Showing posts with label JBD. Show all posts
Showing posts with label JBD. Show all posts

Waterworld ( part 1 )

>> Thursday, September 3, 2009

Sungkup Pelindung Sambungan Kabel Taman Anda

Anda pasti ingat saat The Mariner membawa Helen ke kedalaman laut untuk meyakinkannya bahwa the Dryland telah lama basah terendam air dalam filem Waterworld ( Universal Studio - 1995). Karena tidak memiliki insang sebagaimana the Mariner yang merupakan Ichtyus Sapien yang sebangsa mutan ikan, maka Helen ditempatkan dalam sebuah diving-bell atau sungkup kedap air dari plastik tembus pandang agar masih bisa bernapas sebagai manusia biasa. Meski agak berlebihan, bagian ini adalah salah satu bagian yang saya sukai dari filem yang entah kenapa menerima banyak kritik negatip tersebut.

Kevin Costner - Jeanna Tripplebout - Tina Majorino
( the Mariner - Helen - Enola )
Waterworld - Universal Studio - 1995


Menurut catatan di Wikipedia ( http://en.wikipedia.org/wiki/Diving_bell ) ternyata diving-bell secara konsep ternyata sudah didiskripsikan oleh Aristoteles pada 4 abad sebelum masehi. Banyak diyakini bahwa perangkat sungkup kedap air moderen baru dibuat dan digunakan pada pertengahan abad ke 16 (1535) oleh Guglielmo de Lorena . Entah siapa dia, mungkin juga nenek-moyang pemilik bis Lorena yang legendaris di jalan-jalan di Jawa Barat itu.

Alexander Agung dalam Sungkup Kaca
( Islamic Painting abad 16 - sumber Wikipedia )

Sejak pertama kali melihat gambar sungkup kedap air saya memang terkagum-kagum pada wahana yang memungkinkan orang bekerja di bawah permukaan air tersebut. Perkenalan pertama saya pada gambar perangkat ini terjadi pada saat saya mulai senang membuka-buka buku, meski baru bisa mengenal gambarnya. Buku yang memuat gambar sungkup-air adalah buku Natuurkunde ( kitab ilmu alam ??? ) milik ayah saya almarhum. Selalu asyik menanyakan pada ayah tentang gambar ini dan itu yang termuat dalam buku tersebut. Dari pelbagai gambar yang ada, maka the diving-bell ( taucherglocke ) menjadi salah satu gambar favorit saya. Sayang buku tersebut tersimpan di rumah saya di Solo sana sehingga saya tidak bisa menyalinnya untuk saya sajikan di sini. Namun kurang lebih gambar yang ada di buku tersebut mirip seperti gambar berikut :


Kekaguman saya terhadap sungkup inilah yang membawa saya pada ide-ide penggunaan sungkup kedap air untuk keperluan praktis lainnya di luar untuk perlindungan pekerjaan di dalam laut. Sebagian dari ide telah saya coba dan gunakan dan sebagian ide lainnya hanya sampai pada mereka-reka saja tanpa pernah mencobanya. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan saya tidak berkaitan di samping karena skalanya di luar kemampuan saya. Guyonnya seperti ini, saya tidak mau rame olehe nyoba njur sapa sing beya ( sibuk mencoba lalu siapa yang kasih beaya ).

Pada saat SMA, untuk bisa memiliki uang saku terkadang saya jadi tukang instalasi listrik atau lebih tepatnya tukang memperbaiki instalasi listrik untuk rumah-rumah beberapa kenalan dan keluarga teman-teman saya. Walau berkelas amatiran karena memang tidak memiliki sertifikat instalatur listrik dari PLN, namun tentu pekerjaan tersebut tidak saya lakukan asal-asalan. Kebetulan pula pada saat itu pengetahuan saya tentang listrik pada level instalatur cukup memadai dan tidaklah memalukan atau ngisin-isini.

Salah satu instalasi yang sering saya lakukan adalah perbaikan atau pemasangan lampu taman. Persoalan umum pada instalasi lampu taman adalah sering terpaksa harus menyambung kabel tanah. Meski hal ini tampak sepele bagi yang biasa menginstalasi listrik atau yang tahu soal listrik tapi saya sangat sering menjumpai kecerobohan atau kasarnya ketidak-pedulian dalam mengamankan sambungan di dalam tanah, bahkan oleh orang yang secara resmi bersertifikat instalatur. Seringkali saya jumpai sambungan kabel yang hanya di-isolasi secukupnya dan paling banter ditambah bungkus plastik lalu ditimbun tanah begitu saja. Pada jaman itu tentu konektor atau isolator kedap air yang khusus untuk sambungan kabel bawah tanah tidaklah mudah didapat atau bahkan tidak ada di daerah saya. Saat musim kering tentu tidak begitu masalah, meski harus diingat bahwa taman itu temannya air, jadi perlu secara rutin disiram. Nah persoalan serius terjadi pada saat musim hujan. Mudah dipahami bahwa air akan merembes pada sambungan yang tidak benar-benar rapat. Akibatnya, paling ringan lampu kedap-kedip atau tidak begitu terang ( bhs jawanya mbleret ). Kemungkinan lain yang bisa terjadi adalah kortsleuting ( = short-circuited, hubungan-singkat, hubungan-pendek atau ada yang nyebut kongslet ) yang mengakibatkan begrenser-nya jatuh atau dalam bahasa jawa disebut njeglek ( begrenser itu kalau sekarang kwh-meter + mcb). Yang lebih fatal, dan ini beberapa kali terjadi, ada orang menggelepar kesetrum saat melintas di genangan air di sekitar sambungan yang nekat dan ceroboh tersebut. Di jaman sekarang di kota-kota besar relatip mudah diperoleh alat atau perangkat untuk melindungi sambungan kabel yang ditanam di tanah. Namun pada jaman itu, atau barangkali juga hingga saat ini di kota kecil atau di daerah pedesaan tentu tidak akan diperoleh perangkat semacam itu.

Untuk mengatasi kesulitan tersebut sebenarnya caranya teramat mudah, murah dan yang paling utama andal. Cara tersebut menggunakan konsep sungkup kedap udara yang ditemukan Aristoteles di abad ke-empat sebelum masehi. Yang kita perlukan hanyalah sebuah botol-beling yang cukup tebal, misalnya botol obat-obatan. Untuk saat ini barangkali botol yang mudah di dapat adalah botol minuman yang berikut isinya hanya 1500 sampai 2000 perak saja. Jangan gunakan botol yang terbuat dari plastik karena suatu saat akan retak terkena panas dan menerima tekanan geser tanah. Untuk mempermudahnya, silahkan lihat sketsa di bawah ini :


Untuk meningkatkan ke-andal-an :
  1. Mengolesi dinding bagian dalam botol dengan oli, ter, atau vaselin dan menutup secukupnya mulut botol dengan gumpalan plastik yang sudah diolesi dengan oli atau ter. Tujuannya sederhana saja yaitu untuk agar botol tidak digunakan oleh semut, kelabang atau binatang-binatang kecil lain sebagai ruang tinggal yang nyaman dan hangat.
  2. Menutup mulut botol dengan gumpalan plastik atau material lain serapat mungkin juga untuk memperkecil kemungkinan pengumpulan uap air di dalam tabung. Bungkusan kecil silica-gel dapat diletakkan dalam botol untuk mengurangi uap air.

Yang sebenarnya tidak perlu saya tulis, tapi bolehlah saya ingatkan adalah :
  1. Sambungan kabel tetap harus diisolasi dan diatur sedemikan rupa sehingga tegangan api (hot) dan netral tidak bersentuhan.
  2. Atur agar kawat terbuka ( sambungan ) di dalam botol cukup tinggi dan tidak terlalu dekat dengan mulut botol agar kemungkinan kapilerisasi tidak menyentuk sambungan.
  3. Atur agar jarak antara kabel api dan netral tidak berdekatan atau bersinggungan agar tidak berlangsung peristiwa kapilerisasi yang dapat menyebabkan air merambat ke atas menyentuh sambungan kedua kabel.
  4. Perlu diingat bahwa botol hanya berfungsi untuk melindungi dari terendamnya sambungan listrik dari genangan air.

Cara murah ini benar-benar andal. Taman boleh basah sebasah-basahnya, hujan boleh turun sederas-derasnya atau banjir boleh menggenang sesuka-sukanya, selama botol tidak retak dan botol terisi udara dijamin sambungan listrik taman ( atau bahkan kolam ) anda tidak akan bocor dan nyetrum.

Terutama bagi sahabat-sahabat yang tidak biasa dengan listrik, perhatikan baik-baik apabila anda menyuruh orang menyambung kabel untuk ditanam di tanah atau di air. Kalau tidak menggunakan cara yang memadai, berkenanlah memberi tahu cara ini agar listrik anda aman bagi anda dan keluarga anda, di samping agar orang tersebut tidak melakukan kecerobohan pada pekerjaan-pekerjaan berikutnya. Semoga catatan sederhana ini dapat menghindarkan kecelakaan tersengat listrik yang tidak perlu terjadi akibat terendamnya sambungan listrik bawah tanah . Semboyan-nya :

--- apapun kabelnya botol-beling sungkupnya ---

Read more...

Menyeberangi Lautan Menggapai Kemerdekaan

>> Sunday, August 16, 2009

Catatan Pembuka :
Artikel ini pernah saya muat di milist ITB-74 ( 8 Jan 2008 msg no #19111) dan juga di blog-indie-journalist Kompasiana. Saya memuat kembali di blog ia-itb dengan maksud yang tetap sama seperti saat saya menuliskannya pertama kali, bahwa untuk mencapai suatu kemerdekaan dan kebebasan diperlukan kerasnya kemauan, optimisme yang tinggi dan sering kali ongkosnya adalah nyawa. Sengaja saya muat hari ini, 17 Agustus 2009, dalam rangka peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, ulang tahun kemerdekaan negeri kita yang ke 64.

Dirgahayu Republik Indonesia.
Selamat berbahagia,
selamat berjuang,
jalan di depan kita masih terbentang penuh rintang,
panjang, berliku, berbatu tak rata, penuh onak dan ilalang tajam bak sembilu.
Namun, apapun, republik ini harus tetap tegar, maju, melangkah, melaju !


-----


Menyeberangi Lautan Menggapai Kemerdekaan

Josef B. Dwiyono
Bantar Gebang, 8 Januari 2008.

Kemarin petang saya dan pasukan saya menyeberangi Selat Sunda dari Bakauheni ke Merak. Sebelumnya sudah saya baca laporan bahwa ketinggian ombak di Selat Sunda bagian selatan sekitar 2.5 - 3 m, cukup tinggi utk diseberangi. Tetapi di bagian utara mungkin paling tinggi sekitar 1 m yang masih aman untuk pelayaran. Dari bendera penanda arah-angin bisa dipastikan bahwa kecepatan angin lebih dari 20 knot. Sehingga ferry memang harus berlayar zig-zag menyesuaikan arah terjangan ombak. Saya rasa sang kapten tidak sempat menikmati musik dangdut kegemarannya karena harus bekerja dengan lebih serius. Dulu saya pernah beberapa kali bergurau dengan ombak yang setinggi 3 m atau kadang lebih dengan perahu nelayan yang panjangnya hanya 10 meteran. Sungguh sebuah kenikmatan advonturir yang sangat mengasyikkan meski sebenarnya tidak perlu dilakukan oleh orang yang cukup waras. Itu dulu sewaktu masih muda, tentu tidak pantas lagi bagi orang yang overseket seperti saat ini.

Saya sengaja berdiri di anjungan atas menikmati goyangan ombak sambil memandangi cakrawala yang dipenuhi oleh awan Cb ( cumulonimbus ) dengan semburat merah sinar matahari yang mulai tenggelam di balik punggung Anak Krakatau yang terus mengepul, sambil merenungi kedahsyatan our mother-nature. Tiba-tiba saja saya teringat pembicaraan saya dengan seorang ibu yang berusia sekitar 65-an tahun sewaktu dalam penerbangan panjang yang amat membosankan dari Detroit ke Narita dua bulan lalu. Ibu tersebut seorang wanita cina yang wajahnya sama sekali tidak menampakkan kekerasan hati. Wajah itu adalah wajah seorang nenek yang sehat, ceria yang penuh dengan optimisme. Sebuah wajah yang sangat happy. Karena kami bersebelahan maka saya coba untuk berbincang-bincang. Eh ternyata dengan senyum dan tawanya yang khas ibu tersebut kemudian banyak bercerita. Demikianlah kisahnya :

Ibu tersebut adalah seorang wanita cina kelahiran Cina Daratan, saya lupa daerah kelahirannya. Saat ini beliau dan suaminya tinggal di Philadelphia. Sudah hampir 40 tahun menjadi warga Amerika Serikat. Anak-anaknya meski mengerti bahasa cina tetapi karena besar di Amerika maka tidaklah fasih menggunakan bahasa ayah ibunya. Usaha suaminya sekarang adalah real-estate. Saat itu beliau dan familinya pergi ke Cina untuk menengok sanak-saudaranya, yang masih tinggal disana. Menurut si ibu paling tidak setahun sekali mereka berkunjung ke tanah leluhurnya. Catatan di atas bukan inti kisah sang nenek tersebut, tetapi ada di kisah berikut ini.

Sampai umur 20-an selepas SMA ibu tesebut tinggal di suatu desa di Cina Daratan. Kemudian saat penugasan negara untuk semacam bakti sosial atau wajib kerja di sebuah pedesaan dekat atau di sebrangnya Hong Kong, beliau beserta teman-temannya yang kesemuanya wanita mencoba melarikan diri dengan berjalan kaki selama beberapa hari menuju ke pantai yang paling dekat dengan Hong Kong. Perjalanan dilakukan di waktu malam untuk menghindari polisi. Siang hari mereka sembunyi dan tidur di sawah-sawah. Dengan modal pelampung sederhana mereka mulai menyeberangi selat / teluk menuju Hong Kong yang saat itu masih milik Inggris, untuk mencari kemerdekaan. Saya tanya kenapa harus pergi meninggalkan tanah-airnya ? Jawab ibu tersebut sangat singkat dan sederhana. Sambil meringis ringan ibu tersebut menjawab 'Mister, saya tidak suka dengan pemerintah komunis ! Itu saja jawabnya. Agaknya si ibu tidak mau bercerita panjang lebar mengenai hal tersebut. Barangkali saja akan malah membuka dan merobek luka lamanya.

















----
Dari sebuah peta di brosur turisme kecil
ibu tersebut sepintas menunjukkan
lintasan yang mereka sebrangi. Saya sudah lupa persisnya darimana awal keberangkatannya . Yang saya ingat adalah teluk tersebut dan dikatakannya jaraknya sekitar 40 sampai 50 mil ke arah Hong Kong yang merupakan lintasan terdekat untuk menyebrang. Lintasan dipilih dengan menjauhi pantai agar terhindar dari patroli pantai.

Dengan perkiraan kecepatan renang sekitar 1 hingga 2 mil per jam maka mereka memperkirakan sampai di H/K sekitar 2 hari 2 malam. Kenyataannya mereka harus berada di air sekitar 4 hari 4 malam karena angin, arus dan ombak di perairan yang menghadap Laut Cina Selatan tersebut ternyata sangat besar. Ada yang berani mencoba ?

---

Perjalanan menyeberang teluk dan selat mereka perkirakan sekitar 2 hari 2 malam berenang. Asumsinya tentu tidak ada angin, ombak dan arus laut. Ternyata mereka harus menempuh 4 hari 4 malam tanpa makanan. Akhirnya sampai di Hong Kong juga meski 4 dari 6 atau 7 wanita-wanita pemberani tersebut hilang ditelan ombak karena kecapaian. Ini sebenarnya penyeberangannya yang kedua. Yang pertama beberapa bulan sebelumnya ibu tersebut tertangkap polisi pantai, masuk penjara satu bulan kerja paksa. Ada yang beberapa kali tertangkap dan berakhir dengan hukuman tembak mati.

Dengan kekerasan hati, kebulatan tekad , optimistik yang tinggi dan tentu saja karena keterpaksaan akhirnya mereka memperoleh kemerdekaan yang mereka impikan. Dengan modal kemahirannya berbahasa Jepang, ibu tersebut bertukar ilmu bahasa dengan seorang guru bahasa inggris di kedutaan Amerika di Hong Kong. Hal ini menyebabkan bahasa inggrisnya amat bagus. Selanjutnya ibu itu sekolah keperawatan dan melanjutkan ke Amerika sampai suatu saat ketemu suami seorang arsitek cina yang asli warganegara Amerika. Agaknya suami istri tersebut cukup sukses dengan usahanya dengan membuka sejumlah toko dan real estate. Mereka menjadi keluarga sukses di Amerika.

Terus terang saat mendengar kisah tersebut saya merinding, haru dan diam-diam terkagum-kagum pada wanita kecil dengan wajah yang samasekali jauh dari kekerasan. Lembut seperti nenek-nenek yang biasa kita temui. Kemauan yang keras, definitip dan optimistik ( atau there were no other choices ). Menyeberangi lautan untuk meraih kemedekaan. Saya peluk wanita tua yang mungil namun tegar itu untuk menyampaikan rasa hormat saya. Sayangnya, cerobohnya saya, nama dan catatan alamat emailnya ketelisut entah kemana karena waktu sampai di Narita kita semua terburu-buru. Saya harus pindah pesawat menuju Singapore sedangkan ibu tersebut beserta familinya buru-buru ganti pesawat ke Seoul. Mudah-mudahan suatu saat nanti saya masih berkesempatan berjumpa dengan wanita tua mungil yang amat perkasa tersebut.

Ada catatan menarik lagi dari ibu tua itu, bahwa ternyata beliau sangat kenal negeri kita Indonesia. Si ibu mengatakan bahwa sewaktu kanak-kanak di sekolah mereka diajari menyanyikan lagu yang berasal dari negeri kita. Saya minta beliau untuk mencoba menyanyikannya kalau-kalau masih bisa. Si ibu bersemangat sekali dan dengan sungguh-sungguh mencoba mengingat-ingat lagu tersebut. Berulang-ulang ibu tersebut mencoba menyanyikannya, namun hanya sepotong saja yang masih diingatnya. Kurang lebih seperti ini yang saya tangkap : sola sola pakambia .. na na na na na na na. Dengan dialek cinanya yang khas dinyanyikannya berulang-ulang tapi beliau bilang sulit mengingat lanjutannya. Bisa dipahami karena sudah sekitar 50-an tahun yang lalu. Setelah saya dengarkan baik-baik akhirnya saya mendapat kepastian bahwa lagu yang dimaksud adalah sorak sorak bergembira, bergembira semua. Kemudian saya menyanyikan lagu tersebut secara lengkap untuk beliau. Tampak beliaunya senang sekali. Saya beritahukan kemudian bahwa lagu tersebut adalah luapan kegembiraan bangsa kami, orang-tua kami sewaktu bangsa kami berhasil merebut kemerdekaan dari penjajahan belanda. Saya lihat matanya berbinar begitu saya berulang kali menyebut kata freedom. Bisa dimaklumi mengingat kemerdekaan adalah inti hidup si nenek mungil tadi.
---
Penyeberangan kami di Selat Sunda kemarin sore sesungguhnya nyaman-nyaman saja bagi saya. Namun situasi tersebut telah mengingatkan saya pada pengalaman hidup seseorang yang menurut ukuran saya terlampau keras dan berat. Kami kemarin pulang menyeberang Selat Sunda dengan sedikit kekecewaan pada hasil pencapaian kerja selama dua minggu meski kami telah cukup keras berupaya. Akan tetapi sesungguhnya hal itu tidak ada artinya samasekali bila dibanding dengan perjuangan yang telah dilakukan ibu tersebut dalam upaya meraih kemerdekaan, seperti pula tidak ada artinya samasekali bila dibandingkan dengan perjuangan orang-tua kita semua saat berjuang merebut kemerdekaan dari cengkeraman penjajahan. Sesulit apapun, hidup memang harus selalu tegar dan optimis. Selamat bekerja.





Read more...

Kanthong Wewe

>> Saturday, August 15, 2009

Penyelamat Barang dari Genangan Air dan Banjir


Josef B. Dwiyono / EL-74


"Ngapa le, mripatmu kok abang, mau bengi ora turu ya ?", begitulah pertanyaan saya pada seorang sopir kolega saya ketika saya ketemu dia di tempat parkir sekitar awal tahun ini.


"Anu Pak, tadi jam 4 pagi saya ditelepon bapak untuk segera datang menyelamatkan mobilnya. Banjir Pak, takut seperti dulu nggak sempat mindahin ke tempat yang aman, kerendem air, elektroniknya pada rusak", begitulah kira-kira jawaban Mister Mairin sopir teman saya tadi.

.


Apapun mobil anda baik itu dari kelas 30-jutaan ataupun yang berkelas 3-milyaran, kalau sudah terendam air apa lagi hingga waktu yang cukup lama ya tentu akan rusak. Interior mobil tidak dirancang 100% watertight alias kedap air. Terendam air dalam tempo yang agak lama akan mengakibatkan air meresap ke dalam kabin. Akibatnya jelas, interior mobil anda akan rusak atau paling tidak berbau busuk. Ujung-ujungnya anda harus membersihkan, dan mengeringkan dalam beberapa hari. Bahkan lebih sering anda terpaksa harus mengganti secara total.

Selain karpet dan jok, perangkat lainnya yang bakal rusak adalah perangkat-perangkat elektronik. Yang pasti, sound processor, audio amplifier beserta stuff-nya dan perangkat video anda harus diganti bila telah terendam air . Tapi itu belum seberapa. Umumnya mobil sekarang sudah electronically controlled atau kerennya computer-controlled atau drive by wire tergantung yang bikin iklan. Meski perangkat kontrol elektronik ini oleh pabriknya sudah semaksimal mungkin dilindungi dari cipratan air maupun kelembaban udara, tapi kalau kerendam air dalam waktu lama ( ternyata ) ya tetap rembes juga, meskipun dalam iklan diberitakan spesifikasi proteksinya sekitar IP66 atau mungkin IP67. Perangkat kendali elektronik mobil memang tidak dirancang dengan proteksi IP69 yang totally water-proof dan hermetically shielded karena mobil-mobil anda memang bukan mobilnya James Bond yang di darat oke di dalam lautpun juga oke.


Perangkat elektronik kendali mobil umumnya tidak murah. Dan pada saat terjadi bencana banjir ternyata orang yang memerlukannya juga banyak karena yang terkena bencana juga banyak. Sehingga bukanlah tidak mungkin anda harus menunggu selesainya perbaikan hingga beberapa hari atau beberapa minggu. Ajaibnya dunia bisnis, walau ini musibah bagi anda, tetapi akan menjadi rezeki bagi pemilik pabrik, pemilik bengkel dan para pekerjanya, termasuk juga rezeki / musibah bagi perusahaan asuransi. Yang pasti akan menjadi berkah yang nikmat bagi para pemulung dan pengumpul barang bekas. Adil bukan ?


Saya sendiri belum pernah mengalami musibah banjir semacam itu karena kebetulan rumah saya masih berada di area yang masih bebas banjir. Entah 5 atau 10 tahun mendatang. Semoga saja tidak akan pernah. Kalaupun nanti jadi langganan banjir ya pindah saja, kenapa repot-repot.Walau demikian saya selalu sangat prihatin melihat korban bencana banjir. Keprihatinan ini ternyata memberi saya kesempatan ber-ide-ria yang meski sangat sepele tetapi saya yakin akan bermanfaat bagi khalayak ramai, baik yang kaya dan terlebih bagi yang tidak cukup kaya. Uraian ide ini saya contohkan untuk perlindungan mobil. Walaupun demikian ide ini dapat bermanfaat pula untuk melindungi barang-barang anda dari genangan air pada saat banjir seperti misalnya furnitur dan perangkat-perangkat elektronik rumah-tangga anda.


Sebetulnya ide ini sudah agak lama tersimpan di direktori SEUD di komputer saya ( SEUD : Sak Enake Udele Dhewe ). Hanya waktu itu saya berpikir hal ini terlalu sederhana dan atau sudah dilakukan orang lain. Saya sudah mencoba melacak di internet namun ternyata belum saya jumpai ide yang semacam ini. Termasuk sudah saya lacak di biro paten Amerika ( US Patent Office ), patent claim untuk hal semacam ini belum juga saya temukan. Saya belum pernah melacak paten-paten dari Eropa maupun negara lain termasuk yang ada di Indonesia. Ya mudah-mudahan saja belum ada yang mempatenkannya. Saya berharap demikian. Tolong infokan bila memang sudah ada yang mem-paten-kannya. Bila memang benar-benar belum ada yang melakukan first filing, mengingat paten itu antara lain berasaskan siapa yang pertama mempublikasi dan filing, maka saat ini juga jadilah first filing / publication dari ide ini. Kalaupun memang belum ada biarlah ide ini jadi milik publik saja. Silahkan siapa saja yang akan memanfaatkan dan memproduksinya. Totally free, no fee no royalty. (But no problems at all bila anda berkeinginan berbagi rezeki .... ha ha ha ha ha ha ! [ minjem ketawanya mendiang Mbah Surip boleh dong ! ] ).




Ide atau solusi ini saya sebut sebagai Kanthong Wewe yang disingkat sebagai K/W ( boleh dibaca sebagai ka-we maupun kee dabel yu ). Tidak ada maksud khusus yang menyangkut makhluk halus yang bernama wewe, tidak ada kaitannya sama-sekali dengan Wewe von Gombell di kota Semarang sana ataupun Wewe Waringin Growong yang sering dikisahkan oleh almarhum nenek saya. Saya juga tidak kenal dengan satu wewe-pun milik paranormal yang kini kian bertebaran saja di Nusantara. Jadi janganlah terlintas di pikiran anda bahwa ide ini datang dari para wewe. Tidak ada sedikitpun persekutuan saya dengan makhluk halus. Nama ini saya pilih agar mudah mengingatnya saja. Sokur bage kalau nantinya menjadi trade-mark.


Teknologi Tepat Guna memang kadangkala berangkat dari hal-hal yang remeh-temeh dan sederhana, tergantung kejelian mata dan kenakalan pikiran kita. Pada dasarnya K/W adalah kantong yang biasa kita gunakan sehari-hari, sebuah kantong dari bahan yang kedap air. Bila anda punya kantong plastik yang tidak bocor maka semua barang yang dimasukkan ke dalamnya pasti tidak akan terkena air meski anda rendam dalam kolam.


Maaf, meski terlambat saya menyajikannya tetapi semoga tetap bermanfaat. Saya juga berharap ide ini dapat dimanfaatkan sahabat-sahabat yang berminat dan berkehendak membantu saudara-saudara kita dengan menyediakan tambahan lapangan kerja, baik di dalam pembuatannya maupun pemasarannya. Mumpung musim hujan masih beberapa bulan lagi, dapatlah awal-awal kita siapkan si kanthong-wewe. Sedialah K/W sebelum banjir karena di jaman sekarang sedia payung tidaklah cukup lagi. Harapan saya sederhana saja, semoga saya bisa ikut mengurangi kesusahan sahabat-sahabat yang memang selalu kejatahan banjir di puncak musim hujan.


Rancangan ini mustinya ada beberapa kekurangan yang terlewatkan oleh mata saya dan keterbatasan pengetahuan dan kreatifitas saya. Silahkan memperkaya ide ini agar akhirnya benar-benar andal dan bermanfaat bagi kita semua. Paparan gagasan saya tersebut saya tuangkan sebagai gambar berikut ini.




Gambar 1 :


Gambar 2 :

Gambar 3 :

Gambar 4 :

Gambar 5 :


Catatan Kontruksi :

( Silahkan mengkoreksi dan memperkayanya agar semakin sempurna .)

  1. Bahan K/W dapat dibuat dari plastik, terpal, kain parasut, nylon maupun dari bahan yang lumayan haitek semacam kevlar atau serat karbon.

  2. Penyambungan dapat dilakukan dengan pengeleman dan jahit atau dengan metode yang lebih haitek semacam ultrasonic plastic welding.

  3. Untuk kontruksi yang Self Forming ( = yang tanpa menggunakan tire-pocket ) - mengingat K/W bagian bawah haruslah menempel ke badan mobil atau bagian bawah mobil, maka ukuran kantong jangan dibuat pas, haruslah dibuat lebih. Kedodoran sedikit tidak mengapa ( wong bukan celana saja kok. ) Upaya ini untuk mengurangi gaya Archimedes akibat air yang terpindahkan di samping untuk mengurangi stress yang tinggi pada kantong bagian bawah saat memperoleh gaya angkat air. Kalau terlalu ketat maka seperti halnya celana, saat kita jongkok bisa-bisa mak regedeg brekkk ..... sobeklah dia !

  4. Mengingat bagian bawah mobil, terutama di daerah mesin ada beberapa ujung yang menonjol, agak runcing dan mungkin tajam maka agar K/W tidak bocor atau sobek saat tertekan air seharusnyalah bagian dasar K/W dibuat lebih kuat dengan pelbagai upaya seni keinsinyuran yang anda-anda miliki. Misalnya saja bagian dasar dibuat dengan lapisan yang lebih tebal. Atau dapat pula dipasangi papan tripleks, baik itu sudah terintegrasi dengan K/W maupun yang modular. Atau cara lain yang tepat guna(nya). Ingatlah, bahwa tekanan hidrostatis (plus dinamis kalau airnya goyang-goyang ) bisa cukup besar.

  5. Kanthong-Wewe ini hanya untuk melindungi mobil yang rendaman airnya tidak terlalu tinggi. Kalau genangan air terlalu tinggi, misalnya hingga lebih dari 1 meter, mengingat mobil anda beratnya tidak akan lebih dari 3 ton, maka mobil dalam K/W akan menjadi seperti kantong apung atau bahkan seperti perahu. Bila memang terjadi seperti itu, maka sekali lagi dengan seni keinsinyuran anda, perlu anda cari metoda anchoring ( pen-jangkar-an ) dan perlindungan ekstra yang sesuai dan tepat. Kalau tidak maka mobil anda akan pontang-panting kesana kemari nabrak dinding atau bangunan rumah lainnya. Atau kalau mobil anda terparkir di jalan raya, bisa jadi mobil anda akan berlayar kesana kemari dan mungkin malah masuk garasi tetangga atau bahkan terbawa hingga pasar mobil bekas. Untuk kasus semacam itu barangkali saja atau ada baiknya kita mengintip cara-cara yang digunakan untuk menambat perahu, yaitu dengan tali dan memasang ban pelindung pada sisi-sisi mobil agar tidak rusak karena terbentur-bentur.

Selamat berkolaborasi dengan wewe. Eh maaf, selamat menggunakan kanthong-wewe. Motonya :

Apapun mobilnya - kanthong-wewe pelindungnya.



Read more...

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP