Showing posts with label Manajemen Sepakbola Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Manajemen Sepakbola Indonesia. Show all posts

Rakyat (Sepakbola) Keok: “Duet” SBY-Nurdin Halid Menang!

>> Friday, April 2, 2010

Rakyat (Sepakbola) Keok: “Duet” SBY-Nurdin Halid Menang!

Oleh Cardiyan HIS


Namun ini baru pertempuran kecil, perang sesungguhnya belum berakhir. DPR masih bisa melakukan Yudisial Review kepada Mahkamah Konstitusi tentang qorum sidang DPR untuk Hak Menyatakan Pendapat. Dan KONI bisa membekukan PSSI kalau satu bulan ke depan Nurdin Halid tetap bandel dengan Rekomendasi KSN.


Citra SBY melorot tajam gara-gara Hak Angket DPR atas kasus Bank Century. Skor akhir 5-3 dimenangi oleh kubu penentang SBY. Sementara di luar sidang DPR, foto-foto SBY diinjak-injak dan dibakar mahasiswa di banyak kota di Indonesia. Belum lagi ada seekor kerbau tambun di perutnya ditulisi “SBY” dibawa begitu lambannya oleh serombongan demonstran mengelilingi beberapa kali bundaran Hotel Indonesia.

SBY yang terkenal sangat peragu sehingga terkesan sangat sabar, kali ini marah besar terutama soal kerbau itu. Kerbau yang tambun dirasakan oleh SBY sebagai dilambangkan terhadap dirinya yang oleh sebagian masyarakat dikesankan sebagai berbadan besar gemuk yang lamban bekerja, lamban mengambil keputusan meskipun negara sudah di tepi jurang. Tetapi kemarahan SBY pelan-pelan redup seiring DPR reses. Dan politik pencitraan SBY kembali dimainkan. Tim Public Relations SBY boleh dipuji kali ini. Mereka jeli memanfaatkan momentum kemuakan rakyat yang mayoritas penggemar sepakbola terhadap Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI. SBY melemparkan ide perlu Kongres Sepakbola Nasional (KSN) untuk mereformasi prestasi sepakbola Indonesia. Tawaran simpatik dilemparkan ke PWI untuk menyiapkan KSN bersama berbagai lapisan masyarakat penggila sepakbola. Biaya sekitar Rp. 3 miliar, sepenuhnya akan disiapkan oleh Menteri Olahraga dan Pemuda Andi Malarangeng (AM).

Tawaran SBY langsung disambar PWI dan segudang media cetak dan elektronik termasuk Gerakan Sejuta Facebooker; para mantan pemain nasional; para supporter hampir semua klub . Targetnya Nurdin Halid harus digusur sebagai Ketua Umum PSSI. Berbagai berita dan ulasan diekspose besar-besaran bahwa Nurdin Halid adalah biang kerok kemerosotan prestasi sepakbola selama 7 tahun menjabat Ketua Umum PSSI. Nurdin Halid (NH) hanya berprestasi dalam mimpi termasuk mimpi menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022 yang akhirnya kandas.

Dan akhirnya kota Malang ditetapkan sebagai tuan rumah. Habis membuka KSN pada 30 Maret 2010 pagi hari, sore harinya SBY diangkat citranya setinggi langit. SBY didampingi AM antri membeli karcis di-closeup habis cameraman dan photographer. SBY patut dicontoh rakyat Indonesia karena dia adalah rakyat gila bola yang mau antri berdesakan demi selembar tiket menonton sepakbola, padahal dia Presiden RI. Dan manakala sebelum kick off dimulai, lagi-lagi SBY turun dari tribun VVIP ke lapangan meskipun hujan rintik-rintik karena mau menyalami para pemain Arema dan Persitara, padahal dia Presiden RI.

Dan setelah pertandingan Arema vs Persitara selesai dengan kemenangan Arema 2-0, arena sidang komisi organisasi KSN dilanjutkan. Rekan saya; Muhamad Kusnaeni, wartawan koran olahraga terbesar di Indonesia “Topskor” yang semula sudah siap membeberkan konsepnya mewakili blok perubahan urung mempresentasikannya. Terlalu banyak anak buah Nurdin Halid yang menghalanginya untuk bicara, belum begitu banyak “preman” yang berwajah angker pendukung NH berkeliaran di ruang dan di luar sidang yang selalu berteriak lantang kalau peserta sidang bersuara menyudutkan NH.
Maka sudah bisa ditebak: pada tanggal 31 Maret 2010 hari kedua sidang sekaligus hari terakhir KSN, kandungan rekomendasi KSN masuk angin. Semua rekomendasi terlalu normatif. Boro-boro merekomendasikan menurunkan Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI. Bahkan dari segi substansi rekomendasi KSN ini sangat mundur yakni meminta agar kegiatan klub berkompetisi dapat dibiayai oleh Pemerintah melalui dana APBN dan atau APBD. Padahal Persib Bandung yang di kompetisi ISL tahun 2008-2009 dikucuri dana APBD Kodya Bandung sebesar Rp. 33 miliar, sekarang telah mampu mandiri karena Persib punya nilai jual tinggi sehingga banyak perusahaan antri untuk menjadi calon sponsor. Begitu pula Arema Malang yang lebih dulu mandiri bahkan siap mau go public, agar saham-sahamnya dapat dibeli oleh masyarakat luas.

Dan permainan diakhiri dengan kekalahan masyarakat sepakbola Indonesia. Kemenangan politik citra diraih SBY-AM yang berhasil memanfaatkan momentum kuat masyarakat sepakbola membenci kepengurusan PSSI Nurdin Halid untuk mengadakan KSN. Sedangkan kemenangan terbesar dipegang oleh Nurdin Halid tentu saja karena masa jabatannya aman sampai 2011. Bahkan bukan tidak mungkin bisa menjadi Ketua Umum PSSI seumur hidup kalau timas PSSI menjuarai SEA Games 2011 yang akan diselenggarakan di Indonesia. Nurdin Halid yang sekarang status hukumnya sepenuhnya bebas dilawan, sedangkan ketika dia dua kali sedang menjalani hukuman di penjara Salemba, Jakarta saja berhasil menjungkir-balikkan semua kubu lawan antara lain dengan berhasil mengedit statuta FIFA soal status perbuatan kriminal pengurus PSSI!

Namun perang belum berakhir, ini hanya baru pertempuran kecil. SBY masih menghadapi kemungkinan DPR meminta Hak Menyatakan Pendapat. Terlebih suara untuk melakukan Yudisial Review terhadap qorum Sidang DPR akan segera diajukan oleh banyak anggota DPR ke Mahkamah Konsitusi (MK). Kalau hal ini diloloskan MK maka pintu pemakzulan Budiono (SBY) atas kasus Bank Century sangat terbuka kalau mengacu kepada kemenangan telak 5-3 (atau 315 suara anggota DPR penentang SBY).

Nurdin Halid hanya aman-aman saja bila PSSI mampu melakukan reformasi dan membawa timnas juara SEA Games 2011. Tetapi soal reformasi PSSI kita sangat pesimis sebab meskipun sekarang saja sudah ada pelanggaran substansial soal pengangkatan anggota Komite Esksekutif yang tidak sesuai ketentuan FIFA. Begitu juga ambisi timnas juara sepakbola SEA Games 2011 masih fifty-fifty. Kalau semua gagal; resep saya KONI sebagai induk semua cabang olahraga di Indonesia berwenang membekukan kepengurusan PSSI dan FIFA pun tak akan menganggapnya sebagai intervensi. Ayo Bu Rita Subowo(Ketua Umum KONI) jangan takut dengan Nurdin Halid. Para supporter Bobotoh, Bonek, Aremania, Jakmania, Panser dan rakyat sepakbola siap mendukung keputusan KONI.

Read more...

Tim Impian Indonesia Lolos ke Piala Dunia !!!

>> Friday, February 12, 2010

Tim Impian Indonesia Lolos ke Piala Dunia!

Oleh Cardiyan HIS




Keterangan gambar: Timnas Indonesia dipimpin kapten Sotjipto Soentoro (ketiga dari kanan berdiri) bersama Presiden Soeharto sebelum bertanding melawan sebuah tim dari Eropa pada 14 Februari 1970.




Indonesia adalah “Brazil Asia”. Yang ngomong bukan sembarang orang tetapi Ketua FIFA Sepp Blater. Tapi pujian itu hanya didedikasikan untuk tim nasional sepakbola Indonesia yang dikapteni oleh Soetjipto “Gareng” Soentoro. Dan komandan PSSI-nya jelas bukan Nurdin Halid pula tetapi kakak kandung Solichin GP yakni Kosasih Purwanegara.

Pada era 1960-an sampai medio 1970-an, kesebelasan Indonesia memang menjadi kesebelasan elite Asia kalau tak boleh dijuluki “Raja Asia” , yang sangat dihormati oleh kesebelasan-kesebelasan di Asia bahkan Eropa. Padahal modal kas PSSI semata-mata dari keuntungan bersih jualan karcis di stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, manakala Indonesia melawan tim-tim kelas dunia seperti Dynamo Moscow, Dynamo Kiev (dahulu masih Uni Soviet), Santos, Cruzero, Sao Paolo (Brazil), Independiente (Argentina), Cosmos dan Washington Diplomat (USA) dan lain-lain.

Saingan berat Indonesia di Asia hanya Israel (belum masuk zona Eropa), Iran dan Burma (sekarang Myanmar). Jepang dan Korea Selatan yang menjadi langganan Piala Dunia sekarang ini, biasa dipermak habis Indonesia dengan minimal skor 3-0. Bahkan Timnas Taiwan dicukur Indonesia dengan skor telak 11-1 di Piala Merdeka Games, Malaysia, tahun 1968. Jangan tanyalah timnas Thailand, Vietnam dan Singapura karena ketiganya nggak level disandingkan dengan Indonesia. Terlebih negara-negara di jazirah Arab, bahkan mereka “belum tahu cara bermain bola”, maklumlah federasi sepakbola pun mereka belum punya.

Bayangkan saja sejak Piala Merdeka Games yang sangat prestisius di Asia pertama kali diadakan sejak 1954 dan Indonesia yang pertama kali menjuarainya, kemudian Indonesia memenanginya kembali pada tahun 1960, 1961, 1962 dan 1969 (dan tahun-tahun yang hilang di Merdeka Games karena Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia). Rute emas kejuaraan yang dimenangi Indonesia selalu dimulai dari kota Dacca (ibukota Pakistan Timur ketika itu, sekarang ibukota Bangladesh) dimana ada turnamen Agha Khan Gold Cup. Indonesia menjuarai piala Agha Khan ini sejak 1961, 1966, 1967, 1968 dan 1979 (tahun-tahun lainnya Indonesia adalah juara 2). Kemudian tim Indonesia turun ke Bangkok untuk menjuarai King’s Cup dan Queen’s Cup pada tahun 1968 dan 1971 (tahun-tahun lainnya Indonesia selalu lolos ke final). Kemudian timnas Indonesia memenangi Piala Sukan Singapura, bahkan menciptakan All Indonesian Final antara Indonesia A dan Indonesia B pada tahun 1972. Dan terakhir tentu saja main di kandang pada Jakarta Anniversary Cup, yang terakhir dijuarai pada tahun 1972 dengan menundukkan timnas Korea Selatan dengan skor 4-2.

Atas supremasi kesebelasan Indonesia itulah akhirnya Indonesia diminta AFC (Asia Football Confederation) mengirim 5 pemain nasionalnya untuk mengisi skuad “Asia All Stars”. Mereka itu adalah Soetjipto Soentoro (penyerang lubang sekaligus bertindak sebagai kapten), Yacob Sihasale (penyerang tengah), Iswadi Idris (sayap kanan), Abdul Kadir (sayap kiri) dan Yudho Hadianto (penjaga gawang). Sebenarnya AFC berniat memanggil pemain Indonesia lebih banyak lagi seperti stopper Anwar Udjang dan Mulyadi serta gelandang Basri dan Aliandu. Ttetapi AFC tentu saja harus bertindak adil dengan memanggil pemain Asia lainnya meskipun hanya masing-masing satu orang saja.

Apa keunggulan pemain-pemain Indonesia ketika itu? Indonesia memiliki penjaga gawang “sangat kebal” seperti dinobatkan oleh koran “Utusan Malaysia”, Kuala Lumpur dan “Bangkok Post”, Bangkok pada diri Yudho Hadianto. Fisik Yudho sebenarnya tidak terlalu tinggi tetapi dia mampu bermain akrobat yang sangat memukau dengan tetap tak kehilangan akurasinya. Yacob Sihasale adalah striker oportunis dengan sundulan kepala yang sangat luar biasa keras dan terarah disamping kemampuan dribbling, screening dan tendangan yang akurat. Iswadi Idris adalah seorang pemain penuh percaya diri sehingga mampu menggiring bola tak pernah putus melampaui pemain belakang lawan sebelum mengumpan tarik ke striker Yacob Sihasale. Abdul Kadir adalah pemain sayap kiri tercepat di Asia dalam membawa bola maupun tanpa membawa; umpan-umpan dari Kadir inilah menjadi santapan empuk bagi striker Yacob dan second striker Soetjipto Soentoro untuk menciptakan gol-gol spektakuler yang tidak bisa dilihat pada setiap pertandingan. Dan Soetjipto Soentoro tentu adalah pemain istimewa yang pernah dilahirkan Indonesia. Ballskill Soetjipto sangat sempurna; kemampuan menjaga bola (screening) sangat sempurna pula sehingga setiap lawan yang akan merebut bola darinya akan berbuah pelanggaran; tendangan sangat keras dan terarah dari berbagai sudut sempit sekalipun; kemampuan mengecoh dua-tiga pemain belakang sering menjadi makanan hampir pada setiap pertandingan karena memiliki kemampuan “menyulap” bola demikian cepat dan tak terduga. Namun di atas segalanya, Soetjipto memiliki jiwa kepemimpinan, kepercayaan diri dan mentalitas bertanding sangat tinggi sehingga bisa mengangkat permainan tim dalam situasi tertekan sekalipun.

Selengkapnya inilah “Tim Impian Indonesia” yang diyakini oleh penulis bakal “Lolos” ke Piala Dunia seandainya para pemain-pemainnya masih berkumpul utuh seperti di jaman kejayaan Indonesia dulu:

Penjaga gawang: Yudho Hadianto, Yus Etek, Ronny Pasla

Belakang: Yuswardi, Sunarto, Reny Salaki, Mulyadi, Anwar Udjang, Masri, Ishak Udin, Makful, Ronny Pattinasarani, Johanes Auri

Gelandang: Aliandu, Surya Lesmana, Basri, Fatah Hidayat, Bob Hippy, Djunaedi Abdillah, Nobon, Anjas Asmara, Mettu Duaramuri

Depan: Soetjipto Soentoro (Kapten), Yacob Sihasale, Komar, Andjik Alinurdin, Omo, Wowo, Iswadi Idris, Abdul Kadir

Pelatih: Tony Poganik (Pelatih Utama), EA Mangindaan, Endang Witarsa (Asisten Pelatih)

Read more...

Manajemen Sepakbola Indonesia adalah Mismanajemen

>> Sunday, January 10, 2010

Oleh Cardiyan HIS


Tim nasional Indonesia babak belur. Benar-benar babak belur. Hancur-hancur! Bayangkan saja, sejak menjuarai SEA Games 1991 di Manila, Filipina; timnas Indonesia tak pernah juara lagi hanya untuk di kawasan Asean saja. Puncak kehancuran sepakbola Indonesia memang terjadi di masa dua periode kepengurusan Nurdin Halid.
Di kompetisi penyisihan U-19 Asia sebagai tuan rumah, timnas Indonesia gagal masuk dua besar grup Asia karena tersisih oleh Jepang dan Australia. Di SEA Games Laos, timnas Indonesia U-23 bahkan menjadi juru kunci babak penyisihan grup di bawah Laos, Singapura dan Myanmar! Dan paling akhir di penyisihan Piala Asia, timnas Indonesia senior jadi juru kunci setelah dipastikan nasibnya oleh Oman 1-2 di stadion Senayan, 6 Januari 2010 ybl.

Padahal hampir 60 ribu penonton ikut memberikan dukungan penuh. Bahkan seorang penonton fanatik Hendry Mulyadi sampai nekad menerobos penjagaan ketat polisi untuk kemudian merebut bola dari pemain kedua kesebelasan dan menggiringnya sampai berhadapan langsung dengan penjaga gawang Oman yang berhasil membendungnya. Hendry tentu saja gagal “membantu” timnas Indonesia menyamakan skor di menit-menit akhir pertandingan. Tetapi dia telah berhasil mempermalukan pengurus PSSI yang tetap saja tak tahu malu dengan kegagalan demi kegagalan mengelola persepakbolaan di Indonesia.

Menurut penulis, jelas ada mata rantai yang terputus untuk kebangkitan sepakbola Indonesia. Biang utama penyebabnya adalah mismanajemen. Mismanajemen di kepengurusan Nurdin Halid begitu terang benderang. Bagaimana prestasi timnas Indonesia Yunior tidak berlanjut ke prestasi timnas Indonesia Senior. Nah, kalau pun mulai tahun 2009 ini ada kompetisi Indonesia Super League (ISL) U-21. Tetapi gregetnya belum meyakinkan. Karena ternyata tidak semua dari 18 anggota klub ISL mengikuti kompetisi. Bahkan kompetisi di bawahnya U-19, U-17, PSSI gagal memutar roda kompetisinya. Maklum tidak semua klub anggota memiliki tim yuniornya. Padahal dalam aturan ISL, hal ini sudah menjadi keharusan. Hanya ada kompetisi U-15 karena kebaikan konglomerat migas Indonesia, Ir. Arifin Panigoro melalui perusahaannya Medco menjadi sponsor tunggal.

Tetapi mengapa di tahun 1972 dan tahun-tahun sebelumnya prestasi timnas Indonesia Yunior selalu bisa berlanjut ke prestasi timnas Indonesia yang hebat? Coba perhatikan data berikut ini:

Kejuaraan Piala Asia Yunior 1960: Indonesia juara 3.
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1961: Indonesia juara 1.
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1962: Indonesia juara 1
(Tahun 1963-1966: Indonesia tak mengikuti kejuaraan internasional karena situasi Tanah Air yakni ada perjuangan Trikora untuk pembebasan Irian Jaya dan Dwikora, Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia).
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1967: Indonesia juara 2
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1970: Indonesia juara 2
Kejuaraan Pelajar Asia 1984: Indonesia juara 1
Kejuaraan Pelajar Asia 1985: Indonesia juara 1
Kejuaraan Pelajar Asia 1986: Indonesia juara 1
Coca Cola Cup Group VII Zone Asia 1986: Indonesia juara 1

Coba bandingkan dengan prestasi timnas Indonesia Senior berikut:
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1960: Indonesia Juara 1
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1961: Indonesia Juara 1
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1961: Indonesia Juara 1
Sepakbola Asian Games IV, Jakarta, 1962: Indonesia Juara 2
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1962: Indonesia Juara 1
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1966: Indonesia Juara 1
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1967: Indonesia Juara 1
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1
Turnamen King’s Cup I, Bangkok, 1968: Indonesia Juara 1
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1969: Indonesia Juara 1
Turnamen King’s Cup II, Bangkok, 1969: Indonesia Juara 2
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1970: Indonesia Juara 2
Turnamen Jakarta Anniversary Cup I, Jakarta, 1970: Indonesia Juara 3
Turnamen Queen’s Cup, Bangkok, 1971: Indonesia Juara 1
Turnamen President’s Cup, Seoul, 1971: Indonesia Juara 2
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1971: Indonesia Juara 2
Turnamen Jakarta Anniversary Cup II, Jakarta, 1972: Indonesia Juara 1
Turnamen President’s Cup, Seoul , 1972: Indonesia Juara 2
Pesta Sukan, Singapura, 1972: All Indonesian Final (Indonesia & B)

Kalau melihat data di atas secara gamblang terlihat ada keterlanjutan antara prestasi timnas Indonesia Yunior ke prestasi timnas Indonesia Senior. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Karena pada jaman itu Indonesia cukup dengan mengandalkan talenta luar biasa yang dimiliki para pemainnya yang dilatih secara baik oleh pelatih asal Yugoslavia, Tony Pogacknik. Plus “manajemen dari hati ke hati” oleh para pengurus PSSI yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain sehingga daya juang pemain meningkat, meskipun mereka hanya menerima honorarium selama pelatnas dan tidak menerima gaji tetap. Yang ada adalah iming-iming heroik:

“Akan diterima oleh Presiden RI, Bung Karno, di Istana Merdeka jika berhasil menjadi juara”. Maklum saja, soal dana PSSI semata-mata hanya mengandalkan hasil jualan karcis manakala timnas Indonesia melawan kesebelasan asing kelas dunia main di stadion Senayan, Jakarta. Ditambah sedikit saja dari para donatur gila bola. Sementara pada sisi lain, di hampir semua negara Asia belum ada kompetisi sepakbola profesional. Sehingga pertumbuhan kualitas sepakbola Asia tidak berkembang sepesat seperti sekarang ini yang sudah merupakan era kompetisi profesional.

Maka adalah sangat membanggakan, ketika Indonesia yang dijuluki oleh Presiden FIFA sebagai “Brazil Asia” berhasil menduduki posisi elite sepakbola Asia bersama Israel (ketika itu masih masuk zona Asia, belum masuk ke zona Eropa seperti sekarang), Burma (Myanmar sekarang) dan Iran. Kesebelasan Jepang dan Korea Selatan itu dulu dipermak rata-rata 4-0 oleh Indonesia. Taiwan bahkan pernah dicukur oleh Soetjipto Soentoro dengan skor 11-1 di Merdeka Games 1969. Jangan ceritera soal Thailand, Malaysia dan Singapura, mereka nggak level dengan Indonesia. Sedangkan jazirah Arab (Timur Tengah) bahkan ”belum bisa bermain sepakbola” karena federasi sepakbola pun mereka belum punya . Seperti diketahui di negara-negara Arab berkembang pesat sepakbolanya dengan merekrut pelatih kelas dunia asal Brazil ketika negara mereka mendapat anugerah minyak bumi dan gas mulai pertengahan tahun 1970-an).

Bayangkan. Tim Asian All Stars 1966-1970 itu 4 pemainnya berasal dari Indonesia yakni Soetjipto Soentoro (sekaligus bertindak sebagai kapten), Jacob Sihasale, Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Bahkan kalau nggak malu hati sama negara-negara lain, Basri, Aliandu, Anwar Ujang , Sunarto, Yuswardi dan Yudo Hadiyanto pun sebenarnya mau ditarik oleh AFC (Asian Football Confederation) untuk mengisi skuad bintang-bintang Asia tersebut.


JEPANG PUN BELAJAR KE INDONESIA
Bahkan untuk masalah manajemen sepakbola, Jepang benar-benar belajar dari Indonesia manakala mereka mempersiapkan J-League yang diluncurkan pada tahun 1982. Mengapa? Karena Indonesia sudah memiliki liga sepakbola utama Galatama yang dimulai tahun 1979 di era Ali Sadikin. Fandi Ahmad dan David Lee (Singapura) memperkuat Niac Mitra dan Jairo Matos (Brazil) memperkuat Pardedetex, Medan.

Seiring dengan persiapan J-League, pada tahun 1981 itu pula timnas Jepang dikirim ke Indonesia. Namun timnas Jepang “diajarin bagaimana bermain sepakbola” oleh timnas Indonesia yang dikapteni Ronny Pattinasarani . Kiper timnas Jepang, Taguchi harus memungut bola dari jalanya sampai 4 kali. Timnas Indonesia memang menang telak 4-0 pada uji coba di stadion Senayan itu. Pada pertandingan itu Ronny Patti (libero) bersama Risdianto (striker) memimpin pemain-pemain muda berbakat seperti Mettu Duaramuri, Herry Kiswanto, Budi Juhanis, Didik Dharmadi, Purwono (kiper).

Dan atmosfir pertandingan Galatama ketika itu juga sangat mendukung. Kalau klub Warna Agung (Ronny Patti dkk), Indonesia Muda (Djunaedi Abdilah dkk) dan Jayakarta (Iswadi Idris dkk) bertanding melawan Niac Mitra (Fandi Ahmad dkk) atau Pardedetex (Jairo Matos dkk), maka stadion Senayan dengan kapasitas 110.000 pun penuh sesak.

Namun dalam perkembangan kemudian, setelah Ali Sadikin “dilengserkan” Presiden Soeharto, kompetisi PSSI pun ikut-ikutan melorot. Suap merajalela merasuki pemain, wasit dan juga pengurus. Judi sepakbola menambah runyamnya nasib sepakbola Indonesia karena konon mafianya berporos Semarang-Jakarta- Kuala Lumpur-Hong Kong-Makao. Maka Galatama hancur lebur. Bahkan tim Perserikatan Persib, Bandung pernah menghancurkan tim Galatama Arema Malang di stadion Gajayana Malang, dengan skor telak 4-0 pada tahun 1984.

Nah mengapa J-League sekarang jauh lebih bersinar dibanding Indonesia Super League? Karena Jepang memiliki manajemen bagus ditopang dana yang banyak . Sehingga setiap klub mampu merekrut sedikitnya tiga pemain berstandar Eropa atau dunia. Ditambah industri negaranya yang sangat maju dan mau menjadi sponsor J-League. Semua stake holder kompetisi J-League sangat berperilaku profesional dan sangat kondusif bagi tumbuh kembangnya kompetisi.

Tak mengherankan bila kompetisi yang bagus bermuara ke timnas Jepang yang bagus pula. Jepang sekarang adalah mirip bahkan melebihi Indonesia pada jaman keemasan dulu. Sekarang timnas Indonesia belum pernah menang lagi lawan timnas Jepang. Timnas Jepang sudah menjadi pelanggan wakil Asia bersama Korsel ke Piala Dunia. Bahkan sekarang pemain-pemain Indonesia sudah kalah sebelum bertanding bila mendengar nama besar Sunshuge Nakamura (pemain top di La Liga Spanyol).


PERPUTARAN UANG RP. 1 TRILIUN
Kompetisi sepakbola Indonesia sih namanya paling keren yakni ISL alias Indonesia Super League. Nama internasional tetapi mutu lokal. Manajemen sangat buruk pada PSSI, menjadi biang keladi kegagalan timnas Indonesia bangkit dari keterpurukan. Padahal potensi penonton sepakbola Indonesia sangat luar biasa. Stadion Jalak Harupat, di Bandung disesaki 50.000 penonton kalau Persib bermain. Begitu pula stadion di Gajayana dan atau stadion Kanjuruhan di Malang kalau Arema Malang bermain akan disesaki 40.000 penonton pula. Rata-rata perolehan dari penjualan karcis kalau Persib main bisa didulang Rp. 700 juta. Kasus derby Malang antara Arema lawan Persema pada tanggal 10 Januari 2010 ybl bisa meraih angka Rp. 1,39 miliar ! Angka ini pasti akan bertambah kalau perolehan dari iklan outdoor dan penjualan siaran langsung TV juga dihitung! Dan kalau saja pertandingan Persija lawan Persib dibolehkan dilangsungkan di stadion Senayan, maka 88.000 penonton (kapasitas maksimal Senayan sekarang pasca Piala Asia) pasti akan menonton “super big match” ini. Dan ujung-ujungnya duit pun akan lebih banyak didulang kalau dilihat harga tiket dan kapasitas stadion Senayan lebih besar dari stadion di Malang.

Jadwal kompetisi amburadul. Padahal pengurus PSSI melalui liga ISL telah menggembar-gemborkan; “hanya gempa bumi dan tsunami yang akan bisa mengubah jadwal kompetisi”. Akibatnya kondisi fisik dan mental pemain menjadi hancur sehingga rawan cedera dan mudah keluar emosi. Akibatnya mudah menyulut terjadinya tawuran sesama pemain bahkan pemain memukul wasit. Ini juga antara lain karena integritas wasit pun belum bisa dipercaya. Komplit sudah bila ditambah penonton mengamuk dan membakar dan merusak apa saja yang ada di depan mata, di stadion bahkan sampai ke luar stadion. Namun manakala Komisi Disiplin dan Komisi Banding telah menjatuhkan sanksi keras kepada para pelaku, eh malah dianulir oleh “hak prerogratif” Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid!!!! Bagaimana para pelaku kerusuhan akan menjadi jera.

Kemudian konsep dibolehkannya 5 pemain asing (3 Non Asia dan 2 Asia) main dalam satu pertandingan ISL, telah mengawali penghambatan potensi maju pemain lokal. Karena terlalu sering duduk di bangku cadangan, para pemain lokal bahkan yang sudah berstatus pemain nasional sekalipun menjadi tidak berkembang kemampuannya. Yang rugi ujung-ujungnya tim nasional juga. Ditambah jadwal kompetisi molor berakibat setiap persiapan pelatnas timnas selalu terkendala. Kalau tidak lengkap semua pemain terkumpul; kendala yang lain adalah kondisi fisik dan mental pemain sudah kelelahan dan jenuh karena jadwal kompetisi yang amburadul tadi.

Karena jadwal kompetisi yang amduradul ini pula. Maka belanja klub lebih hancur-hancuran lagi. Karena dengan mengembangnya waktu, maka belanja menjadi tambah tidak terkendali. Padahal sebagian besar klub masih mengandalkan biaya APBD. Kalau rata-rata setiap klub dari 18 klub ISL yang ada membelanjakan masing-masing Rp 15 miliar per musim kompetisi saja. Maka ada sedikitnya perputaran uang Rp. 270 miliar. Padahal klub besar seperti Persib Bandung sampai menyedot dana APBD Kodya Bandung Rp. 30,57 miliar pada musim kompetisi 2008-2009 ybl. (Kini Persib setelah memiliki PT. Persib Bandung Bermartabat memiliki dana Rp. 30 milyar untuk mengarungi kompetisi ISL 2009-2010 ini). Tahun lalu Persija Jakarta bahkan lebih besar lagi yakni Rp. 42 miliar. Tetapi hasilnya? Persib hanya urutan ketiga dan Persija lebih tragis lagi yakni hanya urutan ketujuh.

Perputaran uang di sepakbola Indonesia ini akan semakin menggila bila ditambah dana yang diserap oleh PSSI dari pabrik rokok Djarum yakni sedikitnya Rp. 50 miliar. Ditambah sumbangan tetap FIFA sebesar US$ 1 juta/tahun. Belum ditambah lagi penjualan hak siar televisi ke Anteve untuk 150 siaran langsung dan tunda liga ISL. Plus hasil jualan iklan outdoor di sekitar stadion Senayan dan stadion-stadion di seluruh Indonesia yang tak ketahuan berapa jumlahnya. Plus transfer fee yang diperoleh dari jual beli pemain. Plus hasil penjualan tiket kepada penonton. Plus perolehan bila ada pertandingan internasional resmi agenda FIFA maupun bukan resmi. Plus donasi pribadi-pribadi gila bola yang juga gelap gulita berapa jumlahnya. Plus bila belanja pada kompetisi Divisi Utama PSSI, Divisi Satu PSSI dan Divisi Dua PSSI ditambahkan ke dalam perputaran uang disini. Plus dan plus bila kejuaraan yang berbeda yakni Copa Dji Sam Soe untuk Piala Indonesia yang diikuti oleh klub ISL dan Divisi Utama juga turut dijumlahkan dalam perputaran uang ini. Maka perputaran uang sepakbola Indonesia bisa mencapai sebesar Rp. 1 triliun !!!

Karena sepakbola Indonesia adalah sudah merupakan persoalan manajemen yang mismanajemen. Maka untuk memecahkannya pun adalah melalui pendekatan manajemen. Nah para ahli manajemen tinggal melihat dan mengelolanya dari hal-hal yang tangible dan intangible pada peta profil sepakbola Indonesia ini.

Read more...

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP