Kalau Saja Ajat dan Kabo Dipanggil, Boleh Jadi PSSI Lolos ke Piala Dunia

>> Tuesday, August 11, 2009

Oleh Cardiyan HIS



Indonesia nyaris lolos ke Piala Dunia Meksiko Tahun 1986 kalau tak jegal oleh Korea Selatan di Pra-Piala Dunia. Mengapa Indonesia terus-terusan nyaris lolos? Inilah ceritera di balik kegagalan yang mengundang kontroversi sangat luas sepanjang sejarah pembentukan tim nasional.




Benarkah tentang adanya anggapan Ajat Sudrajat dan Adolf Kabo tidak bagus kalau main di tim nasional? Padahal keduanya selalu bermain cemerlang di Persib Bandung dan Perseman Manokwari. Mengapa? Ada apa di balik itu?


Penyebabnya menurut saya adalah karena ada persaingan tidak sehat antara pengurus PSSI yang menaungi kompetisi PSSI Perserikatan dengan kompetisi PSSI Galatama pada tahun 1980an. Persaingan yang mengorbankan kepentingan yang lebih tinggi yakni kepentingan nasional Bangsa Indonesia. Persaingan tajam ini mengerucut ketika pelatih tim nasional Indonesia untuk Pra-Piala Dunia Meksiko, Sinyo Aliandu sama sekali tidak memanggil Ajat Sudrajat (Persib), Adolf Kabo (Perseman), Robby Darwis(Persib), Yonas Sawor (Perseman) dan Budi Juhanis (Persebaya) yang merupakan pemain-pemain andalan asal PSSI Perserikatan bahkan sekedar untuk mengikuti Pelatnas. Padahal performa kelimanya pada tahun 1985 sedang dalam puncaknya.


Inilah polemik yang sangat tajam dan meluas di masyarakat dalam sejarah pembentukan tim nasional sepakbola Indonesia. Mengapa? Karena untuk posisi dari penjaga gawang, belakang dan gelandang, kualitas timnas Indonesia relatif sudah bagus meskipun masih ada juga sedikit kekurangan disana-sini. Tetapi untuk barisan depan menjadi sektor yang sangat lemah yang harus segera diatasi. Barisan penyerang Bambang Nurdiansyah, Wahyu Tanoto, Dede Sulaeman dan Sulianto, sebenarnya secara jujur harus diakui teknisnya tidak sebagus dan semengkilap Ajat Sudrajat dan Adolf Kabo pada tahun 1985 itu.


Bambang Nurdiansyah adalah tipe striker eksekutor. Dia tak memiliki dribbling yang bagus, sundulan yang hanya medioker, penempatan posisi dan cara melindungi bola (screening) lemah. Kebiasaan jeleknya adalah selalu mengulang-ulang back-pass tak perlu ke barisan gelandang karena memang tadi dia tak memiliki kemampuan dribbling melewati satu dua pemain lawan. Hanya karena timnas memiliki gelandang sangat bagus pada diri Zulkarnain Lubis (penonton di jazirah Arab pada kejuaraan Piala Champions Asia menyebutnya “Maradona Asia”) dan Rully Nere (“Jean Tigana Asia”), maka suplai bola keduanya sangat memanjakan seorang striker tipe eksekutor macam Bambang Nurdiansyah.


Ajat Sudrajat dalam biografi bersama Ricky Yacobi, yang ditulis oleh saya bersama Muhammad Kusnaeni (Muhammad Kusnaeni dan Cardiyan HIS, Intinya Pemain Inti untuk PSSI, Penerbit PT. Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta 1988), mengungkapkan kekecewaannya: "Saya sangat kecewa sekali merasa dicampakkan oleh pelatih Aliandu. Karena sama sekali tak dipanggil bahkan untuk sekedar mengikuti Pelatnas. Mengapa Sulianto dan Wahyu Tanoto yang oleh kolumnis sepakbola "Kompas" Kadir Jusuf dinilai tak ada apa-apanya di Galatama, kok dipanggil?”


Bukan hanya kolumnis Kadir Jusuf, pelatih Yuswardi yang membesarkan Ajat sejak di Timnas PSSI Putih (untuk kualifikasi Pra Olimpiade ada 3 tim dibentuk PSSI yang lainnya PSSI Hijau dan PSSI Merah), kemudian di PSSI Perserikatan dan PSSI Garuda sangat marah. Yuswardi gusar alasan Aliandu yang hanya bilang Ajat dan Kabo tak cocok dengan skemanya. Ronny Pattinasarani, mantan kapten timnas bahkan menyarankan Ajat dan Kabo segera dipanggil. Kehadiran Ajat dan Kabo akan membuat persaingan di sektor gelandang menyerang dan atau striker menjadi tumbuh secara sehat. “Dan ini sangat positif bagi kemajuan timnas Indonesia yang sangat timpang di sektor penyerang”, Ronny Patti menambahkan.


Dan terakhir sang begawan sepakbola terpaksa turun dari pertapaan. Soetjipto “Gareng” Soentoro, mantan kapten timnas Indonesia tahun 1960-an dan Asia All Stars yang hanya mengagumi dua orang saja pemain Indonesia yakni Ajat Sudrajat dan Heri Kiswanto sebagai generasi muda penerusnya pada tahun 1980-an (Cardiyan HIS, Si Gareng Menggoreng Bola, Penerbit Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta 1988), mencak-mencak sangat keras sama Aliandu: “Belum dicoba kok sudah dibilang tidak cocok. Menjadi kewajiban pelatih untuk mengangkat pemain agar kemampuannya berkembang selama di Pelatnas. Ajat, Kabo, Robby Darwis, Budi Juhanis dan Yonas Sawor adalah korban persekongkolan orang-orang PSSI Galatama yang tak mau pemain-pemain asal PSSI Perserikatan maju. Mereka dengan egois mengorbankan begitu saja kepentingan nasional”.


Ajat memang pemain asal PSSI Perserikatan yang selalu dipersepsikan sebagian wartawan Indonesia sebagai tak cocok bila main di timnas dan hanya cocok main di klub: “Ajat di timnas kehebatannya tak muncul dibanding kalau ia main begitu impresif di Persib”.


“Persepsi yang lebih berbau lelucon bahkan asal main vonis saja”, bantah pelatih PSSI Perserikatan, Yuswardi dengan sengitnya karena tak mau anak didiknya diperlakukan tidak adil. Yuswardi memberi contoh ketika membawa tim PSSI Perserikatan pada Merdeka Games 1984. Koran “Utusan Malaysia” menganugrahi Ajat sebagai “The Best Player” ketika Indonesia mempermak timnas Thailand 5-2 dan draw 1-1 dengan Malaysia. Meskipun Indonesia kalah 0-2 dari Brazil yang akhirnya juara. Tetapi dalam pertandingan tersebut Ajat sempat mendemonstrasikan kemampuan mengecoh lawan dengan gerak melingkar (penemuan Wiel Coerver yang Ajat dapatkan dari tips seniornya Encas Tonif yang pernah menjadi anak asuh Wiel Coerver) dan dribblingnya yang yahud, melampaui 5 pemain Brazil sekaligus!!!


Boleh Jadi Lolos


Dan akhirnya seperti sama-sama diketahui timnas asuhan Aliandu ini tersisih dari persaingan sub-grup III-B Zona Asia Piala Dunia dari kesebelasan Korsel yang menang (home, di Seoul) 2-0 dan (away, di Jakarta) 1-4. Walaupun tidak menjamin kehadiran Ajat dan Kabo di timnas akan meloloskan Indonesia ke Piala Dunia Meksiko 1986. Tetapi setidaknya kehadiran Ajat dan Kabo akan mengubah total kemandulan sektor penyerang selama ini menjadi kekuatan dahsyat yang diharapkan mampu membongkar pertahanan Korea Selatan.


Dan pasca Pra Piala Dunia, ada kejuaraan Piala Kemerdekaan I Tahun1985, tim asuhan Aliandu (Bambang Nurdiansyah dkk dengan tim PSSI Rajawali) yang sebetulnya diberikan kemudahan di grup lunak dibanding grup keras (Ajat Sudrajat dkk dengan tim PSSI Garuda) juga babak belur dan tersisih lebih awal.


Ketika Indonesia yang nyaris lolos ke tingkat dunia karena timnas asuhan Wiel Coerver gagal di tangan Korea Utara pada drama adu penalti Pra Olimpide Montreal 1976, masyarakat masih memberikan simpati luas kepada timnas Indonesia. Tak ada caci maki sedikit pun dari masyarakat kepada pemain-pemain timnas Indonesia maupun Wiel Coerver. Namun ketika kegagalan Indonesia diulang secara lebih tragis oleh pelatih Sinyo Aliandu karena kekerasan hatinya untuk tak mau mendengar sama sekali saran mantan rekan-rekannya di timnas Indonesia dan juga masyarakat luas. Maka sumpah serapah membanjiri begitu deras media massa Indonesia kepada pelatih Sinyo Aliandu.


Inilah awal sejarah PSSI yang terus-terusan kelabu karena masalah mismanajemen. Sebuah pembelajaran yang sangat mahal akibat terlalu mengangkat kepentingan tertentu dengan mengorbankan kepentingan nasional. Sejak kejadian itu Indonesia tak diperhitungkan lagi sebagai kesebelasan yang hebat di Asia. Bahkan di Asia Tenggara saja Indonesia menduduki kasta yang rendah alias second tier di bawah Thailand, Singapura dan Vietnam!!!

0 komentar:

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP