Showing posts with label Moko Darjatmoko. Show all posts
Showing posts with label Moko Darjatmoko. Show all posts

Book: Bozo and the Storyteller

>> Friday, October 8, 2010

From: Moko Darjatmoko
To: IA-ITB@yahoogroups.com ; kuyasipil@yahoogroups.com ; alsi70@yahoogroups.com
Sent: Friday, October 08, 2010 2:28 PM
Subject: [IA-ITB] Book: Bozo and the Storyteller




Hi there,


Sebelum berangkat ke tanahair tahun lalu [hmmm... tanpa terasa setahun telah berlalu] ada teman yang "nyangoni" sebuah buku -- karena dia tahu aku sedang riset tentang "storytelling." Aku sendiri baru sempat membacanya minggu lalu, "Bozo and the Storyteller," karya Tom Glaister. http://www.amazon.com/Bozo-Storyteller-Tom-Glaister/dp/095601920X


Komentarku ... [setelah semalam suntuk tidak bisa meletakkan buku ini sebelum selesai membaca] ...Wow! this is one heck of a storytelling. Aku kutipkan disini komentar seorang pembaca: "Imagine our world was nothing more than a Story - you, the room you're in and everyone on the entire planet are just figments in the imagination of a Storyteller. But he's dying. And then what would become of our world? Would it just fade away? A creature called Bozo volunteers to enter the Story and look for a Cure... "


Ini sebuah contoh bagaimana imaginasi (dan kreativitas) manusia itu tidak ada batasnya -- yang malangnya, hampir semuanya mati diawal kita memasuki dunia sekolah. Bukan saja si pengarang punya imaginasi yang hebat, tetapi juga rasa humor dan kritik yang cerdas. Berikut adalah bagaimana dia, melalui mulut sang Storyteller, secara kocak menggambarkan mobile-phone ciptaan Hooman (manusia)


"The Storyteller was telling the Bloons about the invention of mobile Fones and already he had his audience crying with laughter on the floor. As Theo listened, he began to see the words and the picture they conjured until the scene entirely absorbed him.


The Hoomans took to stroking their Fones in their pockets as though they were pets. While they waited for calls, they played with the buttons and tried to count how many friends they had. But as much as they dressed up their Fones in suits of bright colours and ever-smaller, cuter shells, they always failed to see the teeth. For although the Fones were much loved and adored ­ especially when they rang ­ they had an insatiable hunger and ate up the lives of the own- ers little by little. When lovers were kissing, the Fones rang and took a bite out of their romance. When the sun was going down and the sky melted into a fluid blend of glowing colours, the Fones rang and nibbled away at the most beautiful moments of the day. Everyone began to feel thinner. The more they talked into their Fones, the less they had to say of any value. They began to feel awkward talking to their friends in person and had the rising urge to hold their Fones in front of them like a shield. They converted their Fones into Flash-boxes and used them as a third eye through which they could see the world in only two dimensions. Bit by bit they invented new ways to feel more lonely, becoming more isolated from another by the day."


[Tom Glaister, Bozo and the Storyteller, 2008, pp 30-31]


Kulihat sudah banyak yang "menawarkan" versi elektroniknya, dan si penagrang sendiri memang sudah merelakan versi audionya [excellent quality, methink!], gratis-tis [kalau punya sambungan ke Internet yang cepat -- silahkan google sendiri, aku sudah lupa alamatnya].


Selamat menikmati,


Moko/

Read more...

The Tragedy of the Commons

>> Monday, July 5, 2010

From: Moko Darjatmoko
To: IA-ITB@yahoogroups.com ; kuyasipil@yahoogroups.com
Sent: Monday, July 05, 2010 5:45 PM
Subject: [IA-ITB] The Tragedy of the Commons




I'm back ...


Dalam email 2 minggu yang lalu, aku mempersoalkan bahwa "teknologi" saja tidak cukup sebagai pemecahan problem bangsa ini. Issue semacam ini sebetulnya bukan barang baru di dunia ini, tetapi masalahnya adalah banyak sekali "pakar-pakar" kita (termasuk insinyur lulusan i-te-be) yang masih asing dengan cara berpikir yang integral atau holistik dalam memecahkan satu masalah. Salah satu rujukan yang bagus adalah The Tragedy of the Commons, tulisan Garret Hardin di jounal Science yang sangat berpengaruh, (Science, 162(1968):1243-1248), dan kemudian menjadi klasik dan "bacaan wajib" di kalangan akademis maupun non-academia.


[Pada dasarnya paper Hardin ini mengupas "depletion or degradation of a resource, usually referred to as a common property resource, to which people have free and unmanaged access." Yang dulu belum pernah baca di sekolah, sekarang bisa nggogle arsipnya, salah satu ada di URL berikut: http://dieoff.com/page95.htm ]


The Tragedy of the Commons (ToC) ini sebetulnya sebuah konsep lama yang dicetuskan oleh matematikawan amatir William Forster Lloyd pada tahun 1833. Mulai dari masalah arm race (national security in a nuclear world) sampai dengan problem lingkungan hidup, kebanyakan problem yang kompleks seperti itu tidak mempunyai technical solution. [A technical solution may be defined as one that requires a change only in the techniques of the natural sciences, demanding little or nothing in the way of change in human values or ideas of morality.]


Secara sederhana ToC ini bisa digambarkan dengan metafor sekelompok peternak domba yang menggembalakan ternaknya di satu padang rumput [the common]. Katakanlah ini adalah satu komunitas yang adil, sama rata sama rasa, dan sistim padang kolektip ini dimulai dengan jumlah domba yang sama per gembala [kapasitas padang dibagi jumlah gembala]. So far so good, everybody's happy. Laju tumbuh rumput mengimbangi jumlah yang dimakan oleh domba-domba gembalaan (istilah keren pisan: sustainable grazing).


Satu saat ada satu gembala yang rada mbelis mikir begini: "Kalau aku nambah satu domba ... kan lumayan buat reunian berdomba-guling sama temen-temen alumni." "Disini ada ratusan domba, nambah satu aja masak terasa pengaruhnya sih?" tambahnya cari-cari rasionalisasi curang kecil-kecilan ini. Menurut pikirnya, rumput untuk domba-domba lain cuma kurang sepersekianratus dari jatah sehari-harinya, dan ini tidak terlalu salah. Tetapi, ... ada tetapinya!


Tetapi, repotnya peternak-peternak lain mulai yang merasa bahwa domba-dombanya mulai agak kurus --waktu dijual timbangannya kurang-- terus mikir "Ah, aku nambah satu lagi [buat nombokin hasil jual domba yang kurus-kurus itu] rasanya kan gak 'ngaruh." Ada juga yang ikutan alasan peternak pertama karena ada hajatan di keluarga atau justifikasi lainnya. Nah, dalam waktu singkat seakan ada perlombaan "nambah satu domba lagi" [gue nggak mau rugi dong] -- kapasitas tumbuh rumput tidak lagi bisa "mengejar setoran" yang dibutuhkan domba yang makin lama makin kelaparan. Akibatnya, dalam waktu singkat padang ini tidak berrumput lagi karena rumput tidak sempat tumbuh, belum sempat keluar daun sudah digigit sampai keakarnya. Tidak ada rumput berarti tidak ada domba (sumber penghasilan) bagi peternak-peternak "serakah" itu.


Itulah tragedinya. Dalam bahasa Garret Hardin, "Therein is the tragedy. Each man is locked into a system that compels him to increase his herd without limit -- in a world that is limited. Ruin is the destination toward which all men rush, each pursuing his own best interest in a society that believes in the freedom of the commons. Freedom in a commons brings ruin to all."


+++++


Kalau sudah ngomong tentang keterpurukan bangsa ini, seringkali aku dengar orang menyalahkan "penjajah" [wong londo], atau demokrasi bahkan reformasi yang katanya "jalan ditempat" ... bahkan sebaliknya orang tua-tua seperti generasi bapakku ada yang suka bernostalgia ke "jaman normaal" dulu (the goood old days) sebelum jaman "kiblik" (republik indsonesia). Ini sah-sah saja, tetapi repotnya biasanya ujung-ujungnya lalu pergi ke pencarian "kambing hitam" ketimbang mempelajari dan memahami permasalahan yang sesungguhnya ... looking for who did this to us instead of trying to understand "what went wrong" or "what we did wrong".


Mungkin ada benarnya pendapat kalangan sosial-political science bahwa demokrasi (self-governing) itu tidak selalu pas dengan level perkembangan masyarakat -- sebab demokrasi itu, kalau mau sukses, demokrasi harus didukung oleh masyarakat yang relative terdidik. Kalau tidak ya memang jadi chaotik, setiap orang mau jalan sendiri-sendiri ... Dan inilah yang sebetulnya esensi paper Hardin "The Tragedy of the Common" itu -- setiap orang mau memaksimalkan "gain" pribadi, tanpa melihat kepentingan yang lebih besar ... kepentingan kolektip, kepentingan survival bersama sebagai bangsa.


Di pagi buta hari Senin ini, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana fenomena ToC itu terjadi di negeri ini:


Dalam perjalanan pulang jagong manten dari Muntilan ke Bandung via jalur selatan, romboganku terjebak dalam kemacetan paling mengerikan yang pernah kualami [Belum lihat kalau lebaran ... kata tetangga sebelah]. Kemacetan total ini terjadi sepanjang Gentong, Malangbong dan Nagrek. Asal mula kemacetan adalah beberapa truk yang mogok karena kelebihan muatan (dibandingkan kapasitas tarik mesinnya) yang harus menghadapi kombinasi tikungan tajam dan tanjakan berat (grade > 10%). Karena jalan ini sempit dan cuma 2 jalur untuk dua arah, maka hanya ada satu arah saja yang bisa jalan di tempat kejadian. Dalam upaya lewat bergantian yang diatur oleh "anak-anak tukang ganjal ban" [entahlah apakah memang sebenarnya ada polisi di negeri ini, kecuali yang selalu sibuk menimbun celengan berbentuk babi?] sewajarnya akan terbentuk antrian yang makin lama makin panjang karena lalulintas yang padat.


Yang membuat aku tidak tahu apakah musti menangis (from the tragedy) atau tertawa (from this plain stupidity) adalah ulah beberapa pengendara mobil pribadi dan terutama sopis bis antar-kota yang nyodok ... tidak mau antri seperti yang lain, tetapi mengambil jalur kanan yang diperuntukkan kendaraan dari arah berlawanan. Tentu saja dalam tempo singkat dimana-mana terbentuk titik-titik "gridlock" (dimana tidak ada yang bisa bergerak sama sekali), menjalar beberapa kilometer ke kedua arah dari titik awal kemacetan.


Setelah lebih dari 2 jam, kendaraan yang kutumpangi bisa lepas dari kegilaan ini (plus bonus kaca spion digesek oleh sopir bis kota yang sudah setengah gila ... ya semua orang lelah dan ini sudah pagi buta, tetapi ... aku berpikir, seandainya semua orang mengikuti "comon sense", antri dan gantian jalan, kemacetan total semacam ini tidak perlu terjadi. Coba berapa waktu yang terbuang percuma, berapa bahan bakar yang hilang tanpa guna, berapa biaya untuk ganti rem dan kopling yang aus, mesin yang overheated (aku hitung dipinggir jalan lebih dari 2 losin mobil yang "tewas"). Apakah masalah ini bisa diselesaikan dengan "teknologi" (melebarkan jalan, misalnya)? Aku sangat yakin jawabannya tidak.


Yang lebih menyedihkan lagi adalah kenyataan bahwa tragedy semacam ini terjadi hampir tiap hari, lebih dari 40 tahun (as long as I can remember) tanpa pemecahan yang berarti (Apa ada sih gunanya polisi dan pejabat pemerintah yang makan gaji itu ... aku tidak dapat mengindari bertanya-tanya). Pula, tragedy of the commons ini bukan melulu soal kemacetan lalulintas, tetapi juga dalam masalah lingkungan (polusi), masalah ekonomi, kesejahteraan, pendidikan, keadilan, politik, etcetera, etcetera tidak ada hentinya. Ini mengingatkan aku kepada Hanlon's Razor, sebuah adage populer yang dulu berkembang di lingkungan komputer:


"Never attribute to malice that which can be adequately explained by stupidity."


Barangkali kata di akhir Hanlon's Razor diatas ini bisa melengkapi deskripsi Mochtar Lubis tentang "manusia indonesia" yang kemarin ditayangkan di milis alumni ini.




Tired and sleepy, but finally arrived safely at home ...
Moko

Read more...

Nostalgia

>> Sunday, May 31, 2009

Sent: Monday, June 01, 2009 12:47 PM
Subject: [IA-ITB] Nostalgia


Waktu kena flu, seperti Maret-April yang lalu, aku tidak bisa tidur sampai 2-3 minggu karena susah bernafas [it's like drowning in one's own body liquid; the acute kind, like in avian flu or 1918 pandemic, is called the cytokine storm]. Aku mencoba memfokuskan pikiran [biar lupa derita] dengan mengingat-ingat apa yang paling mengesankan jaman sekolah di ITB dulu [barangkali teman-teman disini ada yang mau share hal serupa].

Soal pendidikan, aha ... tidak ada satu mata kuliah pun yang muncul di kepala -- masih ingat memang, tetapi tidak ada yang luarbiasa, bahkan hampir tidak ada yang aku ingat siapa dosennya. Ada beberapa kenangan manis menyangkut angkatan muda (of course, I'm talking about girls ... all the way down to the class of 1975 :-), tetapi yang sungguh paling mengesankan, yang ada di top-list, adalah pendidikan yang kuserap di bulletin board di tembok Student Center barat.

Awal 1970 ... waktu itu kepala masih gundul, aku menyaksikan diskursus yang paling intelligent yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Waktu itu belum ada yang namanya milis atau elektronic forum seperti sekarang ini, jadi orang hanya menempelkan tulisannya di "mimbar bebas" (buletin board di dinding) tetapi dampaknya bukan main. Tulisan-tulisan itu ada yang diketik (mesin tik manual), ada yang tulisan tangan, ada yang sampai belasan halaman. Ketika kehabisan tempat, orang menempelkannya di dinding, kemudian di pilar-pilar, dan akhirnya di batang pohon-pohon sekitar lapangan basket.

Apakah yang mereka bicarakan?

Berlembar-lembar essay yang ditulis oleh mahasiswa maupun dosen ITB saat itu mengupas dan mengunyah habis-habisan riset dari David McClelland (social-psokologi, Harvard) tentang motivasi -- tentang nAch (the need for achievement). Sekitar tahun 1950-1960an team McClelland mengumpulkan dan menganalisa literatur populer (folklores, children stories) dari negara-negara di dunia, dan membandingkan prestasi atau kemajuan suatu negara, yang diwakili oleh pemakaian energy listrik per kapita, dengan kadar nAch dalam dongeng-dongeng populer atau cerita anak-anak yang dibacakan oleh orangtuanya. Hasilnya, korelasi yang sangat tinggi antara keduanya.

Organ PBB untuk pendidikan (UNESCO) memperbanyak executive summary dari riset McClelland ini dan medistribusikannya ke seluruh dunia. Salah satu copy nyangkut di ITB dan memicu diskursus yang luar biasa itu. [Belasan tahun kemudian aku menemukan buku lengkapnya di toko buku bekas, The Achieving Society, terbitan Van Nostrand 1961]. Entahlah apakah diantara teman-teman ada yang masih ingat kejadian ini, mungkin ada yang bisa nambah masukan. Sayangnya kejadian seperti ini tidak pernah terjadi lagi, baik di bumi maupun di dunia maya (milis ini misalnya :-) Oh, The Wise Man of the Net, tell me ... where have all those bright minds gone?

Still nostalgic after all those years ...

Moko/

Read more...

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP