Showing posts with label Sepakbola. Show all posts
Showing posts with label Sepakbola. Show all posts

Kesebelasan Indonesia vs Argentina di Piala Dunia

>> Thursday, July 30, 2009

Oleh Cardiyan HIS


Manchester United batal dijajal Indonesia All Stars di Stadion Utama Bung Karno, Senayan, Jakarta, gara-gara bom teroris. Biar tak terlalu kecewa ditampilkan pertandingan nostalgia PSSI melawan Argentina yang dikapteni Diego Armando MARADONA di Piala Dunia Yunior 1979 di Tokyo, Jepang.



PSSI dapat durian runtuh. Arab Saudi sebagai juara Piala Asia Yunior 1978 mengundurkan diri karena alasan tidak siap. Maka otomatis PSSI yang semifinalis Piala Asia Yunior 1978 terkatrol bersama tuan rumah Jepang dan Korea Selatan mewakili Asia ke Piala Dunia Yunior 1979 di Tokyo, Jepang. Ali Sadikin sebagai Ketua Umum PSSI langsung menunjuk Soetjipto Soentoro yang baru saja pulang setelah dikirim PSSI ke Jerman Barat (ketika itu) mengikuti kursus pelatih yang diselenggarakan oleh FIFA dan kemudian terpilih sebagai pelatih terbaik dan berhak memiliki sertifikat kelas A.


Soetjipto "Gareng" Soentoro (almarhum) yang mendapat kepercayaan, langsung memilih pemain. Pemain yang dipanggil Soetjipto adalah pemain pilihan yang masih muda penuh talenta yakni Endang Tirtana, Sudarno, Eddy Harto (Penjaga Gawang), Nasir Salassa, Mustafa Umarella, Nus Lengkoan, Subangkit, Didik Dharmadi, Tonggo Tambunan (kakaknya Patar Tambunan), Ristomoyo, Aun Harhara (adik pemain timnas senior Sutan Harhara), Catur Sudarmanto (Belakang), Arief Hidayat (kapten, adik pemain timnas senior Sofyan Hadi), Berti Tutuarima, Mundari Karya, Herry Kiswanto, Zulkarnaen Lubis, Rully Nere (Gelandang), Bambang Nurdiansyah, Wahyu Tanoto, Bambang Sunarto, Dede Sulaeman (Penyerang).


Timnas ini melakukan rangkaian banyak ujicoba dari mulai Aceh, Medan, Bandung, Surabaya, Makassar sampai ke Jayapura. Bahkan sampai kota-kota kabupaten di Jawa Barat seperti Tasikmalaya dan Ciamis pun dijadikan ajang ujicoba. Sebagian besar ujicoba dimenangi oleh tim asuhan Soetjipto ini. Sayang tak ada ujicoba ke luar negeri atau melawan tim luar negeri yang didatangkan ke Jakarta. Sehingga PSSI tak bisa mengukur kekuatan sebenarnya bila dibanding kemajuan kesebelasan sepakbola negara lain.


Soal banyak ujicoba sampai ke kota-kota kecil: "Agar menggugah anak-anak muda untuk menjadi pemain nasional kelak," ungkap Soetjipto kepada penulis dalam buku biografinya (Cardiyan HIS, "Si Gareng Menggoreng Bola", Penerbit Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta 1988). Gareng adalah julukan Soetjipto Suntoro, Kapten Timnas Indonesia tahun1966-1970 yang sangat hebat performanya. Sehingga ia dipercaya pula sebagai kapten tim Asian All Stars tahun 1967-1970. *)


Indonesia masuk di grup maut bersama Argentina, Yugoslavia dan Polandia. Karena kurang pengalaman dan tak memiliki kompetisi yang teratur dan ketat, Indonesia menjadi bulan-bulanan lawan. Penyerang Bambang Nurdiansyah praktis tak bisa mendekati gawang Argentina. Sementara lapangan tengah Indonesia yang dikoordinasikan oleh Arief Hidayat, kalah kelas dengan Diego Maradona. Maka pertunjukan lebih banyak berada di pertahanan Indonesia. Kalau saja penjaga gawang Endang Tirtana tidak bermain cemerlang dengan melakukan banyak safety gemilang, Argentina yang dikapteni Diego Armando MARADONA dipastikan akan memukul telak Indonesia lebih dari 6-0. Setelah wasit meniup peluit panjang, pemain-pemain Indonesia segera berebut berfoto bersama Maradona yang dengan senang hati melayaninya. Sementara pada pertandingan berikutnya, Yugoslavia dan Polandia mencukur Indonesia masing-masing 5-0.


Akhirnya Argentina keluar sebagai juara setelah di final mengalahkan juara bertahan Uni Soviet (Rusia sekarang) dengan skor 3-1. Uni Soviet sebenarnya memimpin dulu 1-0 sampai menit ke 60. Tetapi Argentina mendapat penalti pada menit ke 61, yang tak disia-siakan oleh Maradona. Setelah gol penalti ini, Maradona dkk mengamuk dan menambah 2 gol lagi.


Tapi ada pengalaman berharga yang berhasil diserap oleh Soetjipto dari pelatih timnas Argentina Yunior dan ArgentinaSenior berkelas dunia; Cesar Louis Menotti. "Menotti banyak memberi tips, baik segi teknik maupun non-teknik tentang bagaimana menciptakan kesebelasan tangguh. Indonesia harus memiliki kompetisi yang tertata baik sejak jenjang yunior sampai senior," ungkap Soetjipto Soentoro yang mendapat kehormatan untuk ketemu empat mata dengan Menotti, dalam kesempatan terpisah.


*) Catatan tentang Soetjipto Soentoro sebagai bintang Asia:
Sebagai pemain dan kapten timnas Indonesia, Soetjipto Soentoro, memimpin Indonesia meraih kejayaan di peta sepakbola Asia. Indonesia menjuarai turnamen-turnamen bergengsi di Asia seperti Agha Khan Gold Cup (Pakistan Timur, sekarang Bangladesh) 3 tahun berturut 1966, 1967 dan 1968; King’s Cup Thailand pertama pada tahun 1968; Merdeka Games (Malaysia) 1969.


Tak mengherankan bila Indonesia mendominasi dari segi jumlah pemain yang masuk tim Asia All Stars ini. Sebab disamping Soetjipto ada Iswadi Idris, Yacob Sihasale dan Abdul Kadir. Dari negara lain adalah Tian Aung dan Suk Bahadur (Birma, Myanmar sekarang), Kunishige Kamamoto (Jepang), Jarnel Sing (India), Kim Yung Nam dan Kim Sam Rha (Korea Selatan), Abdul Gani bin Mirhat dan Chow Che Keong (Malaysia), Niwat (Thailand) dan Spigler (Israel, dulu masuk grup Asia). Spigler ini adalah pemain Asia pertama yang bergabung dengan klub elite Cosmos, New York, dimana Pele, Franz Beckenbauer, Carlos Alberto dan Chinaglia bermain.

Read more...

Pertandingan Dahsyat Kesebelasan Indonesia vs Werder

>> Wednesday, July 29, 2009

Oleh Cardiyan HIS



Meskipun kalah tipis 5-6 dari Werder Bremen, juara Bundesliga 1965, tetapi kita menang soal “gorengan bola”. Dan Soetjipto Soentoro dijuluki “Pele” karena tukang sulap yang ulung dan sulit dijaga pemain belakang Werder. Kalau Soetjipto dan Max Timisela mau, klub Werder Bremen bersedia menerimanya.



Mengenai jalannya pertandingan antara kesebelasan nasional Indonesia dan juara Bundesliga Werder Bremen, kantor berita “Antara” Koeln memberitakan bahwa pertandingan berjalan dengan sangat bermutu. Sejumlah 23.000 penonton di antaranya ratusan penonton Indonesia datang dari segala penjuru Jerman Barat (ketika itu). Timnas Indonesia bermain untuk yang ke 10 kalinya dalam rangka tour Eropa, dengan tangkas dapat melakukan teknik persepakbolaan yang pada hakekatnya tidak kalah dengan tingkat teknik Eropa.


Suasana pertandingan pada permulaan memang dirasakan oleh kita semuanya, pihak tuan rumah seperti menganggap enteng ditambah tekanan-tekanan para suporter mereka yang terkesan melecehkan. Terlebih setelah mereka berhasil membobol gawang Indonesia tak lama setelah “kick-off”. Tetapi Indonesia tak jatuh mental bahkan berbalik menekan Werder Bremen dan menciptakan dua peluang bagus pada menit ke 17 dan 20 melalui Soetjipto Soentoro (Persija) dan Max Timisela (Persib). Dan akhirnya pada menit ke 30, setelah dikeroyok 3 pemain belakang Werder, Soetjipto mengelabui kiper mereka dengan gol indah.


Boleh dikatakan permainan menjadi berimbang meski kemudian Werder kembali unggul 2-1. Namun setelah itu, Indonesia lebih menguasai permainan sampai menyamakan kedudukan 2-2, kembali lewat gol Soetjipto. Skor bertahan sampai turun minum.


Sesudah mengaso, semangat Indonesia makin tinggi. Pada jam 20.42 waktu Jerman, atas tendangan sudut, Soetjipto berhasil meneruskannya menjadi gol. Indonesia memimpin 3-2. Dan penonton Jerman mulai bungkam karena terpaku dengan serangan gencar Indonesia yang penuh kejutan. Misalnya operan-operan panjang langsung ke kiri luar atau kanan luar, sering bikin pemain-pemain Werder Bremen kebingungan. Bagi Indonesia inti serangan dipusatkan pada 3 penyerang. Tetapi ketiganya sangat bikin kacau pemain belakang Werder Bremen yang merupakan pemain-pemain timnas Jerman Barat. Malahan kadang-kadang ada di antara mereka terus meneriaki “Pele Pele”, itu mutiara hitam dari Brazil, agar terus menjaga dan menempel Soetjipto “Pele” Soentoro, yang dalam pertandingan tersebut adalah “goal getter” yang paling berhasil.


Pada suatu duel di muka gawang Indonesia, wasit Redelfs dari Hanover, menganggap salah seorang pemain Indonesia menjegal lawan. Padahal menurut pengamatan wartawan “Antara” tak ada pelanggaran keras yang mesti dihukum wasit. Pemain Indonesia protes, tapi tak digubris wasit. Werder dapat hadiah penalti. Skor menjadi 3-3.


Rupanya “kelicikan” wasit tak membuat mental jatuh. Hanya dalam beberapa menit kemudian Indonesia memimpin lagi 4-3, melalui gol taktis “solo run” Tahir Jusuf atas operan panjang yang manis dari tengah lapangan sehingga mengejutkan pemain belakang Werder.


Sayang 8 menit kemudian Werder dapat menyamakan kedudukan 4-4, melalui “canon ball” pemain tengahnya. Ditambah 1 gol lagi kedudukan malah berbalik menjadi 5-4 untuk Werder.


Dengan semangat “banteng ketaton” akhirnya gol kelima Indonesia tercipta melalui “sett-up” operan segitiga yang cepat dan manis sekali, Max Timisila menyelesaikannya dengan cantik pula. Skor akhir 5-6 untuk tuan rumah juara Bundesliga Werder Bremen!


Publik Jerman Kagum


Di kalangan Indonesia sendiri meskipun kalah tipis, namun dirasakan sebagai kemenangan. Mengapa? Karena mereka puas melihat mutu permainan kedua kesebelasan yang berstandar Eropa. Kalaupun ada sedikit kekecewaan adalah soal hukuman penalti. Sebab kalau tak ada hukuman penalti minimal skor yang fair adalah 5-5.


Dari pihak Jerman melalui pelatih Brocker ada rasa kagum dan heran yang ditujukan tak hanya kesebelasan Indonesia yang dianggapnya sudah memiliki tingkat permainan kelas dunia. Juga mereka melihat “handicap” yang ada soal tinggi dan lebih ringkihnya badan pemain-pemain Indonesia, ternyata dapat dikompensasikan dengan “gorengan bola” yang sangat lincah dan operan tik-tak cepat yang sangat teliti terutama pada diri Soetjipto.


Pelatih Werder, Brocker selanjutnya memuji pemain-pemain Indonesia yang dari segi teknis “perfect”, sangat pandai menguasai bola dan gesit. Selama main dalam kompetisi “seizum” 1965, Werder tak pernah kebobolan gol sebanyak lima. Padahal dalam melawan Indonesia telah mengajukan pasangan yang terkuat banyak di antaranya pemain-pemain tim nasional Jerman Barat. Oleh karena itu, Brocker memuji sistem permainan Indonesia yang sering memberikan “long passing” dari sayap ke sayap yang lain. Menurut pelatih Werder ini pertandingan berlangsung dengan mutu tinggi, berjalan cepat dan sama sekali tidak menjemukan. Semua gol yang dicetak, baik oleh Werder maupun Indonesia adalah “gol-gol ideal” yang tidak dapat dilihat tiap hari.


Wasit Redelfs yang juga diwawancarai wartawan “Antara” mengatakan bahwa pertandingan telah berlangsung dengan fair. Ia mengatakan bahwa Indonesia merupakan kesebelasan terkuat di Asia Timur. “Saya yakin setiap klub sepakbola Jerman Barat akan bersedia menerima pemain-pemain seperti Soetjipto dan Max, yang sangat berkualitas”. Kedua pemain Indonesia ini memang paling banyak mendapat tepuk tangan riuh setiap kali ia “menggoreng bola” dan “menipu” para pemain belakang Werder Bremen yang tinggi besar itu.


• Disarikan dari buku: Cardiyan HIS, “PSSI Tempo Doeloe Hebring”, Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta, 1988.

Read more...

Kesebelasan Indonesia lawan Uni Soviet

Oleh Cardiyan HIS



If there was an Olympic Medal awarded for courage, tenacity and refusal to admit inferiority, the INDONESIAN SOCCER TEAM would have won it hands down yesterday at Olympic Park. They confounded experts, amazed the spectators and worried the Russian team a scoreless draw, even after extra time had been ordered. It was the most fantastic soccer match I have ever seen. (Bill Fleming, senior soccer writer at the AGE news paper, Australia, 30 November 1956).



Hari yang sudah lama dinanti-nantikan akhirnya telah tiba. Stadion Olimpiade ke XVI di Melbourne pada tanggal 29 Nopember 1956 telah dipenuhi penonton yang akan menjadi saksi pertandingan antara favorit juara Uni Soviet (Rusia sekarang) melawan kekuatan Asia yakni negara tetangga Australia; INDONESIA !!!!


Sebelum pertandingan berlangsung, beberapa pemain inti Indonesia didera cedera. Dipastikan mereka tidak bisa tampil yakni Ramli (asal PSMS Medan), Rukma dan Ade Dana (keduanya berasal dari Persib Bandung disamping Danu dan kapten Persib dan tim nasional Indonesia Aang Witarsa). Padahal ketiga pemain ini boleh dikatakan pemain ulung yang nyaris tak tergantikan. Padahal lawan yang akan dihadapi adalah Uni Soviet yang dua hari sebelumnya baru saja mengalahkan favorit lainnya yakni Jerman dengan skor 2-1.


Pelatih Indonesia asal Yugoslavia; Tony Pogacknik harus putar otak. Dimanakah sebenarnya letak keunggulan Uni Soviet? Yang pasti ialah secara perseorangan mereka masing-masing adalah jauh lebih ahli atau lebih mahir dari pada pemain-pemain Indonesia. Pun di dalam hubungan keseluruhannnya, mereka lebih utuh, dan kokoh. Napas mereka lebih panjang, larinya lebih cepat, tendangannya lebih keras, orangnya tentu saja lebih besar dan lebih kuat pula dari pada pemain-pemain Indonesia. Ini belum lagi terhitung kelebihan mereka dalam hal teknik dan taktik permainannya. Jadi pendek kata, Indonesia harus ekstra waspada.


Sungguh pun demikian, Tony masih dapat menemukan kekurangan mereka. Dan yang pasti ketika melawan Jerman, jarang terlihat tembakan-tembakan yang jitu dan membahayakan gawang Jerman. Kebanyakan tendangan keras mereka kalau tidak menyamping ke gawang, ya jauh melambung di atas gawang Jerman. Dua gol yang tercipta pun sepenuhnya merupakan keunggulan permainan individu pemain Uni Soviet, bukan hasil permainan kolektif melalui sett-piece yang cantik.



Taktik Indonesia: Pertahanan Diperkuat


Satu-satunya jalan ialah kita harus memperkuat barisan pertahan kita, sekokoh-kokohnya. Dan siasat tersebut ternyata berhasil diterapkan dengan bagus oleh para pemain Indonesia. Barisan kita di belakang, dibuat berlapis-lapis. Yaitu: tiga orang back sejajar, membujur dari kanan ke kiri, terdiri dari Rasyid-Kiat Sek-Chaeruddin. Benteng ini sungguh kuat dan lincah sekali dalam gerakan-gerakannya, seperti penjalin yang dapat dibengkok-bengkokka n dan dapat dipentalkan kembali. Inilah sebenarnya barisan atau lapisan terakhir yang membentang di depan gawang Saelan.


Sebelum lapisan ini, maka membentang pula suatu pagar, yang melintas di depannya, siap menerima pukulan-pukulan yang pertama dari Uni Soviet. Dan pagar yang sangat gigih ini terdiri dari pemain-pemain yang sangat ulet, yaitu Siang Liong-Him Tjiang-Liong Houw. Jadi sebelum bola dapat mendekati pada gawang Indonesia, terlebih dahulu harus dapat melewati pagar ini, kemudian sampailah kepada benteng yang kedua. Dan biasanya, di sini barisan penyerbu lawan sudah kehilangan daya kekuatannya. Karena sudah mendapatkan rintangan-rintangan dalam dua lapisan berturut-turut.


Kemudian untuk dapat menghubungkan antara depan dan belakang, maka harus ada salah seorang yang benar-benar dapat menyelenggarakan tugas yang sangat berat tersebut. Yaitu orang yang benar-benar mempunyai daya tahan dan napas yang sangat kuat karena dia harus berkeliaran ke segala tempat yang diperlukan, baik ke belakang maupun ke depan bahkan jika perlu harus ikut bertahan atau ikut menyerang pula. Orang yang dipercaya Tony Pogacknik sebagai “tukang pikul air” ini adalah Ramlan.


Dan tinggalah sekarang ketiga pemain depan terdiri dari kapten tim Aang Witarsa, Danu dan Ramang. Pemain-pemain ini adalah pemain pilihan tentu saja karena merupakan pemain yang sangat cepat, berani dan mempunyai tendangan keras dan jitu. Sebab mereka hanya bertiga harus melawan 4 atau 5 pemain belakang lawan. Sayanglah karena Danu badannya tidak fit benar, maka kekompakan yang diharapkan dari barisan penyerang ini kurang memberikan hasil optimal.


Maka taktik pertahanan yang diperkuat menjadi pilihan akhir. Taktik semata-mata hanya untuk memperoleh pertahanan yang sangat kuat; “apa boleh buat diperuntukkan untuk mempertahankan diri agar supaya lolos dari kekalahan”.


Dalam pertandingan itu Uni Soviet telah menendang bola ke luar melalui garis gawang (out keeper) sebanyak 46 kali. Menembak 20 kali yang dapat ditangkap dengan gemilang oleh penjaga gawang Saelan. Uni Soviet memaksakan tendangan penjuru sebanyak 23 kali!


Dan di perpanjangan waktu 2x15 menit, penyerang-penyerang Uni Soviet yang sudah kehilangan akal untuk membobol gawang Indonesia, maka dengan segala cara mencoba memforsir satu penalti. Yaitu ketika ada kemelut di depan benteng Indonesia, maka penyerang mereka sengaja menjatuhkan diri seolah kesakitan luar biasa. Tetapi untunglah wasit tidak dapat dipengaruhinya, seperti ditulis reporter the SUN: “ ....in sheer desperations at one stage, the Russian tried to force a penalty kick decisions in their favour, but desisted when the referee failed to impressed ....”


Dan akhirnya Indonesia pun tetap berhasil menahan raksasa Uni Soviet dengan skor 0-0.


Dalam pertandingan ulangan keesokan harinya, Uni Soviet berhasil mengalahkan Indonesia -----yang pemain-pemainnya telah cedera dalam pertandingan semalam namun tetap dipaksakan tetap bermain, karena Ramli, Rukma dan Ade Dana pemain sebelumnya juga tak dimainkan ditambah Danu yang cedera pada pertandingan semalam---- dengan skor 4-0. Uni Soviet pula akhirnya yang menjuarai Olimpiade ke XVI di Melbourne, setelah di final mengalahkan Yugoslavia dengan skor 1-0.


Bahan: Cardiyan HIS, “PSSI Tempo Doeloe Hebring”, Penerbit Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta 1988.

Read more...

Final Sepakbola Persib vs PSMS 1985

Oleh: Cardiyan HIS



Bagaimana Berusaha Menjadi Orang Sportif? Sementara sekarang Bobotoh menuntut Persib menang terus. “Kalau harus menang terus mah atuh Persib juara dunia”, kata Pak Ateng Wahyudi, mantan Ketua Umum Persib dan Walikota Bandung.



Adakah sejarah pertandingan sepakbola di Indonesia yang sangat bermutu tinggi? Pertandingan yang sekaligus menguras emosi penonton tetapi semua pihak yang terlibat tetap menjunjung tinggi sportifitas, sehingga tak terjadi kerusuhan?

Ada. Tetapi sangat langka. Dan yang langka itu adalah "Final Persib vs PSMS 1985". Saya yakin ini merupakan pertandingan sangat heroik dalam sejarah sepakbola Indonesia setelah partai berkelas dunia kesebelasan nasional Indonesia melawan Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1 Desember 1956, dimana Indonesia berhasil menahan Uni Soviet dengan 0-0. Kemudian pertandingan Pra Olimpiade Montreal tahun 1976, dimana kesebelasan nasional Indonesia harus tersingkir oleh Korea Utara lewat adu penalti. Mengapa dipilih pertandingan "Final Persib vs PSMS 1985"? Karena alasan sebagai berikut:


Pertama; Bagaimana Persib yang sudah ketinggalan 0-2 dari PSMS di babak pertama, dapat menyamakan kedudukan 2-2 melalui penalti Iwan Sunarya. Dan gol kelas dunia Ajat Sudrajat melalui sundulan kepala yang sangat indah dari sedikit saja dari luar kotak penalti PSMS, menyambut tendangan sudut Iwan Sunarya. Sundulan Ajat yang cukup jauh jaraknya untuk ukuran sebuah gol dengan kepala ini menerpa mistar bagian dalam PSMS Medan. Sehingga kiper hebat Ponirin Mekka sampai bengong tak bereaksi. Soetjipto "Gareng" Soentoro, bintang PSSI di era 1960-an dan awal 1970-an yang jadi komentator melalui RRI Jakarta ketika itu, menyebutnya sebagai gol spektakuler yang berkelas dunia. Mirip golnya Paul Mariner di English League, goal getter timnas Inggris tahun 1970an......


Kedua; Dari segi penonton benar-benar rekor dunia pula. Bayangkan stadion Senayan yang dalam keadaan normal berkapasitas 110.000 orang ketika itu (belum direnovasi seperti sekarang yang kapasitasnya menjadi 88.000 kursi) dipaksakan melampaui kapasitasnya. Baru dalam sejarah Senayan penonton dibolehkan nonton sampai luber ke pinggir lapangan, tempat biasanya para anak gawang memungut bola out. Menurut buku Asian Football Confederation (AFC) terbitan 1987, pertandingan ditonton oleh 150.000 orang yang merupakan pertandingan terbesar dalam sejarah pertandingan amatir di dunia (waktu itu masih kejuaraan Perserikatan, bukan Liga Super Indonesia seperti sekarang ini).


Ketiga; Meskipun penontonnya demikian banyak, kedua suporter tak saling bentrok sepanjang pertandingan berlangsung. Dan ternyata para suporter Persib khususnya tetap sportif menerima kekalahan dari PSMS untuk kedua kalinya pada final melalui adu penalti setelah pertandingan diperpanjang 2x15 menit skor tetap 2-2. Ya Persib kalah untuk kedua kalinya karena tahun 1983 Persib kalah juga dari PSMS melalui adu penalti setelah perpanjangan waktu. Pasca pertandingan tak terjadi kerusuhan sedikit pun. Padahal kerusuhan menjadi kejadian biasa belakangan ini bahkan eksesnya merembet sampai ke luar lapangan sehingga menjadi liar dan memakan korban jiwa dan harta benda. Bobotoh Persib pulang ke Jawa Barat (Banten masih masuk Jawa Barat) dan juga bobotoh yang tinggal di Jabotabek, dengan hati sangat sedih. Tetapi mereka tetap lapang dada. Mengapa? Karena Ajat Sudrajat dan kawan-kawan kalah sangat terhormat setelah berjuang sampai keringat terakhir tak menetes lagi. Atau dalam kata-kata mantan kapten tim nasional Ronny Patinasarani "Persib menang teknik dalam pertandingan final ini tetapi kalah mental dibanding PSMS". Luar biasa.


Keempat; Pasca pertandingan Persib-PSMS ini perseteruan di lapangan berlanjut ke persahabatan di luar lapangan. Pemain-pemain Persib diundang untuk memperkuat PSMS memenuhi undangan Singapura untuk turnamen Piala Merlion. Maka Ajat Sudrajat, Kosasih, Robby Darwis, Sukowiyono dan Iwan Sunarya beberapa minggu mencicipi latihan bersama Ponirin dan kapten Sunardi A dkk di stadion Teladan, Medan. Penonton Medan mengelu-ngelukan Ajat Sudrajat sebagai "Soetjipto Soentoro Baru".


Pertandingan ini sangat sarat dengan pelajaran berharga bagaimana sebuah sportifitas sebaiknya dikembangkan secara baik dan dewasa; penuh kekeluargaan seperti ciri budaya Bangsa Indonesia ketika itu. Sekarang di Bandung; banyak bobotoh Persib sudah juga anarkis meniru “koleganya” Bonek Persebaya Surabaya dan Jakmania Persija. Kalau dulu teriakan bobotoh “Persib Butut... Persib Butut” merupakan kritik mujarab membalikkan keadaan di lapangan menjadi Persib yang hebring lagi. Maka sekarang sudah berubah; “Persib Butut, Bobotoh Juga Butut”. Bobotoh menuntut Persib menang terus. “Kalau harus menang terus mah atuh Persib juara dunia”, kata Pak Ateng Wahyudi, mantan Ketua Umum Persib dan Walikota Bandung. Dunia memang sudah berubah, sehingga perilaku suporter juga berubah? Perlu penelitian para ahli psikologi massa dari Unpad atau UI barangkali.


SEMENTARA itu. Bumbu lain setelah pertandingan Persib vs PSMS 1985 ini, Ajat "dibawa kabur" oleh seorang selebritis ke sebuah hotel berbintang. Konon katanya mau "dikasih hadiah". Entah hadiah kecupan mesra atau apa. Yang benar menurut pengakuan Ajat kepada saya ketika menulis biografinya (Muhamad Kusnaeni dan Cardiyan HIS, "Intinya Pemain Inti untuk PSSI", Penerbit Gemadinamika Mediatama, Jakarta 1987):


"Ah, Kang, saya mah cuma nonton film Kungfu di bioskop hotel Kartika Chandra bersama Hetty Kus Endang". Hetty yang masih jomlo ketika itu; malah "nyengir" ketika dicegat wartawan; "Ah enggak, saya mah ngan ngajak Ajat nonton pelem supaya melupakan kekalahan maen bola. Paling rencana kedepan saya dengan Ajat mau berduet nyanyi untuk rekaman tahun ini .....".


Hidup Persib. Hidup PSMS.


*Cardiyan HIS juga menulis artikel dan buku sepakbola antara lain: "PSSI Tempo Dulu Hebring"; "Si Gareng Menggoreng Bola, Sebuah Biografi Soetjipto Soentoro"; dan bersama Muhamad Kusnaeni; "Intinya Pemain Inti untuk PSSI, Sebuah Semi Biografi Ajat Sudrajat dan Ricky Jacobi".

Read more...

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP