Showing posts with label Mahasiswa. Show all posts
Showing posts with label Mahasiswa. Show all posts

Menangani Mahasiswa Sebagai Bagian Proses Pendidikan. Rektor Mau?

>> Monday, August 10, 2009

Oleh Cardiyan HIS


Rektor-rektor PTN di Indonesia telah mengingkari sendiri model keberhasilan menangani mahasiswa melalui sebanyak mungkin proses latihan di kampus. Ada pragmatisme nyata, kampus secara sadar hanya akan dijadikan sebagai Lembaga Ujian dan bukan Lembaga Pendidikan.




Sebagian mahasiswa baru kampus-kampus di Indonesia sudah mulai menjalani kuliah. Tentu tanpa kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa (OSM). Karena OSM dinyatakan sebagai kegiatan haram di kampus oleh para Rektor nyaris di semua kampus-kampus Indonesia. Terlebih tahun lalu pada acara OSM yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB ada musibah seorang mahasiswanya meninggal karena kelelahan fisik (bukan karena ditendang dan disiksa seperti di sebuah perguruan tinggi calon pamong praja yang sangat menghebohkan itu). Sanksinya pun luar biasa. Puluhan mahasiswa kena skorsing sampai dua semester. Puluhan mahasiswa lagi harus kerja sosial yang sesuai bidang studinya yakni membuat Peta Desa pada puluhan desa di kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Puluhan alumninya yang “rindu kampus” sehingga ikut menonton acara, kena skorsing black list tak akan mendapat pelayanan ITB kalau tak minta maaf kepada Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni.


Padahal sesungguhnya OSM itu sangat indah. Bukan hanya indah tetapi secara ilmiah terbukti sangat berhasil sebagai model keberhasilan menangani mahasiswa melalui sebanyak mungkin proses latihan di kampus; bagaimana kampus menangani mahasiswa sebagai bagian dari proses pendidikan. Setidaknya bagi kami 1.000 mahasiswa ITB Angkatan Masuk 1973, yang menjadi “Kelinci Percobaan” ketika ITB ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai “Pilot Projek Pengembangan Pendidikan Tinggi di Indonesia” pada akhir tahun 1972.


Disamping banyak terobosan yang dilakukan dalam hal Kurikulum Baru di ITB pada tahun 1973 itu seperti Program Terminal Sarjana Empat Tahun; pemberlakuan sepenuhnya penerusan Sistem Kredit Semester beserta Sistem Penilaiannya yang telah diadopsi ITB sejak tahun 1971; beberapa mata kuliah seperti Konsep Teknologi dilakukan dengan sistem Kuliah Seminar dimana mahasiswa dituntut aktif dialog di kelas; pertama kali di Indonesia ITB mengenalkan mata kuliah Ilmu Lingkungan. ITB secara resmi, secara sadar dan konsepsional mengadakan OSM I (minggu pertama masuk ITB). OSM II selama masa Matrikulasi (enam bulan) dan Tingkat Pertama Bersama atau TPB (satu tahun). OSM Jurusan ketika masuk jurusan (satu minggu) sebagai kegiatan wajib bagi mahasiswa. Dan selanjutnya ITB menganjurkan kepada para mahasiswa untuk secara sukarela aktif pada berbagai Unit Aktivitas Mahasiswa (UAM) sepanjang masih menjadi mahasiswa.


Ketika itu ITB juga diuntungkan karena memiliki dosen bergelar doktor terbanyak di Asia Tenggara (karena universiti-universiti di Singapura seperti NUS dan NTU baru meraih kemajuan pada akhir tahun 1980-an). Sementara itu di ITB sudah ada 600 mahasiswa asal Malaysia dan puluhan mahasiswa non-degree dari Thailand, Filipina dan Papua New Guinea yang sedang menempuh kuliah. Para dosen ini memiliki idealisme sangat tinggi. Mereka mayoritas pemegang gelar PhD World Class Universities di Amerika Serikat ini membawa banyak ide perubahan di kampus ITB, bahwa hanya dengan proses latihan sebanyak mungkin selama mahasiswa kuliah akan menghasilkan mahasiwa-mahasiswa yang berkarakter kuat disamping berintelegensia tinggi.


Ketika OSM II, ITB mewajibkan mahasiswanya memilih 3 (tiga) kegiatan yakni Umum, Seni dan Olahraga yang tersebar pada sedikitnya 86 UAM. Masa OSM memang adalah masa indah kemahasiswaan. Karena secara tidak langsung kita dibikin bergaul dengan sebanyak mungkin mahasiswa yang berbeda-beda kelas sejak di Matrikulasi (6 bulan) dan dikocok ulang oleh ITB agar sebagian besar mahasiswa berbeda kelas di TPB (satu tahun). Dilanjutkan lagi OSM Jurusan di jurusan masing-masing selama 2 minggu. Dan sepanjang menjadi mahasiswa aktif di 3 UAM berbeda yakni Umum, Olahraga dan Seni. Sungguh suatu masa yang paling indah. Karena proses latihan berorganisasi berlangsung begitu dinamis. Begitu pula dalam hubungan dengan lingkungan masyarakat. Kita dilatih terus menerus untuk menyadari; betapa perlunya bersosialisasi dengan masyarakat yang telah melahirkan kita, sehingga kita bisa menikmati bangku kuliah.


Mereguk Proses Latihan

Buah pertama kehidupan dinamis kemahasiswaan di ITB adalah “memberikan pelajaran
kepada Soeharto” bahwa mahasiswa ITB berhasil melakukan Pemilu Mahasiswa Pertama di Indonesia untuk memilih Ketua Dewan Mahasiswa ITB, dengan one student, one vote pada tahun 1977. Herry Akhmadi, terpilih menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB pertama dengan mekanisme Pemilu Mahasiswa langsung, jujur dan rahasia ini. Sementara di Senayan, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sejak tahun 1966 terus menerus memilih Soeharto sebagai calon tunggal Presiden Republik Indonesia.


Dewan Mahasiswa ITB mempelopori Gerakan Anti Kebodohan (GAK) secara sistematis dan konsepsional yang dituangkan dalam sebuah paper. Sehingga oleh sebuah pusat kajian di Cornell University, Amerika Serikat, yang menerbitkan sebuah buku karangan Ben Anderson tentang pledoi Herry Akhmadi pada Pengadilan Negeri Bandung, disebut dalam pengantar bukunya oleh Prof. George Kahin, sebagai pemikiran spektakuler mahasiswa ITB yang mendahului jamannya. Kalangan pendidikan dari Indonesia sendiri seperti Prof. Winarno Surachmad (IKIP Jakarta) dan Prof. Anton Muliono (UI) memang menilai konsep Gerakan Anti Kebodohan sebagai pemikiran terobosan bahwa mahasiswa ternyata tak hanya pintar teriak demonstrasi di jalan-jalan tetapi juga memiliki ide dan pemikiran mendasar dan cemerlang untuk mencerdaskan bangsanya sesuai UUD 1945. Ketika itu memang ada sedikitnya 7 juta anak Indonesia yang tak bisa sekolah hanya untuk masuk sekolah dasar (SD). Pasca pendudukan kampus ITB yang dilakukan secara kekerasan dan brutal oleh serdadu yang setia kepada Soeharto dan setelah Soeharto dinyatakan MPR sebagai calon tunggal presiden RI yang sah menjadi Presiden RI definitip. Maka rezim Soeharto menjawab Gerakan Anti Kebodohan mahasiswa ITB ini dengan adanya Wajib Belajar 6 Tahun.


Dewan Mahasiswa ITB juga mempelopori Asuransi Kesehatan Mahasiswa yang pertama kali di Indonesia bahkan di Asia pada tahun 1973 dengan membayar iuran sebesar Rp 100,-/semester. Sehingga mahasiswa tidak perlu memikirkan biaya jika terjadi musibah sakit. Dewan Mahasiswa ITB sendiri yang mencarikan 2 dokter yang standby selama 24 jam, sedangkan ITB menyediakan tempat klinik di lingkungan kampus. ITB sendiri menyiapkan dana alokasi khusus yang cukup besar ketika itu karena harus menutup segala kemungkinan atas kesehatan lebih 5.000 mahasiswanya.


UAM ITB sebanyak 86 buah antara lain Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK), Lembaga Bantuan Teknologi, Keluarga Donor Darah (KDD), Marching Band (hanya ITB dan AKABRI yang punya ketika itu), Paduan Suara Mahasiswa (PSM), Unit Gitar Klasik, Lingkung Seni Sunda (LSS), Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa (PSTK), unit kesenian Bali Mahagotra Ganesha, Liga Film Mahasiswa (satu-satunya bioskop kampus di Indonesia sejak tahun 1967), Radio 8EH (satu-satunya radio FM di Indonesia sejak tahun 1967) untuk menyebut di antaranya; telah menjadi mesin organisasi yang mandiri dan efektif bagi mahasiswa untuk proses latihan.


Sebagai suatu ilustrasi ada sedikitnya 5 media kampus pusat (tidak termasuk majalah himpunan mahasiswa di masing-masing jurusan) seperti majalah-majalah “Kampus”, “Elektronika”, tabloid “Integritas”, “Berita-berita ITB”, dan yang paling besar dan menonjol adalah bagaimana majalah sains dan teknologi “Scientiae ITB” (kebetulan saya menjadi Pemimpin Redaksi) pada tahun 1974-1975 bisa disegani oleh majalah umum sekelas majalah “Tempo”. Mengapa? Karena oplaag (tiras) majalah bulanan mahasiswa yang terbit secara teratur tiap bulan sejak tahun 1969 ini telah mencapai rata-rata 30.000 eksemplar/bulan! Bahkan di saat penerimaan mahasiswa baru bisa mencapai 50.000 eksemplar. Majalah “Scientiae ITB”, yang dikelola dengan hati, dengan idealisme gotong royong mahasiswa telah mampu menggaji dengan lancar sedikitnya 8 karyawan profesional non-mahasiswa ITB. Majalah ini banyak meraih iklan komersial yang kebanyakan iklan berwarna. Ada iklan yang kami peroleh dari biro iklan papan atas. Ada iklan yang kami peroleh door to door kepada para alumni ITB yang telah memegang posisi kunci di perusahaan-perusahaan industri milik negara maupun swasta. Dan ada juga “inovasi” yang kami banggakan pada tahun 1973 itu yang kemudian ditiru oleh media umum lainnya di Indonesia yakni iklan barter tiket pesawat seperti dengan Garuda Indonesia Airways (GIA) dan iklan barter kamar pada jaringan hotel bertaraf internasional. Sehingga dengan demikian kami mampu meningkatkan mutu liputan dengan mengirim langsung wartawan-wartawan mahasiswa ITB sampai ke kampus-kampus besar di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, India, Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura.


Maka tak mengherankan dari 1.000 mahasiswa ITB Angkatan 1973 pasti saling kenal baik. Kalau tak hapal lagi nama, setidaknya masih hapal wajahnya. Kekerabatan, pertemanan kita begitu kuatnya sejak tahun 1973 terus berlanjut hingga sekarang. Dengan 5 (lima) orang teman-teman yang sudah dan sedang menjabat Menteri pada kabinet era Gus Dur, era Megawati dan era SBY yakni Rizal Ramli, Alhilal Hamdi, Hatta Rajasa, Kusmayanto Kadiman dan Yusman SD. Kita bergaul sangat akrab dan egaliter. Lu-gue tetap nyaring terdengar dan begitu enaknya terdengar di telinga kami. Tanpa menyebut Bapak Menteri segala tetapi memanggil namanya saja. Tanpa basa-basi. Tanpa kepura-puraan. Mengalir begitu saja. Sungguh mengharukan. Bahkan dua orang Wakil Rektor Senior ITB sekarang yakni Prof. Adang Surahman dan Prof. Carmadi Mahbub tetap sangat akrab meskipun sudah jadi pejabat tinggi ITB. Begitu pula dengan teman-teman yang sukses sebagai wirausaha berkelas internasional.


Bagian dari Proses Pendidikan

Jadi adalah sangat mengherankan bagi saya dan teman-teman justru di jaman Reformasi ini, di jaman Demokrasi, di jaman Keterbukaan, ITB (melalui Wakil Rektor bidang Mahasiswa dan Alumni) malah mundur, tidak mentolerir OSM lagi. Menurut saya, sungguh suatu penghianatan besar bagi proses pendidikan. ITB sebagai lembaga pendidikan menutup mata atas model keberhasilan dirinya sendiri sebagai “Pilot Projek Pengembangan Pendidikan Tinggi: pada tahun 1972 yang diujicobakan kepada mahasiswa ITB angkatan masuk 1973. Model keberhasilan yang justru berlangsung di bawah rezim refresif Soeharto, eh malah di era Reformasi ini justru ditinggalkan oleh kampus-kampus di seluruh Indonesia.


Jadi dimanakah mahasiswa sekarang mereguk proses latihan? Teman-teman dosen senior ITB menginformasikan dan berkilah kepada saya, bahwa OSM yang dilakukan mahasiswa ITB belakangan ini sangat berbeda dengan OSM I dulu yang berlangsung seminggu atau maksimum 2 minggu. Sekarang berlangsung hampir sepanjang tahun dengan kegiatan antara lain baris berbaris, pakai hukuman push-up, sit-up bahkan bisa lebih keras lagi. Semua himpunan mahasiswa ada hirarkinya: Anggota Biasa dan Anggota Muda yaitu mereka yang masih yunior. Ngerinya dilakukan secara clandestine dan sembunyi-sembunyi di tengah-tengah masa sibuk kuliah.


Nah, karena hal-hal seperti itu, kata teman-teman dosen senior ITB kepada saya. Maka pola pembinaan mahasiswa diubah. Karena kondisinya sudah berbeda dengan jaman dulu. Pertama, perpeloncoan dalam bentuk apa pun tidak diizinkan karena lebih banyak mudaratnya dari manfaatnya. Kedua, pembinaan mahasiswa menjadi tanggung jawab Program Studi. Tugas Program Studi adalah melaksanakan pendidikan dan membina kehidupan kemahasiswaan, tidak lagi ngurus dosen. Dosen sekarang diurus oleh Fakultas. Ketiga, kegiatan kemahasiswaan diarahkan kepada pengembangan karier, keolahragaan, kesenian, kemasyarakatan (politik juga boleh tapi bukan demonstrasi teriak-teriak di jalanan), pembinaan intelektualita, soft skills, dan sejenisnya. Keempat, mahasiswa baru tetap boleh melakukan kegiatan asal mereka tidak dijadikan "obyek" kegiatan. Dalam OSM, mahasiswa senior jadi panitia, mahasiswa baru jadi peserta. Cara melihatnya gampang kok: Jika mahasiswa baru dan mahasiswa senior sama-sama jadi peserta atau sama-sama jadi panitia. Maka akan terjadi alih pengalaman, tanpa ada yang namanya perpeloncoan.


Namun demikian saya dan juga tak sedikit teman-teman mantan aktivis maupun alumni lainnya harus mengkritik para pimpinan ITB, yang lebih melihat kegiatan mahasiswa seperti “bola panas”. Tidak ada yang mau menangani OSM secara sungguh-sungguh sebagai bagian dari proses pendidikan. Kegiatan mahasiswa seolah adalah kegiatan para “tamu”, para alumni yang berkolaborasi dengan mahasiswa ITB. “Bila ITB tidak setuju, ya diusir. Bila disetujui, ya didukung. Tapi cuma segitu”. Sekali lagi, OSM tidak dijadikan secara sungguh-sungguh sebagai bagian dari proses pendidikan.


Namun pada sisi lain, saya ingin mengingatkan dan harus mengkritik banyak teman-teman alumni pula, yang menginginkan "the good old times back to campus". Saya ingin mengkritik banyak alumni dan pengamat kampus yang berpendapat: “Menangani mahasiswa saja, kok repot?”. Ada baiknya kita dengar pendapat pakar psikologi dunia Barbe dan Renzulli (1975), Gallagher (1975) dan Conny Semiawan (1984) yang mengatakan: “Menangani high-achiever itu sangatlah sulit. Bila salah menanganinya akan menjadi anak bermasalah”. Dan inilah agaknya yang dihadapi oleh para Pimpinan ITB dalam menangani begitu banyak high-achiever yakni para mahasiswanya sendiri. Misalnya, nyaris tiap tahun selalu saja ada puluhan mahasiswa pandai yang berbuat kriminal menjadi Phantom Writer (istilah Phantom Writer atau Penulis Hantu ini populer di universitas-universitas Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an) atau di Indonesia lebih dikenal sebagai joki seleksi masuk PTN. Hal ini menjadi pertanyaan besar yang perlu djawab sampai ke akar masalahnya. Mengapa sampai terjadi?


Oleh karena itu, terus terang saya mendambakan dosen yang ideal, yang bernama “Dosen Pelatih”. Bukan dosen wali yang hanya bertugas pada setiap awal semester pendafaran rencana studi mahasiswa, yang berbicara beberapa menit saja dengan mahasiswa dalam rentang enam bulan. Kita ingin lebih dari itu yakni dosen yang tak hanya menyatakan puas karena telah memberikan materi kuliah dengan baik di ruang kuliah. Tetapi dia juga hendaknya menjadi dosen pelatih bagi para mahasiswa dalam menjalani proses latihan di kampus. Mendengar dengan sabar aspirasi dan pendapat para mahasiswa; sewaktu-waktu berlaku seolah sebagai ayah, terkadang seolah menjadi teman mahasiswa bercengkerama. Aktivitas dosen pelatih ini semuanya dalam kerangka membentuk karakter kuat kepada para mahasiswanya.


“Tak ada waktu. Capek ngurus mahasiswa”. Mudah-mudahan kilah seperti ini bukan menjadi gambaran umum dosen-dosen di Indonesia yang secara sadar cenderung berpikir pragmatis untuk menjadikan kampus sebagai Lembaga Ujian dan bukan Lembaga Pendidikan. Selamat menjadi Dosen Pelatih.

Read more...

Degradasi Mimpi Mahasiswa dan atau Alumni ITB?

>> Sunday, July 26, 2009

Oleh Cardiyan HIS



"To dream the impossible dream, kata Dale Wasserman dalam “Man of La Manca”. Eh, malah 14 orang mahasiswa ITB jadi Joki pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2009 yang diperalat oleh “Bos Joki”.



Kapankah alumni Geodesi ITB menjadi Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN)? Demikian judul postingan para alumni Geodesi ITB pada mailist Ikatan Alumni Geodesi ITB. Kebetulan saya baru pulang dari tambang batubara di pedalaman Kalimantan Tengah, jadi saya membacanya terlambat seminggu kemudian. Dan ketika saya baca puluhan postingannya nyaris tak ada satu pun yang menyanggahnya. Maka saya pun langsung menulis tanggapan berjudul; “Mimpi Alumni Geodesi ITB Kok Masih Ecek-ecek?


Saya pertanyakan mengapa mimpi alumni Geodesi ITB itu hanya hinggap sampai sebagai Kepala BPN saja! Kalau dalam bahasa low politic itu “sangat ecek-ecek”. Bukan merendahkan jabatan Kepala BPN, tetapi kenapa tidak sekalian bermimpi menjadi calon Presiden RI di masa mendatang?


Lho, Presiden Pertama Amerika Serikat, George Washington adalah seorang insinyur Geodesi. Mikael Gorbachev, Presiden Uni Soviet (sekarang Rusia) pengusung Perestroika yang terkenal itu sebenarnya juga seorang insinyur Geodesi. Begitu pula salah seorang Kanselir Jerman Barat (sekarang Jerman) juga seorang doktor insinyur Geodesi. Bahkan seorang mahasiswa Sipil ITB 1920 yang daya imajinasi mendesainnya luar biasa kemudian menjadi Presiden RI Pertama; Ir. Soekarno dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”, terus terang mengaku “takluk” dengan Ilmu Geodesi yang sulit, penuh hitung-hitungan yang rumit.


“Joki dan Bos Joki”


Dan ketika kita menemukan fakta ada 14 mahasiswa ITB ditangkap polisi Makassar (Sulawesi Selatan) karena tertangkap tangan menjadi joki Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2009 spontan dari mulut saya terlontar kata-kata: “Ah cuma jadi joki doang. Kenapa nggak sekalian jadi Bos Jokinya?”.
Mahasiswa-mahasiswa baru ITB dari tahun ke tahun saya bangga-banggakan dalam setiap tulisan saya. Mereka adalah pemenang tak tergoyahkan dari tahun ke tahun dalam sejarah selektivitas mahasiswa baru secara nasional PTN di seluruh Indonesia. Bahkan Selektivitas Mahasiswa ITB diapresiasi tinggi oleh majalah “AsiaWeek” Hong Kong sebagai nomor 1 di Asia Pasifik (Cesar Bacani, “Time of Ferment”, Cover Story Education, AsiaWeek June 30, 2000).


Mengapa 14 mahasiswa ITB telah menjatuhkan harga dirinya hanya sebagai Joki. Kenapa hanya jadi Joki bukan Bos Joki? Karena mereka sebagai Joki tentu saja hanya diperalat untuk suatu kejahatan kerah putih dengan iming-iming bayaran Rp. 30 juta per orang sementara Bos Jokinya adalah seorang sarjana Kedokteran Unhas yang bakal memperoleh Rp. 135 juta dari para pengguna jasa Joki kalau akhirnya diterima di PTN. Ah, tiga puluh juta rupiah demikian murahnya! Hanya senilai sebuah NoteBook terbaru dan mobile phone BlackBerry Storm yang memabukkan itu. Demikian murahnya jasa Joki tidak sebanding dengan pertaruhan risiko dikerangkeng jeruji besi yang menunggunya; yang mencampakkan masa depan cemerlang bila para mahasiswa ITB itu punya mimpi yang selangit.


Jadi Bos Joki tentu saja bukan dimaksudkan saya sebagai pekerjaan terhormat dari pada Joki. Keduanya adalah pekerjaan kriminal. Maksud saya, anak-anak ITB itu kalau bermimpi yang baik, mimpi yang positif hendaklah menjadi Bos-nya bukan menjadi Keroco-nya. Rupanya betul juga humor mencari pekerjaan haram saja susah apalagi mencari pekerjaan halal. Itulah agaknya yang dipilih oleh anak-anak ITB angkatan 2007 dan 2008 yang Indeks Prestasi-nya rata-rata di atas 3,0 bahkan ada yang mencapai 3,8.


Anak ITB hendaknya bermimpi positif menjadi Bos pada bidang apa pun kecuali menjadi Bos mafioso kejahatan seperti Bos Joki itu. Ketika menjadi mahasiswa baru ITB pada tahun 1973 kebetulan saya sudah menjadi penulis artikel di koran-koran nasional sejak masih menjadi siswa kelas 1 SMAN II Teladan Tasikmalaya; ditanya tentang cita-cita oleh dosen senior ITB: “Saya ingin menjadi dosen ITB dan menulis di jurnal-jurnal ilmiah internasional atau pun media umum agar memperoleh credit point sebanyak-banyaknya. Dari sini saya berharap menjadi seorang dosen yang selalu dirujuk pemikirannya. Dan siapa tahu ditarik ke Jakarta untuk menjadi seorang Menteri, seperti halnya banyak dosen-dosen UI yang menjadi Menteri ....!!”.


Garis tangan ternyata membawa saya bukan menjadi seorang dosen ITB. Tetapi malah saya jatuh cinta sungguhan untuk menjadi seorang wirausaha sampai sekarang. Terus terang ini karena “kecelakaan” terprovokasi oleh seorang Insinyur Syarief Tando, salah seorang alumnus ITB terpandang, yang menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB 1972 pada peristiwa perkelahian antara mahasiswa ITB dan taruna AKABRI yang memakan korban tewas mahasiswa Elektro ITB, Rene Conrad. Syarief Tando ketika memotivasi saya untuk menjadi wirausaha adalah Sekjen HIPMI Pusat, dimana Ketua Umum HIPMI adalah Ir. Aburizal Bakrie.


Tetapi Alhamdulillah, saya ikut senang bahwa teman-teman seangkatan ITB 1973 (Fortuga) semasa saya menjadi Senator Mahasiswa ITB ternyata 5 orang telah menjadi Menteri pada kabinet era Gus Dur, kabinet era Megawati dan kabinet era SBY yakni Rizal Ramli, Alhilal Hamdi, Hatta Rajasa, Kusmayanto Kadiman dan Yusman SD.


Dan saya berharap bahkan suatu ketika seorang Fadjrul Rahman atau Pramono Anung atau masih banyak lagi generasi muda ITB lainnya akan meraih posisi Presiden RI seperti alumni ITB pendahulunya Ir. Soekarno dan Prof.DR.Ing. BJ Habibie.


Namun di atas semua itu, yang diperlukan sekarang oleh Ibu Pertiwi yang sedang bersusah hati, air matanya berlinang sebenarnya adalah bagaimana alumni ITB mampu mengkonversi keahliannya menghasilkan karya dan bersinergi dengan para profesional lainnya dimana saja kapan saja; mengusung visi dan menjalankan misi membawa Indonesia menjadi lebih baik Ada baiknya untuk mengingat apa yang menjadi kata-kata BJ Habibie, alumni ITB yang kedua yang menjadi Presiden RI; “Presiden RI itu bukan segalanya!”.
.

Read more...

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP