Betapa beruntungnya Lurah Dago dan Lurah Ari

>> Monday, November 29, 2010

Read more...

Bang Jopie main euy!

>> Monday, November 22, 2010

Read more...

McClelland's n-Ach [was: Pendidikan Entrepreneurship: A wrong approach and misconception]

>> Sunday, November 21, 2010

From: Moko Darjatmoko
To: ITB-Club@yahoogroups.com ; kuyasipil@yahoogroups.com
Sent: Sunday, November 21, 2010 9:25 PM
Subject: [ITB-Club] McClelland's n-Ach [was: Pendidikan Entrepreneurship: A wrong approach and misconception]




Kurasa istilah entrepreneur ini sudah mengalamisemacam semantic drift (pergeseran makna), apalagi setelah dicoba-terjemahkan menjadi "wirusaha" atau "wiraswasta." Biasanya kalau sudah mulai 'simpang-siur' itu pertanda bahwa waktuya merujuk ke kamus yang umum (walau dalam kalangan spesifik istilah ini punya arti yang lebih sempit) ...


entrepreneur
noun, A person who organizes, operates, and assumes the risk for a business venture.
[French, from Old French, from entreprendre, to undertake.]


entrepreneurship
noun, The assumption of risk and responsibility in designing and implementing a business strategy or starting a business.


Istilah entrepreneurship ini kurasa mulai populer [paling tidak di ITB] awal tujuhpuluhan --kalau ada yang tahu lebih awal tolong nimbrung-- barangkali dipicu oleh "the great debate" membar bebas di dinding Student Center, sekitar januari 1970. Diskusi yang paling cerdas ini [sayangnya belum pernah bisa diulangi atau dikalahkan] membicarakan riset kolosal David McClelland, social psychologst dari Harvard--yang kebanyakan tinggal di ingatan cuma istilah n-Ach nya saja. [baca "The Achiving Nation" (1961) kalau beruntung bisa mendapatkan bukunya.


Setelah emosi diskusi mereda, diluaran mulai ada beberapa yang masih "hot" ... salah satunya Pak Iskandar Alisjahbana [any relation to Betti ?] Aku sempat melanjutkan diskusi ini dengan beliau waktu berada di US ... dan --berlawanan dengen pendapat pak Iskandar--aku berdiri pada posisi yang sama sampai saat ini: entrepreneurship itu tidak bisa diajarkan (seperti halnya kreativitas, moralitas, etc). yang bsia dilakukan oleh lembaga pendidikan (misalnya Harvard, Stanford Business School, etc) adalah mengajarkan tools (teknik, prosedur,etc) yang ditangan seorang entrepreneur bisa meningkatkan impact dari trait yang sudah dipunyainya itu.


Riset McClelland sendiri hanyalah "descriptive" menjelaskan fenomena dan kaitannya dengan faktor budaya, tetapi belum mencapai level "prescriptive" (how to). Dan ini yang banyak disalahartikan oleh "penganut jurus n-Ach" di Indonesia ... bahwakn sampai saat ini.


Setelah menggeluti buku ini (I found my own copy, first edition of 1961) dan mencoba memahami dari cabang disiplin lain (anthropologi, psychology, cognitive science, etc.) aku sampai pada "jurus baru" ... [Walau] tidak bisa diajarkan tetapi bisa ditanamkan ... itulah intisari dari jurus n-Ach yang "lurus" (tidak sesat :-). Dan jurus ini sudah aku oprek-oprek (hacked to the death) selama 16 tahun belakangan, menjadi bagian paling penting dari riset pribadiku.


Sekali lagi, please baca bukunya ... cuma 400+ halaman ... kalau pengin cepet-cepet, bisa langsung ke chapter 9 dulu, lalu pelan-pelan mengunyah chapter lainnya.


Chapter 9: SOURCES OF n ACHIEVEMENT [pp 336-390]
Race and Environment. Child-Rearing Practices. Child-Rearing and n Achievement Outside the United States. Parent-Child Interaction for Boys with High and Low n Achievement. Standards of Excellence. Warmth. Low Authoritarianism. Protestant and Catholic Values, Child-Rearing Practices and n Achievement. The Interaction of Religion and Social Class. n Achievement among Jews. Core Religious Values: Positive Mysticism. Indirect Influences on n Achievement Levels.


Buku ini enak dibaca, gaya bahasanya juga indah dan menarik ... serasa membaca Sin tiauw hiap-lu atau To liong-to (saduran dari cerita Chin Yung). Berikut kukutipkan parapgaf di halaman pertama ...


From the top of the campanile, or Giotto's bell tower, in Florence, one can look out over the city in all directions, past the stone banking houses where the rich Medici lived, past the art galleries they patronized, past the magnificent cathedral and churches their money helped to build, and on to the Tuscan vineyards where the contadino works the soil as hard and efficiently as he probably ever did. The city below is busy with life. The university halls, the shops, the restaurants are crowded. The sound of Vespas, the "wasps" of the machine age, fills the air, but Florence is not today what it once was, the center in the 15th century of a great civilization, one of the most extraordinary the world has ever known. Why­­What produced the Renaissance in Italy, of which Florence was the center­­How did it happen that such a small population base could produce, in the short span of a few generations, great historical figures first in commerce and literature, then in architecture, sculpture and painting, and finally in science and music­­Why subsequently did Northern Italy decline in importance both commercially and artistically until at the present time it is not particularly distinguished as compared with many other regions of the world­­Certainly the people appear to be working as hard and energetically as ever. Was it just luck or a peculiar combination of circumstances­­Historians have been fascinated by such questions ever since they began writing history, because the rise and fall of Florence or the whole of Northern Italy is by no means an isolated phenomenon.




tabik,
Moko/


+++++++++


At 11/19/10, Betti S Alisjahbana wrote:
Mbak Yuti dan rekan-rekan,
Entrepreneur adalah suatu pekerjaan. Entrepreneurial adalah sifat. Jadi seorang entreprenuerial leader bisa saja ada di pemerintahan (Ali Sadikin atau Fadel misalnya) bisa juga diperusahaan swasta yang bukan miliknya. Seseorang yang entrepreneurial jeli melihat peluang dan mengambil langkah-langkah yang jitu untuk merealisasikan peluang itu sehingga menguntungkan organisasinya.

Dosen ITB yang punya kejelian bak seorang entrepreneur didalam melihat peluang kerja sama, dan bisa merealisasikan kerja sama yang menguntungkan ITB kita sebut dosen yang entrepreneurial.

Sumber pembiayaan suatu start up bisnis bisa datang dari venture capital firm, bisa dari angel investor, bisa dari penyertaan saham partner, bisa juga dari bank. Angel Investor motivasinya tidak murni bisnis, melainkan ada unsur pemberdayaan dan misi sosialnya. Sangat ideal bila bisa mendapatkan angel investor. Modal yang sifatnya wakaf memang murni sosial. Lebih sosial dari angel investor. Kalau angel investor, masih ada unsur bisnisnya, artinya si angel ini masih mengejar return on investment juga.

Scaling up memang tantangan bagi pengusaha ketika mereka sukses. Chairul Tanjung menceritakan tahapan-tahapan transformasi bisnisnya dari informal ke kecil, menegah, besar lalu konglomerasi. Bila tertarik, power point presentasinya bisa di download di http://leadershipqb.com/index.php?option=com_eventlist&view=eventlist&Itemid=29

Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana






2010/11/19 yuti ariani

Pak Djoko, mbak Betti dan rekan-rekan alumni,

Dari diskusi ini saya jadi penasaran, apakah fungsi entrepreneur itu sebuah sikap atau pekerjaan yang mengandung risk tertentu? ....

Read more...

“Lanjutkan Pencitraan. Biarkan Ketidakadilan. Lho Tak Bisa Diintervensi!”

>> Saturday, November 20, 2010

Oleh Cardiyan HIS


Tim perahu Naga Indonesia membuat hatrick merebut 3 emas Asian Games ke 16, Guangzhou, Cina, dengan menundukkan olahraga kebanggaan rakyat Cina langsung di kandangnya! Kehebatan tim perahu Naga Indonesia memadukan antara kekuatan otot, otak dan ketulusan hati putra-putra terbaik Indonesia dari berbagai suku bangsa Indonesia ini sudah sepatutnya menginspirasi SBY bahwa “Indonesia Bisa” (slogan kesenangan SBY sendiri lho!) untuk meniru rekannya Presiden Cina dalam memerangi korupsi, memiskin para koruptor bahkan menghabisi koruptor-koruptor di tiang gantungan dan atau regu tembak mati karena korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang telah memiskinkan rakyat.



“Katakan Tidak pada Korupsi. Lanjutkan!”. Jargon inilah yang telah berperan sangat besar dalam memenangi SBY pada Pilpres 2009-2014. Minimal telah memperdaya penulis sendiri untuk memilihnya sampai yang kedua kalinya.

Jargon memang selalu mudah untuk diteriakkan sekeras-kerasnya. Tetapi sangat sulit dilaksanakan dalam praktek. Bagaimana janji Presiden SBY yang mau memimpin terdepan dalam pemberantasan korupsi, tetapi ketidakadilan hukum dibiarkan berseliweran di depan mata. Mega kasus Bank Century berlalu begitu saja, keadilan tercampakkan. Kasus rekayasa pelemahan KPK melalui “Kasus Bibit-Chandra” sungguh sangat memalukan. Kasus “Rekening Gendut” oknum-oknum Jenderal Polisi dibiarkan dan bunga depositonya dengan leluasa terus dipetik mereka dari kebun bunga bank. Dan manakala kasus terpidana Gayus Tambunan yang sedang mendekam di tahanan Brimob Kelapa Dua, bisa piknik ke Bali dan menginap di hotel bertarif Rp. 10 juta/malam dengan dikawal seregu polisi juga dibiarkan, habis sudah kesabaran kita.

Ketidakadilan hukum di negeri tercinta Indonesia secara sadar dibiarkan oleh SBY dengan dalih; “Presiden RI tak boleh mengintervensi kasus hukum”. Dalih yang sangat naif sekali. Apa guna SBY menyatakan dengan lantang mau memimpin terdepan dalam pemberantasan korupsi kalau cara berpikir SBY tak boleh mengintervensi kasus hukum terus dijadikan pegangannya.

SBY sebagai komandan bagi Kapolri dan Jaksa Agung sangat jelas bisa mengintervensi kinerja kedua anak buahnya, karena SBY adalah Presiden RI atasan langsung Kapolri dan Jaksa Agung. Bila kinerja keduanya memble SBY bisa menjewernya, bahkan kalau perlu langsung memecatnya. Tapi yang terjadi sang komandan yang nota bene jenderal TNI ini diam tak berdaya. Anak SD pun telah tahu dan sangat paham dari buku pelajarannya, bahwa hanya PENGADILAN dan KPK yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun termasuk oleh Presiden SBY. Eh, malah SBY mengomentari vonis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas kasus Misbakhun, mantan anggota DPR yang memalsukan jaminan atas kredit di Bank Century. Nah ini baru namanya intervensi atas pengadilan, jenderal!

Sebagai salah seorang rakyat Indonesia yang sangat meyakini bahwa Indonesia ke depan akan maju kalau pemerintah SBY menguatkan tiga pilar utama pembangunan bangsa yakni Pendidikan, Kewirausahaan dan Penegakan Hukum. Maka dengan merujuk fakta-fakta di atas, saya sangat sedih dalam memandang Tanah Air Indonesia ke depan begitu sangat suramnya. Indonesia dipastikan akan menjadi negara paling korup nomor satu di dunia! Dan akibatnya sangat berkemungkinan menyimpan bom waktu; Indonesia menjadi salah satu negara gagal di dunia!

Nasib Indonesia akan sangat suram karena salah satu pilar tadi yakni Penegakan Hukum akan mandul. Investasi pendidikan yang sesungguhnya mulai ada trend positif yakni naik menuju ke angka ideal 20% dari total APBN berdasarkan amanat UUD 1945, akan menjadi sia-sia kalau koruptor dibiarkan merajalela. Begitu pula para Wirausaha Sejati (Genuine Entrepreneur) yang merupakan pembayar pajak terbaik, akan jungkir balik berakrobat untuk memutar roda ekonomi karena sehari-hari mereka harus mengeluarkan ekonomi biaya sangat tinggi akibat ulah penguasa yang sangat korup, tetapi dibiarkan merajalela tanpa ditindak.

Pengadilan hanya akan menjadi forum dagelan belaka. Koruptor sebagian besar dibebaskan karena sejak awal memang direkayasa oleh jaksa dengan tuntutan hukum yang sangat lemah dan kemudian batal demi hukum untuk divonis bebas oleh hakim yang telah terbeli pula. Dan kalau pun ada yang dihukum, hanya vonis basa-basi saja, vonis hukuman dibuat sangat-sangat ringan. Nasib maling ayam yang digebukin sampai mati bahkan ada yang dibakar oleh rakyat sungguh tragis dibanding nasib koruptor yang dipenjara di ruang yang lapang dan memiliki AC, TV Flat, kasur empuk, kamar mandi pakai shower, bebas menggunakan HP dari ruang nyaman penjara bahkan kalau perlu memimpin rapat bisnis termasuk jualan narkoba, disini pula. Dan presedennya sudah banyak. Seperti sudah terbukti sekarang pun banyak koruptor dihukum sangat ringan dengan masa percobaan bahkan tanpa penahanan. Ini sama saja dengan bohong. Dan kalau pun jaksa melakukan banding ke pengadilan yang lebih tinggi bahkan sampai ke Mahkamah Agung, ya tetap dagelan juga.

Jadi Indonesia sekarang persis Jepang 160 tahun yang lalu! Ketika upaya-upaya Restorasi Meiji di Jepang mendapat banyak tantangan terutama dari para koruptor dan pendukungnya. Indonesia tentu ingin maju menjelma seperti Jepang yang modern sekarang ini, sebagai buah dari Restorasi Meiji yang diajarkan oleh Guru Bangsa Jepang, Fukuzawa Yukichi, sekaligus sebagai peletak dasar utama Jepang menuju Jepang yang modern sekarang ini melalui perjuangan membangun Pendidikan, Kewirausahaan dan Penegakan Hukum.

Jadi apa lagi pengharapan yang ada? Ya paling tidak, kita harus menunggu dulu untuk sabar sampai sifat peragu SBY berubah menjadi seorang jenderal TNI yang tegas siap berperang melawan korupsi, sesuai dengan janjinya sendiri pada kampanye pemenangan Pemilu 2009-2014 sebagai Pembina Partai Demokrat, partainya SBY: “Katakan Tidak pada Korupsi. Lanjutkan!”. Tapi apakah kita yakin mau menunggunya seperti keputus-asaan seorang SBY sendiri dengan kata-katanya sendiri; menunggu prestasi PSSI sampai Lebaran Kuda?

Kita berharap SBY mengikuti langkah Presiden Cina yang memimpin di depan dalam pemberantasan korupsi, sehingga banyak koruptor yang dihukum gantung atau ditembak sampai mati. Dan lihat saja hasilnya; Cina menjelma menjadi negara raksasa ekonomi nomor 1 di dunia dengan cadangan devisa lebih dari US$ 2.500 miliar!
Kita, rakyat Indonesia tentu menginginkan Indonesia maju, dan sesungguhnya Indonesia berpotensi juga untuk menjadi negara adidaya. Buktinya? Kehebatan tim perahu Naga Indonesia yang membuat hatrick merebut 3 emas Asian Games ke 16, Guangzhou, Cina, dengan menundukkan olahraga kebanggaan rakyat Cina langsung di kandangnya! Kehebatan tim perahu Naga memadukan antara kekuatan otot dan otak dan (keramahan dan kehalusan hati) putra-putra terbaik Indonesia dari berbagai suku bangsa Indonesia ini sudah sepatutnya menginspirasi SBY bahwa “Indonesia Bisa” (slogan kesenangan SBY sendiri lho!) untuk meniru rekannya Presiden Cina dalam memerangi korupsi, memiskin para koruptor bahkan menghabisi koruptor-koruptor di tiang gantungan dan atau regu tembak mati karena korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang telah memiskinkan rakyat.

Rakyat Indonesia akan protes sangat keras. Rakyat Indonesia akan sangat marah luar biasa; bila pemberantasan korupsi oleh SBY bukannya maju malah mundur ke belakang, ke jaman korupsi di era Soeharto bahkan lebih mundur lagi seperti ke jaman Pra Restorasi Meiji di Jepang 150 tahun yang lalu!

Read more...

ITB: Book for People

>> Saturday, November 13, 2010

From: "Nurhasan Akbar"
To: "ITB Club"
Sent: Saturday, November 13, 2010 5:29 PM
Subject: [ITB-Club] ITB: Book for People




Kesempatan membaca tidak banyak, buku yang saya mulai beberapa minggu lalu saja masih belum selesai sampai saat ini..;)

Ada yang menarik dari buku yang sedang saya baca di akhir pekan ini: China Megatrend..yang membahas mengenai perpustakaan di sana.

Program perpustakaan di China di mulai pada Maret 2008, yang didirikan di kota dan desa.

Perpustakaan di China didirikan bukan dengan perintah dari atas ke bawah, tetapi pemerintah menyerahkan tanggung jawabnya ke PETANI untuk mengelola perpustakaannya.

Perpustakaan PETANI tersebut mempunyai minimal 1000 buku, 30 surat kabar, dan 100 video.

Selama kurun waktu 2 tahun (sampai akhir 2009) terwujud lebih dari 200 ribu perpustakaan (banyak lho..).

Rencananya tahun 2015 jumlah akan mencapai 640 ribu unit perpustakaan petani di China.

Orang China tidak biasa membeli koran, tetapi membaca ya. Di banyak tempat di China kebanyakan laki2 mengantri membaca koran di papan berita.

Membaca adalah jendela pengetahuan dan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah kunci kemajuan ekonomi.

Pertanyaannya, adakah alumni ITB atau bahkan IA-ITB yang mau memulai program seperti ini di Indonesia, agar nantinya perekonomian Indonesia bisa lebih baik lagi.

Salam
-akbar 82

Powered by Qomari.Com®

------------------------------------

***

Program Club 10.000 sip markosip euy! Buat 10.000 anggota per 1 Jan 2012.
Ayo, ajak 10 Alumni ITB lain per hari ikut ITB-Club. Yuk, buat kerjasama!
Mudah kok! Manajemen email di milis ITB-Club ada di bawah. Selamat mencoba :)


Anggota: 6.928 Diperbarui: 1 November 2010
--------------------------------------------------------------------------
*** ITB-Club ***
- Kerjasama merajut Prestasi Dunia -
Persahabatan, Ide, Iptek, Desain, Seni, Bisnis, & Kerjasama
http://groups.yahoo.com/group/ITB-Club

Managed by: ITB-Club & 99Venus International (http://99Venus.net )
http://www.ITB-Club.com http://IA-ITB.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Mengatur mode terima email dengan ganti-ganti 3 cara terima berikut :
1. ITB-Club-normal@yahoogroups.com = email terima normal (individual emails)
2. ITB-Club-digest@yahoogroups.com = email terima ringkasan (daily digest)
3. ITB-Club-nomail@yahoogroups.com = tidak terima email / cuti sementara

Ganti email / Cara berlangganan :
1. ITB-Club-subscribe@yahoogroups.com = email berlangganan milis ITB-Club
2. ITB-Club-unsubscribe@yahoogroups.com = email berhenti dari milis ITB-Club

Manajemen email di milis ITB-Club yang lebih detil di blog IA-ITB :-)
Klik http://IA-ITB.blogspot.com/2009/07/manajemen-milis-IA-ITB.html

Data :
Isi & lihat 1.250 profil di http://groups.yahoo.com/group/ITB-Club/database

Read more...

Beasiswa PhD International Max Planck Research Schools (IMPRS)

>> Wednesday, November 10, 2010

From: Nandang mufti
To: ITB-Club@yahoogroups.com
Sent: Thursday, November 11, 2010 1:36 AM
Subject: [ITB-Club] Beasiswa PhD International Max Planck Research Schools (IMPRS)




Hallo semuanya,


Sekedar berbagi informasi, bagi mereka yang tertarik untuk melanjutkan PhD di Jerman khususnya di Max Planck Institute. Setiap tahunnya Institute ini bekerjasama dengan universitas dan insitusi lainnya memberikan beasiswa untuk melanjutkan PhD pada berbagai bidang ilmu melalui program International Max Planck Research Schools (IMPRS). info selanjutnya bisa dilihat di link


http://www.mpg.de/english/institutesProjectsFacilities/schoolChoice/showSchool.shtml?sektion=CPT®ion=&lang=en


Sejauh ini baru sedikit orang indonesia yang memanfaatkan program ini, kebanyakan pelamar umumnya dari India dan China.




Semoga bermafaat,


salam



--------------------------------------------------------------------------------------
Dr. Nandang Mufti
Max Planck Institute for Chemical Physics of Solids
Noethnitzer Strasse 40
01187 Dresden
Germany


phone: +49 351 4646 2240

Read more...

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP