
riset di India (tiga kali berkunjung disana) dan
melakukan interview serta mengamati kehidupan
"anjing kumuh" India tempat film itu dibuat.
Apa yang dikatakan Buaufoy sangat menyentuh,
"I wanted to get (across) the sense of this
huge amount of fun, laughter, chat, and sense
of community that is in these slums. What you
pick up on is this mass of energy."
(Terjemahan bebas: Saya ingin menyampaikan luapan
rasa kegembiraan, tawa, canda, dan rasa kekeluargaan
yang hadir di daerah kumuh ini. Apa yang kita
petik disana adalah energi yang luar biasa).


Salam

Read more...

Kemungkinan DO bagi mahasiswa Geodesi , Agun, Putu, dan Zahril

>> Tuesday, February 24, 2009

From: Harry Kusna
Subject: [IA-ITB] Kemungkinan DO bagi mahasiswa Geodesi , Agun, Putu, dan Zahril.
To: "alumni itb"
Date: Sunday, 22 February, 2009, 12:11 AM


Agun, Putu, dan Zahril adalah 3 mahasiswa Geodesi ITB yang dianggap bertanggung- jawab atas meninggalnya Dwiyanto Wisnugroho (19) pada saat mengikuti kegiatan pelantikan anggota baru Ikatan Mahasiswa Geodesi(ITB) . Mereka terancam dicabut statusnya sebagai mahasiswa ITB secara permanen, atau dengan kata lain di DO dari ITB. Bagi mahasiswa, DO identik dengan hukuman mati, karena DO akan mengakhiri kesempatannya untuk hidup di “Negara ITB”
Selagi keputusan DO untuk ketiga mahasiswa tsb belum dijatuhkan, perkenankanlah saya, sebagai salah seorang orang tua yang pernah mempunyai anak yang bersekolah di ITB dengan segala suka-dukanya, memohon dan berharap agar keputusan DO yang mungkin akan dijatuhkan dapat ditinjau kembali.
Saya kira, bagaimanapun pihak ITB benar, bahwa ada kesalahan yang telah dilakukan oleh ketiga mahasiswa Geodesi tsb, dan untuk setiap kesalahan, setiap orang tahu bahwa ada hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka yang bertanggung- jawab atas kesalahan tersebut. Tetapi kalau kita kembali kepada pemikiran akan hakikat/tujuan sebuah hukuman, walaupun saya bukan seorang ahli hukum, tetapi saya berpikir bahwa hukuman itu hakikat/tujuannya ant. lain adalah: (ini asumsi saya saja ...)
- Untuk membuat seseorang jera dan tidak akan berbuat lagi,
- Untuk membuat orang lain takut untuk melakukan kesalahan yg sama,
- Untuk melegalitaskan balas dendam, ganti kerugian, dengan dasar keadilan
- dan juga mungkin ini yg terpenting bagi saya, untuk membina/membentuk kembali /mengembalikan memberi tahu orang yg salah tsb kepada jalan ygseharusnya.
- dst, tolong dikoreksi apabila saya salah, atau ditambahkan bila ada yang kurang
Berat ringannya hukuman bagi yg bersalah saya kira ada tahapannya. Yg terberat adalah hukuman mati, yg berdasarkan pemikiran diatas, hukuman mati hanya diberikan jika dan hanya jika:
- Orang yg bersalah tsb sudah betul2 tidak dapat diharapkan lagi kembalike jalan yang lurus, atau
- orang yg bersalah memang sudah betul2 sedemikian berbahaya bagi lingkungannya sehinggaperlu dimusnahkan, atau
- memang diperlukan hukuman sedemikian beratnya agar orang lain-pun takut untuk melakukan kesalahan yg sama.
Kalau kita memakai analogibahwa DO=hukuman mati ("di negara ITB"), maka apakah benar ada salah satu kondisi “jika” yang terpenuhi dalam kasus ketiga orang mahasiswa Geodesi tsb sehingga mereka perlu dimusnahkan dari ITB???
Kondisi pertama dan kedua rasanya tidak terpenuhikarena pasti perbuatan ini bukan perbuatan yang sudah berulang kali mereka lakukan, tetapi kondisi yg ketiga apakah memang terpenuhi, apalagi kalau hal itu memang benar dianggap suatu kecelakaandan bukan kesengajaan / kejahatan??
Jika ketiga orang mahasiswa tsb dikeluarkan dari ITB, ITB tidak hanya akan kehilangan satu orang mahasiswanya, Dwiyanto Wisnugroho, tetapi ITB akan kehilangan 4 orang, dan ini merupakan kerugian bagi Indonesia. Bagi keluarga yang mempunyai seorang anak yang sedang belajar di ITB, dan juga bagi mahasiswanya itu sendiri, ITB adalah segalanya bagi mereka. Tidak terbayangkan bagaimana hancurnya perasaan mereka jika kesempatan untuk belajar di ITB ini diputus.
Mungkin saya terlalumelebih- lebihkan ITB, tetapi pada intinya, saya hanya ingin memberikan gambaran tentang sebagian kerugian, dan penderitaan yg diakibatkan oleh sanksi tsb.
Dan apakah memang sanksinya harus seberat itu? Apakah tidak ada hukuman lain yg lebih baik, seperti misalnya katakanlah ada sesuatu cara (mungkin ini juga hukuman bagi mereka) yg membuat mereka2 yg bersalah menjadi lebihberkewajiban moril terhadap orang tuanya Dwi, untuk meringankan kesedihanorang tua Dwi tsb. Saya memahami bagaimana sedihnya orang tua Dwi, namun saya rasa mereka akan sependapat dengan saya bahwa dengan ketiga orang tsb dipecatpun, penderitaanmereka yg kehilangan Dwi tidak akan berkurang. Tetapi seandainyaditanamka n kepada ketiga orang tsb bahwa ada sebuah keluarga yg kehilangan anaknya karena kesalahan mereka, dan disadarkan kepada mereka apabila mungkin mereka berkewajiban mengambil alih tanggung jawab Dwi kelak atas keluarganya tersebut, maka hal ini saya kira akan lebih bermakna. Semoga.

Wassalam,
Harry Kusna - ITB75

Read more...

Fenomena Ponari

>> Saturday, February 21, 2009

From: Bambang Setiawan
To: ia-itb
Sent: Saturday, February 21, 2009 12:52 AM
Subject: [IA-ITB] Fenomena Ponari



Bagi mereka yang mungkin kelewat, tidak membaca atau menyimak televisi akhir-akhir ini, berikut ini saya ringkas berita mengenai Ponari.

Ponari adalah seorang anak berumur 10 tahun, berdomisili di Jombang, Jawa Timur. Penduduk sekitarnya percaya bahwa Ponari mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Cara pengobatannya sederhana, sebuah batu direndam dalam air, lalu si pasien meminum air tersebut.

Ribuan orang sampai berdesak-desakan ingin berobat pada Ponari. Sudah tiga orang meninggal karena berdesak-desakan. Ponari pernah dilarang buka praktek, polisi berjaga-jaga disitu, tapi penduduk tetap datang. Ketika penduduk tahu bahwa Ponari tidak bisa menemuinya, mereka mengambil air yang mengalir keluar dari rumah Ponari. Mereka percaya bahwa air comberan itu pun bisa menyembuhkan. Bahkan lumpur di sekitar rumah Ponari pun, setelah dicampur dengan air, dipercaya bisa menyembuhkan.

Fenomena Ponari adalah potret masyarakat kita yang ingin serba instan. Keinginan untuk serba instan bukan hanya terjadi pada bidang kesehatan, tapi juga pada karir di tempat kerja, penguasaan materi pelajaran di sekolah, bisnis, atau jodoh. Padahal kesehatan kita hari ini adalah hasil dari gaya hidup (termasuk pola makan) kita selama 30 tahun terakhir. Kalau kita sekarang menderita diabetes sehingga harus menakar porsi nasi yang dikonsumsi, sebenarnya menakar konsumsi karbohidrat itu harus sudah dilakukan sejak sepuluh tahun yang lalu, tapi kita tergoda untuk tetap berfoya-foya.

Persoalan lain yang menimbulkan fenomena Ponari adalah karena pekerja kesehatan tidak bekerja dengan pendekatan ”pendampingan”

Pendekatan ”pendampingan” sudah pernah berhasil dalam kasus produksi padi pada masa Orde Baru. Petani kita didampingi oleh PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) yang menyampaikan the best practice dalam menanam padi. Dengan cara ini Indonesia bisa membalik situasi, dari negara pengimpor beras terbesar di dunia menjadi swasembada

Kalau negara kita ingin berhasil dalam meningkatkan kesehatan, maka pendekatan ”pendampingan” sebaiknya diterapkan. Dari dulu saya suka ingin bertanya pada dokter, kalau saya sakit, apa yang salah dalam cara hidup saya sampai saya sakit begini. Tapi selalu mentok pada waku yang dijatah pada saya. Dengan bahasa tubuhnya dokter bilang bahwa jatah waktu saya sudah habis, di luar belasan pasien masih menunggu.. Memang tidak semua dokter begitu, dokter langganan ibu saya akan melayani pertanyaan ibu saya sampai dia puas.

Dulu pernah ada konsep tentang dokter keluarga. Satu dokter mendampingi beberapa keluarga. Tapi entah kenapa, sepertinya konsep ini tidak pernah terdengar lagi.

Anda pasti bukan orang yang ada dalam strata ekonomi yang sama dengan pasiennya Ponari, jadi pasti tidak punya masalah dengan biaya kesehatan. Penghasilan yang besar ditambah dengan berbagai asuransi kesehatan yang anda ikuti akan membuat anda bisa jauh lebih rasional ketimbang pasiennya Ponari. Tapi mungkin saja anda punya kebiasaan ”ingin serba instan’. Kalau anda punya kebiasaan itu, ingatlah satu hal yang kita pelajari sejak SMA: preventif itu lebih baik ketimbang kuratif. Walaupun teknologi kedokteran sudah semakin canggih, tetap saja operasi cangkok ginjal, operasi bypass pembuluh darah, dan berbagai operasi sejenis, kans selamatnya tidak 100%. Mau mencoba ....?

Bermigrasi ke pendekatan ”pendampingan” tidak mudah. Perlu jumlah tenaga kesehatan yang lebih banyak, dan mempunyai karakter yang cocok untuk proses ”pendampingan”.


Bambang Setiawan (TI74)


Yayasan JARIBU
Membangun Indonesia Yang Lebih Baik
Sehat - Cerdas - Mandiri
www.jaribu.or.id

Read more...

Tarif Iklan

>> Friday, February 20, 2009

Tarif Iklan di milis IA-ITB


1. Biaya Iklan Komersial di milis IA-ITB ialah:
- 8 kali tayang sebulan (atau setara dengan 2 kali tayang perminggu)
sebesar Rp. 1.000.000

2. Discount 20%
- Discount sebesar 20% jika mendaftar sebelum tanggal 25 Februari 2009


3. Syarat dan Ketentuan:
- Cantumkan judul - Iklan Komersial: (Judul Iklan)
- Judul Iklan tidak boleh huruf besar semua
- Dikirim 2 kali seminggu
- Desain iklan menarik di bawah 150 KB per email

Read more...

[IT OUTSOURCE] Looking for Partner

From: Sasongko
To: IA-ITB@yahoogroups.com
Sent: Friday, February 20, 2009 5:19 PM
Subject: [IA-ITB] [IT OUTSOURCE] Looking for Partner

Dear All,

Perusahaan saya ingin meng-outsource pekerjaan development untuk
beberapa component di project yang saat ini kami tangani. Technology
environment yang digunakan adalah .NET.

Kepada rekan-rekan yang berminat silahkan mengajukan penawaran dengan
menguhubungi :

sasongko@ebdesk.com atau dicky@ebdesk.com

Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.



Regards,

Sasongko Yudho

Read more...

Contoh kiprah Petrobras, Brazil

>> Tuesday, February 10, 2009

From:
To:
Sent: Wednesday, February 11, 2009 10:46 AM
Subject: Re: [IA-ITB] Re: Pushing Pertamina to become world class company

Satyo, contoh yang baik bagi Pertamina bukan petronas. Perusahaan ini banyak ranjau politiknya yang suatu saat nanti akan meledak. Lebih cocok meniru Petrobras, BUMN Brazil yang sukses mentransformasi diri dari perusahaan negara yang korup dan tidak kompeten menjadi world class oil company yang tak hanya highly profitable tapi juga amat berjasa membuat Brazil menjadi bebas dari impor energi. Ini contoh sukses BUMN di negara besar yang demokratis. Bhm
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Satyo Fatwan"

Date: Wed, 11 Feb 2009 09:20:21
To:
Subject: Re: [IA-ITB] Re: Pushing Pertamina to become world class company


Ngomong-ngomong soal Petro Vietnam, Petronas dan Pertamina, sekitar mid 90s
saya pernah ketemu Prof Ho Si Thuang (maaf ejaannya mungkin salah) yang pada
waktu itu menjabat CEO Petro Vietnam. Ketika tahu saya dari Indonesia beliau
mengatakan "Pertamina used to be our role model.." waktu saya tanya kenapa
"used to be", nah Pak GBZ ini mohon dilihat sebagai bagian dari "brutal
facts", paling tidak untuk Pertamina masa itu, beliau bilang "there is
significant gap between plan and execution". Lalu saya tanya lagi "so who is
your role model now?" Ada yang mau tebak siapa ?? Ya betul, dia menjawab
"Petronas".

Kalau bicara downstream lebih seru lagi, dulu pernah ketemu dengan Tan Sri
Azli Zan (maaf lagi nih kalau salah mengeja), dia waktu itu CEO Petronas.
Waktu di tanya apa visinya dengan gamblang dia bilang, "Satyo, you know the
filling station near the Hilton in jakarta, you know that clover-leaf,
maksudnya semanggi red., ten years from now that will be Petronas station".
Sepuluh tahun sudah berlalu, pompa bensin di semanggi masih Pertamina, TAPI
Petronas sudah mulai hadir di bumi Indonesia.

Banyak harapan diletakkan di pundak Karen dan direksi lainnya di Pertamina.
Semoga tugas yang tidak mudah ini dapat dijalankan dengan baik.

Satyo Fatwan
GM78

ps: catatan pinggir, salah satu problem yang mendasar bagi banyak BUMN
memang intervensi pihak luar yang kadang susah, baca impossible, di bendung.
Bayangkan pernah ada perusahaan penerbangan nasional yang bahkan tidak bisa
menentukan sendiri fleet plan mereka. Mudah-mudahan di era baru ini para
BUMN bisa lebih mengembangkan aspek BUnya secara sehat dan profesional,
ketimbang di tekan sebagai MN.

Read more...

Invitation - Coordinating Forum for Aceh and Nias Exhibition (CFAN), 13 – 14 February, JCC

From: Veriy
To: IA-ITB ; itb@itb.ac.id ; loedroek_perjuangan@yahoogroups.com ; ikasmanca
Sent: Tuesday, February 10, 2009 3:54 PM
Subject: [IA-ITB] Invitation - Coordinating Forum for Aceh and Nias Exhibition (CFAN), 13 – 14 February, JCC

http://www.celebrationofhumanity.org


Dear Friends,

I am forwarding an invitation to the attend the Coordinating Forum for Aceh and Nias Exhibition (CFAN), 13 – 14 February, at the Jakarta Convention Centre.

The exhibition - organized by the Rehabilitation and Reconstruction Agency for Aceh and Nias (BRR) – celebrates achievements and shares lessons learned with all those involved in the reconstruction of Aceh and Nias. It features seminars; art exhibitions; music and dance performances; documentary screenings; children's programmes and workshops.

We would especially invite you to visit the 'One UN' exhibition booth at the celebratory CFAN-4 event. The stand number is Main Lobby (ML) 48 - 55. For more details about CFAN, visit http://www.celebrationofhumanity.org The exhibition is open to the general public, and entrance is free.




With best regards,




--
Veriyanta - http://veriy.net/
*I'm Javanese, I speak Javanese, I Live in Java, but I don't write my programs in Java*

Read more...

Berita IA-ITB: Hendardi jadi Lawyer IA-ITB

From: Kusmayanto Kadiman
To: IA-ITB@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, February 10, 2009 4:13 PM
Subject: Re: [IA-ITB] Berita IA-ITB: Hendardi jadi Lawyer IA-ITB

Apakah jasa dan layanan hukum yang diberikan oleh mas hendardi ini masuk
kategori Pro Bono Publico (Demi Kebaikan Publik) yang lazim dipraktekkan
dikalangan praktisi hukum sebagai wujud giving back to the society alias
CSR?

Bisa juga sebagai The Devil's Avocate (Advocatus Diaboli atau Diabolis
Dei) bagi pengurus IA dalam mencari second opinion atas bergagai kasus
dalam organisasi dan terkait alumni.

Semoga yang terbaik bagi para alumni dan almamater,
KK



On Mon, 2009-02-09 at 21:32 -0800, Eko Nugroho wrote:
> Alumnni ITB yang berbahagia,
>
> Pada hari Jumat tanggal 23 Januari 2009, telah ditandatangani
> Perjanjian Jasa Hukum oleh ada antara Ikatan Alumni ITB yang diwakili
> Sekretaris Jenderal IA-ITB, Freddy P. Zen dan Law Offices Prihartono &
> Partners, R. Dwiyanto Prihartono. Selaku Partner adalah Hendardi
> (T.Sipil 78).
>
> Jasa hukum yang diberikan untuk IA-ITB berupa memberikan konsultasi
> atau nasehat hukum dan/atau pendapat hukum, baik secara lisan dan atau
> tertulis, melakukan legal audit, dan menghadiri rapat-rapat dalam
> rangka pembahasan aspek hukum terhadap ektivitas organisasi IA-ITB
> (termasuk IA-ITB Daerah, Jurusan, maupun Komisariat).
>
> Demikian, informasi ini disampaikan agar diketahui para alumni.
>
> Badan Eksekutif
> PP.IA-ITB
>
> S.Eko N. (MT'94)
> (ka.biro sekretariat)
>
> Sekretariat PP.IA-ITB
> Jl. Taman Patra II No.16
> Telp. 021-52921564/5
> fax. 021-5207573
> SMS Center: 08111495834

Read more...

Undangan Teknopreneur Forum VI, Bisnis Pengelolaan Limbah B3 24 Feb 09

From: teknopreneur@ia-itb.com
To: IA-ITB@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, February 10, 2009 5:37 PM
Subject: [IA-ITB] Undangan Teknopreneur Forum VI, Bisnis Pengelolaan Limbah B3 24 Feb 09


Rekan-Rekan Yth,

Perkenankan kami menyampaikan informasi tentang kegiatan rutin
Teknopreneur Forum, sebagai sarana pertemuan rutin antar pelaku bisnis
berbasis teknologi di Indonesia.

Teknopreneur Forum VI kali ini bertema Peluang Bisnis Pengelolaan Limbah
B3 di Indonesia, bertujuan mendorong pengembangan teknologi dan bisnis di
bidang pengelolaan limbah B3 ini sehingga membantu terciptanya pembangunan
berkelanjutan di Indonesia.

Kegiatan yang terlaksana atas kerja sama dengan Kementrian Lingkungan
Hidup RI ini akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 24 Februari 2009
Tempat : Kantor Kementrian Lingkungan Hidup. Jakarta
Jl. D.I. Panjaitan Kav. 24, Kebon Nanas - Jakarta 13410
Waktu : 14:00 - 17:00 WIB

Sehubungan dengan hal tersebut, kami mengundang Rekan-Rekan yang terhormat
untuk berpartisipasi, berinteraksi dengan para narasumber dalam diskusi,
serta merajut jejaring dalam kegiatan ini.

Kegiatan ini tidak berbayar, cukup mendaftar dan mengirimkan data diri ke
email info@teknopreneur.com atau via fax ke 021-726 1913.

Demikian disampaikan, dengan harapan dapat terajut jejaring pebisnis di
bidang teknologi pengelolaan limbah bersama Rekan-Rekan sekalian.

Salam,

Teknopreneur Indonesia

Read more...

Pushing Pertamina to become world class company

From: Joi Surya Dharma (IDN/PCOSB)
To: enemba2007@yahoogroups.com ; indoenergy@yahoogroups.com ; kuyaog@yahoogroups.com ; migas_indonesia@yahoogroups.com ; meti_ires@yahoogroups.com ; ia-itb@yahoogroups.com ; iaitbjakarta@yahoogroups.com ; medcoenergi@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, February 10, 2009 5:13 PM
Subject: [IA-ITB] Pushing Pertamina to become world class company


Artikel menarik oleh Supramu Santosa, mengenai Pertamina terutama opininya setelah pergantian Presdir-nya.
Semoga program transformasi Pertamina menjadi world class company dapat tercapai sesuai rencana.

Pushing Pertamina to become world class company
by: Supramu Santosa

Pertamina has a new leader. Arie Sumarno has been replaced after three years of service, which is a bit longer compared to those of his predecessors, Widia Purnama (two years), Ariffi Nawawi (one year) and Baihaki Hakim (three years). Pertamina has often experienced changes in leadership. As a mater of fact, repeated change of leadership is counter-productive for the growth of such a big company as Pertamina if it is expected to carry out changes. Continuity is a necessity. A Pertamina new leader willing make comprehensive and substantial changes which are needed for Pertamina to grow and develop into a world-class company needs four to five years to define vision and build a strategy to achieve it.

A new corporate leader needs to deeply study problems faced by the company before making changes and defining a new corporate strategy. As far as a big and complex company such as Pertamina is concerned, a new leader needs at least six months to see, study and understand its problems, strength, weaknesses and opportunities (conducting a kind of SWOT analysis). After that, the leader needs another one year to formulate vision, strategy and comprehensive planning. It needs another year to socialize the vision, strategy and comprehensive planning to all parts of Pertamina’s organization. Thus, two or three years length of time will be spent for the works to devise strategy, planning and socialize them. The remaining two years will be spent to carry out a full-scale implementation of the new corporate strategy. Thus, Pertamina’s board of directors should be given an ample time if they are expected to make comprehensive and substantial changes that are needed to develop Pertamina into “a flagship of Indonesia.” This does not mean that the board of directors would not be able to make changes and do efficiency during the planning period. Such changes, however, are not total and comprehensive in nature.

Pertamina has almost everything needed to become a world leading oil and gas company. Pertamina has upstream assets -- exploration and production assets -- with enormous potentials. Quite a number of international oil and gas companies have been approaching Pertamina for cooperation in view of the potentials. Pertamina’s exploitation and production areas still have a low rate of recovery and thus have potentials to be optimized. The production rate of Pertamina’s exploitation fields could be increased using state-of-the art oil and gas technology. If the exploration is carried out extensively and the exploitation of fields is optimized, the upstream operation will create tremendous value for Pertamina.

Pertamina also has downstream assets – refineries and distribution network – which are spread across Indonesia, something which new downstream newcomers in Indonesia such as Shell and Petronas lack. Imagine how much are the investment and time needed by big companies such as Shell, Petronas and Exxon to build an expansive network such as the one owned by Pertamina. Indeed, the oil and gas law has allowed a free competition in oil and gas downstream sector. Yet, Pertamina has been far ahead of its competitors. Although Pertamina has been given by the government a “social mission” of distributing fuel across the country, the downstream business will still be able to contribute a lot to its growth if it is well and efficiently managed.

In terms of human resources, Pertamina has a workforce which is experienced in all sectors. Many people are skeptical about Pertamina’s workforce. Thanks to a long interaction with Pertamina, the writer knows well that Pertamina has a lot of talented, resourceful and professional workers. What is needed is the creation of working environment and cultural changes where Pertamina’s human resources can work professionally and do their best. Cultural change should be part of Pertamina’s new corporate strategy. If anything, the cultural change is as important as other changes of business strategy. The new culture should make all Pertamina workers have a strong commitment towards corporate culture and strategy. The new culture should also instill pride and sense of belonging into all Pertamina workers. This is a hard but very important task of Pertamina’s new leader.

Pertamina is a big and complex company mired in political interests. Thereby, a Pertamina leader should have a strong leadership and personality, a broad perspective and experience and a long-distance vision and a high entrepreneurship. A broad knowledge about oil and gas is an advantage, but not a must.

Thanks to all the strength, under a competent and professional management, Pertamina must and will be able to develop itself into a world well-respected oil and gas company as long as the government gives it a chance and encourages it to grow.

Give Pertamina a chance to invest in upstream and downstream sectors. With such big assets and potentials, Pertamina will face no difficulties to raise funds for development, either through cooperation with strategic partners or other types of funding.

Also needed is a political will of all concerned parties, particularly political powers, to support, encourage and give chances for Pertamina to healthily grow. Give Pertamina’s management a freedom to make policies and decisions like other world oil and gas companies without much intervention from political decisions. Let Pertamina be tightly supervised by a competent Board of Commissioners, state comptroller (BPKP) and independent auditors rather than the House of Representatives (DPR) and the Cabinet. Thus far, Pertamina’s leaders have been forced to spend too much time to prepare for and attend meetings with the DPR and the government. There has been too much political intervention in Pertamina’s policies, sometimes related to small things such service and goods provision. Such activities take time that Pertamina’s leaders have not much time left to think about and conduct strategic works that need high concentration.

Indeed, Pertamina has a task of supplying and distributing fuels across the country, whose prices are determined by the government and partly subsidized. The price and subsidy, which are the products of political decisions, should not hurt Pertamina’s balance sheet and Pertamina should be allowed to get economic benefits from the activity. A profit for Pertamina is in the end a profit for the government as the shareholder, isn’t it? Domestic fuel distribution remains the most sensitive issue and, as it turns out, this activity determines how the government and the public judge the whole performance of Pertamina. Because of it, Pertamina’s management should place a reliable system and team with a continuous monitoring. Don’t ever allow delays in fuel and LPG supplies to occur! With a good system and monitoring, this is certainly not difficult to do. Pertamina will face fewer criticisms if it is able to perform the task of fulfilling fuel demands. This, in turn, will enable the management to concentrate on business expansion.

We all hope Pertamina can develop itself better than Petronas and compete with other multinational companies. Thus, give Pertamina a freedom to act like other oil and gas companies! Give Pertamina’s leaders enough authority and time to carry out its vision, of course under an effective and close supervision from a professional board of commissioners! To the new leader of Pertamina, keep up the good work!

Note: The writer is an oil and gas executive; observer of oil, gas and energy; and the former Vice President of Indonesia Petroleum Association.

Kind Regards,
Joi Surya Dharma

E&P Strategy Unit (EPSU)
PETRONAS, Tower 1 Level 11
Mobile: +60143253817

Read more...

Re: Apa yang menarik di Vietnam ?

>> Monday, February 9, 2009

From: nugroho_putra_susanto@bat.com
To: IA-ITB@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, February 10, 2009 8:45 AM
Subject: Re: [IA-ITB] Re: Apa yang menarik di Vietnam ?



Dear Pak Erik & rekan,

Selamat pagi dan salam kenal.

Saya pernah berkunjung ke HCMC 3 kali dalam 2 tahun terakhir.

Kalau boleh sharing, menurut saya HCMC itu kota yg eksotis (sebenarnya tidak menggambarkan Vietnam secara keseluruhan).
Bagian dari propinsi Saigon, yg terletak di sebelah timur bagian Selatan benua asia (dengan bentuk geografis menyerupai huruf S), terkenal karena sisa-sisa perang US-Vietnam.

Bila kita ke HCMC melalui udara, kita akan melalui bandara Tan Son Nhat (kalau ndak salah). Seperti bandara di Indonesia, maka begitu tiba, kita segera akan dirubung oleh supir yg menawarkan jasa taksi atau ojeg. Di HCMC, USD bisa digunakan untuk berbelanja atau alat pembayaran. jadi ndak heran, untuk turis asing, mereka akan pasang harga dengan USD.

Keluar dari Bandara, kita akan disambut oleh pemandangan unik, menurut saya hampir 99% pengguna jalan adalah sepeda motor. Ya, bahkan sulit sekali untuk orang yg baru ke Vitenam untuk menyebrang jalan. Semuanya penuh sesak dengan motor.
Kata orang, kita tinggal nyebrang saja, semua motor akan menyesuaikan, jangan berhenti di tengah-tengah bila tidak ingin ada kecelakaan. Dan ajaibnya hal itu benar lho.... Saya bisa nyebrang jalan dengan selamat (berani menyebrang jalan di HCMC adalah modal pertama)... =)

Pusat kota HCMC adalah wilayah yg aman. Banyak turis berjalan-jalan di kota baik berkelompok ataupun sendirian. Polisi banyak dan tersebar.
HCMC merupakan salah satu kota dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di Asia. Pastinya revenue HCMC dari tourism sangat tinggi. Apalagi, banyak sekali industri2 yg memindahkan pabriknya ke Vietnam atau membuka usaha baru di Vietnam. Sungguh kemajuan yg luar biasa.

Hotel banyak & mudah di HCMC, saya sempat stay di Caravelle, hotel yg bagus dan "bersih". Terlepas dari "bisik-bisik" orang ttg kehidupan malam di HCMC, kota ini adalah benar2 kota Asia dan sangat kental dengan budaya perpaduan antara budaya dataran China dan Asia tenggara.

Siang hari, kita bisa berbelanja di pasar Bentang (sangat dekat, walking distance) dari Caravelle hotel. Pasar tersebut adalah pasar tradisional. Menjual souvenir Vietnam (relatively cheap things) dan bahan masakan. Mulai dari baju, cendera mata, hingga daging mentah.
Salah satu cendera mata yg banyak dicari adalah kaos (T-Shirt) warna merah dengan gambar bintang kuning ditengah2nya (lambang bendera Vietnam).
Atau baju tradisional Vietnam untuk wanita.

Pada malam hari, kita bisa menikmati sea food yg enak dan masakan tradisional Vietnam tepat di sebelah pasar Bentang tersebut. Wah, nikmat... ngga kalah dengan sea food kita. =) Harganya ndak moderate lah.

Untuk lebih memahami dan empati terhadap perang Vietnam, kita bisa mengunjungi Cu Chi tunnel, tempat di mana orang2 Vietkong berlindung di lubang2 untuk menghindari dan menjebak tentara Amerika. Bayangkan lubang tersebut hanya sebesar pinggang orang2 Vietnam (yg mayoritas lebih kecil dari pinggang kita), jadi bagaimana mungkin tentara Amerika (yg besar2 itu) bisa masuk ke lubang persembunyian tersebut.

Demikian dulu deh... Selamat jalan2 ke HCMC, Pak.
Oh ya, saran nih, sebaiknya jangan memberikan sepatu kita bila ada yg menawarkan jasa penyemiran sepatu. Banyak yg mengatakan, bahwa mereka akan membawa lari sepatu kita.


With Kind Regards,
Nugroho Putra Susanto (o'o)
EL95

Read more...

Ungkapan Hati seorang Sitar Player

From: Boi Sormin
To: IA-ITB@yahoogroups.com
Sent: Monday, February 09, 2009 8:12 PM
Subject: Re: [IA-ITB] Dr. (HC) Bagi Yudhoyono tak Terkait Pilpres 2009


Sebagai rasa salut saya kepada SBY, malam minggu saya membeli 1 CD-nya. Lagu2 yg disajikan dalam bentuk instrument menggambarkan niat baiknya sebagai composer. Setelah mendengar, bisa dirasakan lagu2 tsb tercipta dan menyuarakan denting 6-dawai gitarnya (guitar based).

Sayangnya Jockie S dan kawan2, sebagai arranger, tidak terlalu baik pada penekanan musiknya. Lagu2 semacam ini seharusnya digarap oleh Dewa Bujana, atau Tohpati yg lebih mengerti karakter gitar.

Kelebihan seniman seperti SBY, seperti halnya seniman lain adalah memiliki indra ke-6 (hati). Hatinya mengindera bahwa Dr HC dari ITB tidak pas untuknya. Lebih baik mengecewakan 1 atau 2 orang, dari pada menghancurkan hati puluhan ribu alumni ITB.

Saya yakin SBY tidak berpolitik (what for?), tetapi ada orang lainlah yang tidak beres.

Salam,
Sitar Player

Read more...

Kalau peneliti Universitas Jember mampu kurangi ketergantungan pada impor terigu US $ 1,5 milyard, peneliti ITB pasti lebih bisa

From: Triharyo Soesilo
To: itb77@bhaktiganesha .or.id; IA-ITB@yahoogroups. com; iaitbjakarta@ yahoogroups. com
Sent: Saturday, February 7, 2009 9:12:17 PM
Subject: [IA-ITB] Kalau peneliti Universitas Jember mampu kurangi ketergantungan pada impor terigu US $ 1,5 milyard, peneliti ITB pasti lebih bisa


Sebagaimana diketahui, untuk membuat Mie, Kue dll, Indonesia saat ini mengimpor 100% gandum dari luar negeri sebanyak kira-kira 4,5 juta ton per tahun.
Setiap harinya Rakyat Indonesia sangat tergantung dari pasokan gandum impor yang harganya saat ini sangat bervariasi yaitu antara US $ 220 s/d US $ 300 per ton Sehingga untuk bisa makan Supermie, kita membayar per tahunnya kira-kira US $ 1 s/d 1,2 Milyard.

Tidak hanya itu, Industri tepung terigu Indonesia , hanya bisa mengkonversi
maksimum 4,5 juta ton Gandum menjadi 3,4 juta ton tepung Terigu.
Sedangkan seluruh rakyat Indonesia memerlukan sekitar 3,5 s/d 4 juta ton tepung Terigu per tahunnya. Sehingga untuk menjaga harga, saat ini kita masih mengimport sekitar 500.000 ton tepung terigu tambahan dari berbagai Negara seperti Turki, Srilanka dan Australia.
Harga tepung terigu ini sekitar US $ 450 s/d US $ 600 ton/tahun. Jadi per
tahun-nya Indonesia mengimpor tambahan tepung terigu (selain impor gandum), sebesar US $ 0,2 s/d US$ 0,3 Milyard.

Jadi untuk kita bisa makan Bakmi Gajah Mada ataupun Dunkin Donut,
Rakyat Indonesia selama ini membayar sebesar US $ 1,2 s/d US $ 1,5 Milyard per tahunnya.

Melihat kondisi seperti itu, para insinyur praktisi di PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS)
mengambil inisiatif yang menurut saya cukup spektakuler. Mereka mengajak para
peneliti Mikrobiologi di Universitas Jember untuk membuat terigu dari Ketela.
Doktor Subagyo dari Fakultas Teknologi Pertanian dari Universitas Jember dan
para insiyur di PT TPS, bersatu-padu untuk mengkonversi ketela, yang banyak
ditanam di Indonesia, menjadi tepung terigu pengganti terigu dari Gandum.

Caranya adalah sangat unik dan sangat sederhana. Ketela setelah
dipanen, diproses secara Mikrobiologi (fermentasi) di desa tempat produksi dan
digiling menjadi tepung di lokasi. Tepung terigu dari ketela ini kemudian baru
dibawa ke pabrik pembuatan mie dan biskuit setelah berbentuk tepung terigu.
Salah satu desa yang telah mampu “diubah” menjadi lokasi industri
tepung terigu menggunakan ketela, adalah desa Trenggalek (lihat foto-foto).

Tahapannya sangat sederhana :

1. Ketela dipotong-potong & dikuliti lalu dimasukan kedalam karung
2. Karung yang berisi ketela tersebut di-“fermentasi” dalam bak beton (lihat foto kiri atas)
3. Setelah di-fermentasi beberapa hari, potongan-potongan ketela kemudian dikeluarkan dari karung dan dijemur menggunakan matahari menjadi semacam chip (lihat foto kanan)
4. Chip yang sudah relative kering digiling menjadi tepung (foto kiri bawah). Tepung ini kemudian dikirim ke pabrik Biskuit atau pabrik Mie sebagai pengganti tepung terigu dari Gandum.
Dengan cara ini ada berbagai efek manfaat (multiplier effect). Petani
ketela bisa memproduksi produk terigu yang jauh lebih mahal harganya, dari
harga jual ketela biasa. PT TPS tidak harus mengimport terigu dengan harga yang
sangat mahal, terutama karena nilai US $ semakin menguat. Disisi lain Indonesia
bisa menghemat devisanya.

Kenapa saya menjadi tahu tentang teknologi dan bisnis ini, karena para
pimpinan PT TPS datang ke kantor kami dan meminta bantuan perusahaan kami untuk
“membesarkan” operasi mereka. PT TPS berminat untuk melakukan
“multiplikasi” unit-unit pembuatan tepung terigu ke sebanyak
mungkin desa. Saat ini mereka sudah berhasil mengkonversi 30% tepung terigunya
dari Gandum ke Ketela. Dalam 2 s/d 3 tahun mendatang, mereka mentargetkan
100 % tepung terigu-nya berasal dari ketela. Berarti PT TPS akan sama sekali
tidak tergantung kepada terigu impor. Pada saat uji-coba rasa (taste test),
team kami tidak bisa membedakan mana biskuit ataupun mie yang menggunakan
tepung terigu dari Ketela dan mana yang menggunakan tepung terigu dari Gandum.

Mudah-mudahan “sharing” sederhana diatas bisa menumbuhkan
semangat para peneliti dimanapun anda berada.

Salam
Hengki

Nb : Ada
sebuah catatan kecil terhadap karier Dr Subagyo. Pada tanggal 14 Januari 2009, Universitas
Jember memutuskan
untuk menunda lagi gelar Professor bagi dirinya. Hal ini sudah terjadi 2
tahun berturut-turut. Walaupun seluruh persyaratan administrasi telah ia
peroleh & reputasi nasional serta internasional telah ia miliki, namun Subagyo
tetap tidak memperoleh gelar Professor dari Universitas Jember. Menurut
berbagai sumber, ia suka demo & tidak loyal.

Read more...

Dr. (HC) Bagi Yudhoyono tak Terkait Pilpres 2009

>> Saturday, February 7, 2009

From: Betti Alisjahbana
To: ia-itb
Sent: Friday, February 06, 2009 6:47 PM
Subject: [IA-ITB] Dr. (HC) Bagi Yudhoyono tak Terkait Pilpres 2009



Rekan Miduk,


Menurut peraturan ITB, proses pengusulan Doktor HC berada di wilayah Eksekutif, Senat Akademik (SA), dan Majelis Guru Besar (MGB).
Secara garis besar prosesnya; eksekutif sesuai aspirasi yang muncul menyampaikan surat kepada Senat Akademik, SA melakukan pengkajian, pembahasan, termasuk meminta pertimbangan MGB. Dengan pertimbangan MGB tersebut SA memutuskan, dan jika diteruskan, SA bersama MGB menetapkan Tim promotor.



Saya memang sangat keberatan dengan rencana pemberian ini, terutama dari segi timingnya yang mendekati Pemilu. Oleh karenanya saya memohon agar kalaupun gelar kehormatan ini akan diberikan, hendaknya diberikan sesudah pemilu. Dengan demikian, ITB tidak terkesan membantu salah satu kandidat presiden peserta pemilu untuk memenangkan pemilu. Hari ini saya mendapatkan kepastian bahwa pemberian gelar tersebut akan diberikan sesudah Pemilu.


Mengenai bidangnya, sebelumnya sempat dikatakan bahwa bidang nya adalah TIK. Sebagai salah satu pemain di bidang TIK saya sangat keberatan. Saya tidak melihat kemimpinan SBY di bidang TIK yang pantas untuk di anugerahi Dr HC. Informasi terakhir yang saya terima, bidangnya bukan TIK. Di dalam berikta Kompas hari ini tertulis sbb :


Menurut Djoko, pemberian gelar ini merupakan keputusan institusional dan sebelumnya telah melewati serangkaian proses telaah akademis di
Senat Akademik. "Salah satu alasan pemberian gelar itu karena beliau ini menunjukkan adanya hardwork, clean government, cermat, dan menghasilkan improvement di dalam membangun industri teknologi di
Indonesia."


Artikel selengkapnya saya sertakan di bawah ini. Sejauh ini pengetahuan saya soal bidang pemberian HC ini sangat minim, karena hanya Eksekutif, Senat Akademik dan MGB yang membahasnya.


Itu saja respon yang dapat saya sampaikan. Terima kasih.


Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana
http://QBheadlines.com/




http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/06/00440359/itb.akan.anugerahkan.doktor.hc.ke.yudhoyono

Bandung, Kompas - Institut Teknologi Bandung bersikeras akan
memberikan anugerah gelar doktor kehormatan (honoris causa) kepada
Susilo Bambang Yudhoyono tepat pada Peringatan Dies Emas ITB pada 2
Maret mendatang. Namun, rencana ini masih menuai kritik dan pertanyaan
dari para sivitas akademika ITB, khususnya alumni.

Rektor ITB Djoko Santoso ditemui Kamis (5/2) mengatakan, pemberian
anugerah doktor kehormatan kepada Yudhoyono sengaja dilakukan
bertepatan dengan Dies Emas (50 tahun) ITB dan 89 tahun pendidikan
teknologi di Indonesia. Momentum ini sangatlah tepat dijadikan
kesempatan untuk memberikan penghargaan kepada orang yang istimewa
yang dianggap telah ikut memajukan teknologi.

Menurut Djoko, pemberian gelar ini merupakan keputusan institusional
dan sebelumnya telah melewati serangkaian proses telaah akademis di
Senat Akademik. "Salah satu alasan pemberian gelar itu karena beliau
ini menunjukkan adanya hardwork, clean government, cermat, dan
menghasilkan improvement di dalam membangun industri teknologi di
Indonesia." Ia membantah penganugerahan doktor HC ini sarat bermuatan
politis.

Ketua Senat Akademik ITB Yanuarsyah Haroen mengatakan, proses
pengajuan gelar doktor HC kepada Yudhoyono dilakukan sejak 16 April
2007. Keputusan memberikan gelar doktor HC dihasilkan pada Sidang
Pleno Senat Akademik pada 16 Januari 2009.

Ia mengatakan, putusan dihasilkan secara aklamasi dari 33 anggota
senat. Ia mengatakan, alasan pemberian gelar HC ini dilakukan atas
dasar pertimbangan, Yudhoyono memiliki visi yang baik bahwa negara ini
harus maju dalam bidang teknologi.

ITB dikenal sangat selektif dalam menganugerahi HC. Sejak ITB berdiri,
hanya empat orang yang dianugerahi doktor HC, yaitu mantan Presiden
Soekarno, tokoh asal Vietnam Ho Chi Minh, mantan Dirjen Pertambangan
Umum Sutaryo Sigit, dan mantan Menteri Perindustrian Hartarto.

Mantan aktivis ITB Fajroel Rachman mengatakan, pemberian gelar HC
mestinya untuk tokoh yang diakui kapabilitasnya, tidak menimbulkan
polemik dan tidak lagi memegang jabatan. (JON)

Read more...

Untuk Cinta Yang Tertinggal di Gerbang Ganesha

From: 99Venus Team
To: IA-ITB@yahoogroups.com
Sent: Friday, February 06, 2009 10:17 PM
Subject: [IA-ITB] Untuk Cinta Yang Tertinggal di Gerbang Ganesha



Huuu......
Esok ku 'kan pergi.
Tapi kuberjanji diriku kembali
Untuk Cinta yang Tertinggal di Gerbang Ganesha

Hasta la vista mi amor. Penuh cinta
Dihariku kan kembali.
Kan kuingatkan janji cintamu di Gerbang Ganesha



Ada oleh-oleh nih dari Paiz, mantan mahasiswa ITB yang tidak lulus.
Dia dapat inspirasi bikin lagu sepulang mengembara.

Klik http://www.imeem.com/shirleydewist/music/hKIpyfJj/fariz_rm_barcelona/
untuk membuka oleh-oleh dari Paiz dan mendengarkan getar permainan gitar flamenco.




Selamat mendengarkan,

:-)
99Venus Team

--------------------------------------------------




BARCELONA
(Fariz RM)

Gemerlap Pesta Kota
Seolah Getar Flamenco Mengalun Jiwa
Kududuk Terhanyut Nuansa
Disudut Semarak Plaza Catalonia

Kala Sepasang Mata...
Menatapku Manja...
Mengajak Berdansa
Sapanya "Quiere Usted Bailar Conmigo?"

"Quiere Darme Su Direccion Senorita?"
Kuingin Kau Ajak Serta Malam Ini
"Como Se Pronucia Oh Juwita"
Ingin Kunyatakan Cinta Sepenuh Hati

[Bridge]
Mungkin Esok Kukan Pergi
Tapi Kuberjanji
Pasti Diriku Kembali
Untuk Cinta Yang Tertinggal
Dijantung Barcelona

[Reff]
Peluklah Diriku Mesra... Dalam Cinta
Sebagai Pengikat Rindu
Akan Kukenang Slalu
Cintaku Di Barcelona

"Lo Siento Mucho Senorita"
Kuharus Meninggalkanmu Sejenak Waktu
Hapuslah Airmatamu Kini
Dua Hati Tlah Terpadu Satu Janji

Usaikan Cerita
Malam Yang Tersisa
Ku Tak Kuasa Lagi
Tuk Menunda Waktu
Hidupku Bersamamu

Kecuplah Diriku Kasih... Malam Ini
Angan Yang Tergoda Resah
Srasa Smakin Gelisah
Melupakan Fajar Tiba ...

[Back To Bridge]

"Hasta La Vista Mi Amor..." Penuh Cinta
Dihariku Kan Kembali
Kan Kuingatkan Janji
Cintamu Di Barcelona

[Back To Reff]

Cintaku Di Barcelona ...
Barcelona ...

Read more...

Berburu Kentang

From: Prasetyo Roem
To: ia-itb@yahoogroups.com
Sent: Sunday, February 08, 2009 11:31 AM
Subject: [IA-ITB] Berburu Kentang


Teman2 tentu pernah ngemil chitatos, kripik kentang, kan?
Suatu hari, saya mendapatkan dari teman, kripik kentang rasa keju dibuat oleh Bu Nia pengusaha dari Garut, Wuih, uenak tenan. Beberapa kali saya pesen dan akhirnya penasaran, pengin beli sendiri ke sumbernya di Cikajang, Garut Selatan. Perjalanan ke Garut tidak terlalu jauh, jalannya lancar. Setelah melewati kota, kita menuju selatan, ketemu simpang T, ke kanan ke arah kebun teh, ke kiri ke arah Cikajang dan pantai selatan. Pas di sekitar pasar Cikajang, ada toko khusus menjual oleh2 khas Garut, mulai dari dodol (jenang ketan), dan khusus kripik kentang dengan 2 rasa : original keju atau yang seperti kripik gadung. Saya paling suka yang rasa orisinil. Pemiliknya, Bu Nia ternyata masih muda dan cantik. Langsung beli 4 kilo (16 bungkus @ 250 gram) untuk oleh2. Harganya Rp42rb/kg. Orang2 bilang bahwa kripik ini dibuat dari jenis kentang spesial untuk kripik. Kalau french fries dibuat dari kentang jenis lain lagi dan impor.

Ah masak sih harus dari jenis tertentu? Penasaran, saya coba beli kentang di pasar tradisionil, di-iris2 tipis, dan dicoba dijemur sampai kering. Ditunggu 2 hari ternyata tidak bisa kering, bahkan beberapa lembar menjadi hitam. Wah, gagal deh. Gimana ya supaya bisa menjadi kering dan bisa digoreng?

Penasaran lagi, pergi lagi ke Garut, belajar gimana caranya bikin kripik kentang. Ternyata diijinkan untuk lihat2 dapurnya Bu Nia, tempat produksi kripik kentang.
Ternyata ada 2 cara:
1. Rasa original: setelah di-iris2 direndam dulu 1 jam agar getahnya larut, dan langsung digoreng tanpa dijemur. Hasilnya warna natural agak kekuningan.
2. Rasa gadung: setelah di-iris2 direndam dengan air kapur, baru dijemur sampai benar2 kering, baru digoreng. Hasilnya warna keputihan.

Sampai di rumah dipraktekkan lagi dengan kentang dari supermarket, ya kentang biasa juga sih. Kali ini mengirisnya pakai alat iris (slicer) yang bisa diatur ketebalannya.
Teori 1 dicoba dan ternyata saat menggoreng susah sekali mencari waktu yang tepat kapan kentang cukup kering untuk diangkat. Kalau kurang kering, kripiknya lemes, kalau telat dikit aja, kripiknya gosong. Lha bumbunya apa? Saya rasa cukup dengan garam campur sedikit tepung gula aja sudah cukup enak, agar rasa asli kentangnya masih kuat. Tetapi renyahnya masih kalah jauh dari produk Bu Nia. Tingkat keberhasilan penggorengan hanya 20%, banyak yang masih lemes atau gosong. Mungkin faktor pengalaman dan bisa juga dari jenis kentangnya.

Dari beberapa teman ada info bahwa jenis kentang khusus untuk kripik namanya kentang atlantik dan gak dijual di pasar umum, dan hanya dimiliki oleh perkebunan indofood. Lha Bu Nia dapet jenis kentang tersebut dar mana?

Ada lagi info bahwa ada kentang bagus di pasar swalayan dan disebut kentang Dieng dan harganya cukup mahal, 12rb/kg. Kentangnya besar2, dan cantik2. Dicoba bikin kripik lagi, dan hasilnya cukup bagus, cuma masih agak kaku, dan tingkat keberhasilannya naik menjadi 50%. Udah agak pinter 'kali ya?

Bulan lalu, jalan ke madiun mampir purwokerto dan blusukan ke daerah dieng, maunya mborong kentang barang 25 - 40 kg. Di pasar sebelum wanayasa ada yang jual kentang dalam karung 67kiloan dan gak boleh beli sedikit. Tapi kelihatannya cuma kentang sayur biasa. Di mana ada kentang atlantik? Orang pasar nyuruh hubungi pak xx (lupa) di desa deket dieng. Sampai di desa tersebut, ketemudengan bu xx, dan diberi tahu kalau di Dieng ini ada ditanam 3 jenis kentang:
a. Kentang sayur biasa, dijual untuk umum.
b. kentang atlantik, tidak dijual untuk umum, begitu dipanen, langsung dikirim ke pabrik indofood.
c. kentang agriya, tidak dijual untuk umum, hanya dimiliki pak Tamir. Coba aja beli ke Pak Tamir kalau boleh.

Waduuh, sampai segitunya monopoly kentang ya?

Kami meluncur ke rumah Bu Ety Tamir, dan ternyata bikin dan jualan kripik kentang juga dari jenis agriya. Kami coba beli 2 bungkus @ 250 gram @18rb. Wah mahal juga yah!! Kami mencoba "nempil" kentang mentahnya 4 kilo tapi cuma boleh 3 kilo. Kentangnya memang cantik, dalamnya kuning mentega. Dicoba lagi bikin kripik dan hasilnya memang yahuuuuuud. Renyah, rasa natural kentangnya kuat, walau cuma dg bumbu garam dan tepung gula. Dua butir lagi dibungkus dengan alumunium dan dikukus sampai mateng dan dimakan dengan ayam bakar kecap sebagai pengganti steak, waaaah mak nyus tenan.

Tapi sayang cuma sedikit, mau nambah lagi juga sudah habis.

Nantilah, kalau ada waktu lagi akan coba berburu/cari kentang lagi di daerah Pangalengan, bandung selatan apakah ada jenis atlantik atau jenis lain yang lebih siiiip.

Salam,
Pras

Read more...

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP