Yang aneh di negara saya (Caleg bangkrut)

>> Sunday, April 12, 2009

Sent: Monday, April 13, 2009 2:01 PM
Subject: [IA-ITB] Yang aneh di negara saya (Caleg bangkrut)



Yang aneh di negara saya (Caleg bangkrut)

Salah satu nasihat yang saya dapatkan 15 tahun yll. dari salah seorang yang paling berjasa dalam hidup saya adalah : "Djah, lakukan niatmu, sesuai kapasitasmu". Beliau ini adalah alumni ITB, pengusaha nasional, dan aktivis reformasi, dan dulunya mungkin juga aktivis mahasiswa.

Intinya beliau mengatakan, kalau saya baru mampu mengurus diri sendiri, yaa.. jangan memaksa mengurus orang lain. Tapi, kalau saya sudah sudah mampu mengurus orang lain, yaa.. jangan cuma mengurus diri sendiri. Semuanya ada step-stepnya persis seperti orang naik tangga.

Nah, saya mau menyikapi caleg-caleg yang mulai berguguran minggu lalu. Saya sama sekali bukan partisan, dan merasa belum mampu menjadi caleg. Karena itu saya sangat ingin menguji hipotesa saya, bahwa "Saya yakin lebih dari 50% caleg yang ikut Pemilu kali ini, mencalonkan diri hanya untuk mengubah peruntungan ekonomi-nya sendiri, tetapi mengatasnamakan kepentingan orang lain (baca rakyat)".

Menurut hemat saya, menjadi wakil rakyat, itu adalah sebuah pengabdian yang luhur, dan karena itu diperlukan kapasitas orang-orang yang 'mampu'. Mampu itu ukurannya relatif, tapi yang jelas secara ekonomi juga harus mampu, sejak yang bersangkutan mencalonkan diri. Bukan dibalik logikanya, jadi wakil rakyat dulu, baru ekonominya terangkat menjadi mampu. Kalau logikanya berjalan dengan benar, maka tidak akan ada cerita caleg yang bangkrut, tidak akan ada fenomena caleg yang berhutang, tidak akan ada berita caleg yang menggadaikan barang ketika akhirnya tidak terpilih. Kenapa...?, kerena secara ekonomi, dari awal sang caleg sudah 'mampu;, dan rasa-rasanya kalau orang itu mampu secara ekonomi sejak awal, dia pun akan bisa mengukur tingkat kemampuan yang diperlukan untuk biaya kampanye-nya, sehingga tidak melebihi batas kemampuannya.

Kalau akhrinya caleg yang 'mampu' ini bisa terpilih menjadi wakil rakyat, maka mudah-mudahan karena :
1. Dia sadar betul bahwa menjadi wakil rakyat adalah tujuan utama yang mulia
2. Dia sadar betul bawha menjadi wakil rakyat bukan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya

maka, kasus korupsi, pemerasan, 'embat-embatan' anggaran di DPR yang selama ini sering terjadi, bisa berkurang, karena wakil rakyat isinya adalah orang-orang yang 'mampu', yang tidak perlu berfikir lagi untuk mengganti biaya kampanye yang sudah dikeluarkan sebelumnya dari pendapatan di luar gajinya sebagai anggota dewan yang terhormat.

Karena itu, kepada rekan-rekan saya yang akhirnya terpilih menjadi wakil rakyat, cobalah membuat aturan tambahan untuk Pemilu ke depan yang bunyinya : "Caleg harus bisa membuktikan, bahwa penghasilannya sebelum menjadi caleg tidak lebih kecil atau minimal sama dengan penghasilan resminya ketika menjadi caleg nanti". Ini untuk memperhalus kata-kata bahwa menjadi caleg itu harus 'kaya' dulu, harus mampu mengurus dirinya sendiri dulu, baru mengurus orang lain. Kalau aturan itu diberlakukan, mungkin saya baru mau nyontreng...!

No hard feeling at all... untuk rekan2 caleg, yang dalam Pemilu kemarin sudah pasti menjadi wakil rakyat maupun yang kali ini belum berhasil menjadi wakil rakyat.

0 komentar:

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP