Kalau peneliti Universitas Jember mampu kurangi ketergantungan pada impor terigu US $ 1,5 milyard, peneliti ITB pasti lebih bisa

>> Monday, February 9, 2009

From: Triharyo Soesilo
To: itb77@bhaktiganesha .or.id; IA-ITB@yahoogroups. com; iaitbjakarta@ yahoogroups. com
Sent: Saturday, February 7, 2009 9:12:17 PM
Subject: [IA-ITB] Kalau peneliti Universitas Jember mampu kurangi ketergantungan pada impor terigu US $ 1,5 milyard, peneliti ITB pasti lebih bisa


Sebagaimana diketahui, untuk membuat Mie, Kue dll, Indonesia saat ini mengimpor 100% gandum dari luar negeri sebanyak kira-kira 4,5 juta ton per tahun.
Setiap harinya Rakyat Indonesia sangat tergantung dari pasokan gandum impor yang harganya saat ini sangat bervariasi yaitu antara US $ 220 s/d US $ 300 per ton Sehingga untuk bisa makan Supermie, kita membayar per tahunnya kira-kira US $ 1 s/d 1,2 Milyard.

Tidak hanya itu, Industri tepung terigu Indonesia , hanya bisa mengkonversi
maksimum 4,5 juta ton Gandum menjadi 3,4 juta ton tepung Terigu.
Sedangkan seluruh rakyat Indonesia memerlukan sekitar 3,5 s/d 4 juta ton tepung Terigu per tahunnya. Sehingga untuk menjaga harga, saat ini kita masih mengimport sekitar 500.000 ton tepung terigu tambahan dari berbagai Negara seperti Turki, Srilanka dan Australia.
Harga tepung terigu ini sekitar US $ 450 s/d US $ 600 ton/tahun. Jadi per
tahun-nya Indonesia mengimpor tambahan tepung terigu (selain impor gandum), sebesar US $ 0,2 s/d US$ 0,3 Milyard.

Jadi untuk kita bisa makan Bakmi Gajah Mada ataupun Dunkin Donut,
Rakyat Indonesia selama ini membayar sebesar US $ 1,2 s/d US $ 1,5 Milyard per tahunnya.

Melihat kondisi seperti itu, para insinyur praktisi di PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS)
mengambil inisiatif yang menurut saya cukup spektakuler. Mereka mengajak para
peneliti Mikrobiologi di Universitas Jember untuk membuat terigu dari Ketela.
Doktor Subagyo dari Fakultas Teknologi Pertanian dari Universitas Jember dan
para insiyur di PT TPS, bersatu-padu untuk mengkonversi ketela, yang banyak
ditanam di Indonesia, menjadi tepung terigu pengganti terigu dari Gandum.

Caranya adalah sangat unik dan sangat sederhana. Ketela setelah
dipanen, diproses secara Mikrobiologi (fermentasi) di desa tempat produksi dan
digiling menjadi tepung di lokasi. Tepung terigu dari ketela ini kemudian baru
dibawa ke pabrik pembuatan mie dan biskuit setelah berbentuk tepung terigu.
Salah satu desa yang telah mampu “diubah” menjadi lokasi industri
tepung terigu menggunakan ketela, adalah desa Trenggalek (lihat foto-foto).

Tahapannya sangat sederhana :

1. Ketela dipotong-potong & dikuliti lalu dimasukan kedalam karung
2. Karung yang berisi ketela tersebut di-“fermentasi” dalam bak beton (lihat foto kiri atas)
3. Setelah di-fermentasi beberapa hari, potongan-potongan ketela kemudian dikeluarkan dari karung dan dijemur menggunakan matahari menjadi semacam chip (lihat foto kanan)
4. Chip yang sudah relative kering digiling menjadi tepung (foto kiri bawah). Tepung ini kemudian dikirim ke pabrik Biskuit atau pabrik Mie sebagai pengganti tepung terigu dari Gandum.
Dengan cara ini ada berbagai efek manfaat (multiplier effect). Petani
ketela bisa memproduksi produk terigu yang jauh lebih mahal harganya, dari
harga jual ketela biasa. PT TPS tidak harus mengimport terigu dengan harga yang
sangat mahal, terutama karena nilai US $ semakin menguat. Disisi lain Indonesia
bisa menghemat devisanya.

Kenapa saya menjadi tahu tentang teknologi dan bisnis ini, karena para
pimpinan PT TPS datang ke kantor kami dan meminta bantuan perusahaan kami untuk
“membesarkan” operasi mereka. PT TPS berminat untuk melakukan
“multiplikasi” unit-unit pembuatan tepung terigu ke sebanyak
mungkin desa. Saat ini mereka sudah berhasil mengkonversi 30% tepung terigunya
dari Gandum ke Ketela. Dalam 2 s/d 3 tahun mendatang, mereka mentargetkan
100 % tepung terigu-nya berasal dari ketela. Berarti PT TPS akan sama sekali
tidak tergantung kepada terigu impor. Pada saat uji-coba rasa (taste test),
team kami tidak bisa membedakan mana biskuit ataupun mie yang menggunakan
tepung terigu dari Ketela dan mana yang menggunakan tepung terigu dari Gandum.

Mudah-mudahan “sharing” sederhana diatas bisa menumbuhkan
semangat para peneliti dimanapun anda berada.

Salam
Hengki

Nb : Ada
sebuah catatan kecil terhadap karier Dr Subagyo. Pada tanggal 14 Januari 2009, Universitas
Jember memutuskan
untuk menunda lagi gelar Professor bagi dirinya. Hal ini sudah terjadi 2
tahun berturut-turut. Walaupun seluruh persyaratan administrasi telah ia
peroleh & reputasi nasional serta internasional telah ia miliki, namun Subagyo
tetap tidak memperoleh gelar Professor dari Universitas Jember. Menurut
berbagai sumber, ia suka demo & tidak loyal.

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP