>> Sunday, June 17, 2012


Regenerasi  Pemain Dihadang Godaan Pragmatisme


Oleh Cardiyan HIS



Ada semacam adagium dalam dunia manajemen bahwa selalu ada regenerasi dalam sebuah perusahaan yang sukses. Namun, boleh dikatakan, proses regenerasi pada para pengusaha besar  di Indonesia tidak berlangsung mulus dan hanya menghasilkan generasi kelas pengusaha yang biasa-biasa saja.  Begitu pula yang terjadi  pada regenerasi kepemimpinan negara  di Indonesia sejak jaman Bung Karno sampai jaman SBY sekarang ini, belum menghasilkan seorang pun negarawan berkelas dunia, yang visinya melampaui jamannya.

Dalam dunia manajemen olahraga khususnya manajemen sepakbola, regenerasi adalah sebuah keniscayaan. Keberhasilan tim nasional Indonesia di peta sepakbola Asia sampai tiga dekade yakni era 1950-an (yakni era Ramang-Aang Witarsa dan kawan-kawan yang antara lain membuat prestasi sensasional di Olimpiade Melbourne, Australia, tahun 1956), era 1960-an (yakni era Soetjipto Soentoro-Anwar Udjang dan kawan-kawan, yang menjuarai hampir semua turnamen bergengsi di Asia) dan era 1970-an (yakni era Iswadi Idris-Djunaedi Abdilah, yang masih mampu meraih gelar juara pada berbagai turnamen bergengsi di Asia) adalah keberhasilan manajemen sepakbola Indonesia dalam melakukan regenerasi pada tim nasional Indonesia. Ketika tim nasional senior Indonesia meraih kejayaan di  level Asia, pembinaan tim nasional yunior Indonesia juga secara paralel dilakukan dengan sistematis. Dan hasilnya terbukti yakni tim nasional yunior Indonesia  tiga kali meraih gelar juara yunior Asia.  Disini jelas ada kesinambungan prestasi antara tim nasional yunior Indonesia yang kemudian menjadi penyedia pemain berkualitas  untuk  tim nasional senior Indonesia.

Dalam skala klub di Indonesia, pada tahun 1981 manajemen Persib, Bandung yang dipimpin duet Solihin GP-Sukandar merekonstruksi total pembentukan tim senior Persib,  yang terdegradasi  dari Divisi Utama Perserikatan PSSI ke Divisi Satu PSSI dan terpaksa harus bertanding dari kampung ke kampung.  Duet Solihin GP-Sukandar membangun Persib secara sistematis melalui penyiapan tim yunior Persib dengan merekrut pelatih asal Polandia, Marek Janota. Hasilnya tim Persib yang sepenuhnya diperkuat para pemain yunior seperti Adjat Sudradjat, Sukowiyono, Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Wawan Karnawan, Kosasih, Sobur dan kawan-kawan meraih prestasi pertamanya dengan menjadi finalis kompetisi Divisi Utama Perserikatan pada tahun 1984 dan 1985. Persib akhirnya memetik buah hasil pembinaan jangka panjangnya dengan meraih juara pertama  pada tahun 1986, 1990 dan 1994. Dengan tim yang nyaris sama tanpa diperkuat satu pun pemain asing, Persib Bandung menjuarai kompetisi Liga Sepakbola Indonesia yang pertama pada tahun 1995. Namun dari sinilah awal bencana bagi Persib Bandung yang terlena tak melakukan regenerasi pemain. Akhirnya prestasi Persib melorot dan sudah 17 (tujuh belas) tahun tak pernah meraih satu pun gelar juara Liga Sepakbola Indonesia. Padahal Persib memiliki segala potensi untuk menjadi juara seperti memiliki pemain-pemain bintang yang berharga mahal; supporter paling banyak di Indonesia serta nilai jual sangat tinggi di mata calon investor.  Nasib Persib sungguh berbeda dengan Arema, Malang dan Persipura, Jayapura, yang para pengurus dan pelatihnya berani ambil kebijakan dengan memberi kepercayaan kepada para pemain muda, yang kemudian mereka membuktikan kepercayaan pelatihnya dengan masing-masing meraih gelar juara dua kali Liga Indonesia!          

Dalam skala dunia khususnya dari 16 tim peserta Piala Eropa 2012, tim Jerman menjadi bukti keberhasilan regenerasi . Rata-rata usia seluruh anggota “Tim Panser” Jerman hanya 24,52 tahun. Bahkan skuad Jerman kali ini lebih muda dibanding “Tim Panser”  Jerman untuk Piala Dunia 2010 yang usianya rata-rata 25 tahun.  Pelatih Jerman, Joachim Loew, yang sejak Piala Dunia 2010 sudah banyak memberikan kepercayaan kepada para pemain muda, terus melanjutkan konsistensinya dengan memasukkan wajah-wajah baru dalam daftar 23 pemain pilihannya. Tercatat ada 12 pemain yang usianya tidak lebih dari 23 tahun bahkan gelandang Mario Goetze tercatat sebagai pemain termuda yakni berusia 20 tahun. Dan yang menggembirakan posisinya tersebar  di pos kiper, barisan belakang, lini tengah hingga lini depan.   

Para penganut paham arti penting  regenerasi yang berkesinambungan  seperti pelatih Joachim Loew ini secara sadar dan sistematis merekonstruksi tim nasional sepakbolanya  berjenjang berdasarkan usia pemain, talenta yang dimiliki, sumber penyedianya seperti akademia sepakbola sampai kepada bagaimana para pemain muda diberi kesempatan menikmati kompetisi sepabola level tinggi. Pola pikir mereka adalah proses pembinaan sangat penting dari pada hasil akhir. Tidak pernah ada jalan pintas untuk meraih kesuksesan. Dan bahwa prestasi tim nasional sepakbola hanya akan diraih bila direncanakan sejak jauh hari melalui pembinaan yang sistematis berjenjang, fokus, penuh ujian di kompetisi level tinggi dan penuh kesabaran.   

Namun pada sisi lain, setelah keberhasilan meraih prestasi seringkali pihak manajemen terlena bahkan praktis mulai tergoda, untuk tidak memikirkan regenerasi pemain. Demi menjaga pencitraan sebagai sang juara, mereka terjebak pragmatisme untuk tetap mempertahankan kejuaraan dengan tetap mempertahankan skuad juara, demi kepentingan jangka pendek. Itulah yang juga dikritik oleh pelatih senior Italia, Arrigo Sacchi, terhadap kebijakan manajemen tim nasional Italia yang gagal melakukan regenerasi. Sacchi menyebut Samuel Longo  (20 tahun) sebagai talenta muda Italia yang terbuang bersama sedikitnya tujuh talenta muda Italia lainnya asal kompetisi Primavera. 

Read more...

>> Monday, May 21, 2012




Barcelona dan Teori Dialektika Hegel


Oleh Cardiyan HIS

Tidak ada yang tidak berubah di Dunia ini. Dan cara berubahnya pun sedemikian rupa. Bahwa dalam setiap timbul suatu pengertian (thesa), selalu akan menimbulkan satu atau beberapa antithesa, yang berlawanan, atau tidak serupa dari pengertian semula. Memang antithesa tersebut tidak usah bertolak belakang penuh dengan thesa semula, tapi minimum ia tidak serupa.

Thesa dan antithesa ini akan bersama-sama menimbulkan suatu pengertian yang lebih tinggi tingkatnya. Yakni pada fase ketiga yang terletak dalam suatu tingkat pengertian yang lebih tinggi dari bidang perdebatan antara thesa dan antithesa;  yang biasanya disebut synthesa. Pengertian synthesa yang akhir ini pun di dalam proses perubahan berikutnya, akan menimbulkan hal-hal atau pengertian-pengertian yang berlawanan atau tidak serupa, sebagai koreksi berikut. Mengapa? Karena sudah mendapat masukan Umpan Balik (feedback), yang akan merangsang dan mengarahkan proses perubahan yang merupakan permulaan dan proses Dialektika berikutnya.

Itulah jalan pikiran “Teori Dialektika” Wilhelm Friedrich HEGEL  (1770-1831), yang diyakininya bahwa fenomena dialektika adalah prinsip semua pergerakan; semua proses kehidupan dan semua aktivitas dalam kenyataan hidup sehari-hari.  Cara berpikir dialektis ini adalah suatu metoda berpikir yang sering juga disebut sebagai bentuk  mula atau intinya metoda berpikir ilmiah. Jan Romein, seorang ahli sejarah Belanda menerangkan yang terkait erat dengan fenomena Dialektika Hegel ini “....... bahwa suatu posisi terdepan, pada suatu waktu tertentu dan dalam kondisi yang tertentu pula, akan justru menghambat dan akan berubah menjadi keterbelakangan”.   Atau dengan kata lain; yang di depan melambat dan yang di belakang mempercepat.

Dalam kaitan dengan dunia olahraga khususnya sepakbola, Teori Dialektika Hegel ini  secara sederhana sangat mudah dipahami. Segera sebuah tim sekelas Barcelona yang belakangan berulang kali menjuarai La Liga Spanyol dan “Copa del Rey” kemudian dituntaskan dengan menjuarai liga “Champions” musim 2005-2006 (sebelumnya di musim 1991-1992 pada era pelatih Johan Cruyff), 2008-2009 dan 2010-2011; banyak klub maupun para pemain sepakbola di dunia akan berusaha meniru atau mempelajari keunggulan  teknik Barcelona dalam memainkan  tiki-taka; possesion football; bagaimana melakukan kontrol permainan sehingga membuka banyak peluang  mencetak gol; bagaimana mencetak goal  dari rancangan adanya peluang  yang berasal dari tendangan bebas dan tendangan sudut; bagaimana mengeksekusi finishing touch secara mematikan; dan strategi-strategi bertanding lainnya. Sementara sang juara sendiri , Barcelona, dengan pelatih “Pep” Guardiola, susah untuk meningkatkan kualitas permainannya, karena mereka merasa tidak ada lagi lawan yang lebih pandai yang dapat dipelajari, setidaknya sebagai bahan evaluasi.    

Demikian juga dengan keadaan mental bertanding Barcelona, agak terhambat karena posisi juaranya (someting to lose) jika dibandingkan dengan mental klub pesaing di belakangnya, yang ingin merebut kejuaraan (nothing to lose). Maka manakala Barcelona selalu memenangi bahkan dengan skor telak dalam duel klasik melawan Real Madrid di stadion  Santiago Bernabeu, Madrid; mental Barcelona telah berubah yang cenderung arogan atau setidaknya mudah berpuas diri. Dan hukuman buat Barcelona pun tinggal menunggu waktu dan sangatlah kejam. “ The Special One”  Jose Mourinho, pelatih Real Madrid yang selalu berpikir keras dan cerdas, misalnya, agaknya sudah memegang semua kunci kelemahan Barcelona.   Bertindak sebagai tuan rumah di laga yang semestinya bisa mempertipis jarak di klasemen La Liga Spanyol 2011-2012 menjadi tinggal satu poin saja dengan Real Madrid, Barcelona malah dipermalukan Real Madrid dengan skor 1-2. 

Kelemahan Barcelona terutama terletak pada pengorganisasian lini pertahanan termasuk kelemahan penjaga gawang Victor Valdes dalam menghadapi bola-bola crossing sayap lawan; yang belum mampu meraih pencapaian penjaga gawang legendaris Barcelona, Andoni  Zulbizarreta.  Menghadapi lawan sekelas Chelsea yang bermain negative football dan mengandalkan serangan balik cepat; Barcelona menemukan detik naasnya. Perangkap offside yang sering diterapkan oleh Barcelona, sering berakibat fatal karena keasyikan menyerang  termasuk oleh kedua back sayapnya yang memang tipikal menyerang sehingga sering terlambat kembali ke belakang. Karena tipikal kedua bek sayapnya yakni Daniel Alves di kanan dan Eric Abidal di kiri (atau secara bergantian diperankan oleh Maxwell atau Adriano tetapi sering masih labil), maka  Abidal terpaksa  bertransformasi menjadi bek tengah bersama Charles  Puyol dan Gerrard Pique. Begitu pula Zavier Mascherano yang gelandang bertahan multi fungsi  sewaktu-waktu ditarik menjadi bek tengah.
Barcelona semestinya mengevaluasi total sejak kekalahan memalukan di kandang sendiri dari Real Madrid. 

Mereka semestinya melupakan segera peluang di  La Liga yang sudah menjadi milik Real Madrid. Mental bertanding Barcelona tak bisa pulih malah sangat menurun tajam, apalagi untuk dapat menutupnya dalam persiapan menghadapi pertandingan home melawan Chelsea di liga Champions. Chelsea yang menjadi “underdog”  di pertandingan away tak memiliki beban mental sama sekali.  Chelsea dengan modal keunggulan 1-0 di kandang, bermain lepas menghadapi sang juara bertahan Barcelona. Maka hanya dengan menahan Barcelona 2-2, Chelsea yang sangat diremehkan akhirnya menang agregat 3-2 dan melaju ke final melawan Bayern Muenchen, yang di pertandingan lain memenangi adu penalti melawan Real Madrid. Mental bertanding Chelsea yang sedang bagus-bagusnya bahkan akhirnya memenangi liga Champions  dengan memenangi adu penalti  lawan Bayern Muenchen di kandang Bayern Muenchen. Itulah buah penantian panjang sebuah investasi dan sebuah cita-cita Roman Abramovic sejak tahun 2003, yang pertama kali menghasilkan juara liga Primer Inggris pada 2005 dan kemudian piala Liga Champions 2012.

Barcelona oh Barcelona. Mudah-mudahan Teori Dialektika Hegel menjadi masukan yang sangat berharga bagi Barcelona untuk mengevaluasi diri menghadapi kompetisi ke depan dan bangkit dari kekalahan! Regenerasi adalah salah satu jawaban pasti kalau mau mengubah keadaan. Regenerasi Barcelona yang berasal dari akademi Barcelona, sangat terlambat terutama untuk pemain belakang yang hanya menghasilkan Andre Pontas pada tahun 2009 dengan prestasi biasa-biasa saja. Regenerasi lainnya di tahun yang sama untuk posisi gelandang menghasilkan Thiago Alcantara; sebelumnya pada tahun 2008 adalah Pedro Rodriguez dan Sergio Busquets. Dan regenerasi paling anyar ada pada diri penyerang Christian Tello dan Isaac Cuenca. Barcelona hendaknya juga  jangan lengah menjaga pemain binaan di akademi  Barcelona, seperti kasus Cesc  Fabregas  yang dicomot Arsenal dan Gerrard Tique oleh Manchester United. 

Read more...

HENTIKAN PENZALIMAN TERHADAP MASYARAKAT SEPAKBOLA INDONESIA!

>> Thursday, April 5, 2012




Kubur Kepentingan Bisnis Pribadi

HENTIKAN PENZALIMAN TERHADAP MASYARAKAT SEPAKBOLA INDONESIA!

Oleh Cardiyan HIS



Revolusi sepakbola Indonesia yang semula diharapkan segera terwujud pasca tumbangnya rezim Nurdi Halid terhambat karena masih ada dua “kompetisi” sepakbola IPL dan ISL. Secara formal IPL adalah kompetisi legal versi FIFA terlebih rakyat Indonesia diuntungkan karena kran APBD untuk kepentingan klub-klub sepakbola resmi ditutup. Tetapi turnamen ISL ternyata banyak dihuni klub yang berprestasi, yang entah bagaimana terus digiring untuk tetap dipertahankan, dibiayai dan dicitrakan dengan harga mati demi kepentingan bisnis pihak tertentu. Damai, damai dan damailah!


Untung FIFA masih melihat masyarakat sepakbola Indonesia sebagai potensi pasar raksasa di Asia. Kalau tak melihat aspek ini, bagi FIFA sebenarnya enteng saja untuk menjatuhkan sanksi bagi PSSI, yang ranking FIFAnya terus melorot. Oleh karena itu FIFA masih memberikan tenggat waktu bagi PSSI untuk menyatukan dan atau mengontrol tidak adanya dualisme kompetisi di Indonesia sampai tanggal 15 Juni 2012. Tanpa mampu menyelesaikan masalah itu, PSSI dipastikan akan dikenai sanksi FIFA.


Kita sebagai bagian dari masyarakat sepakbola baik sebagai penonton, pemain, wasit, pembina, pemodal, abdi negara, atau pun pengamat/penulis/wartawan media cetak maupun elektronik dan sebagainya tentu tak menginginkan Indonesia mendapatkan sanksi FIFA. Mereka hanya menginginkan Indonesia memiliki kesebelasan nasional Indonesia yang kuat dan berprestasi bagus seperti kejayaan kesebelasan Indonesia tahun 1950an (era Ramang-Aang Witarsa cs), 1960an (era Soetjipto Soentoro-Anwar Udjang cs) dan 1970an (era Iswadi Idris-Djunaedi Abdilah cs) yang merajai peta sepakbola Asia, jauh di atas prestasi kesebelasan Jepang, Korea Selatan dan jazirah Arab. Tak mengherankan bila kesebelasan Indonesia disebut sebagai “Brazil Asia” seperti sering diucapkan oleh para dedengkot FIFA dari berbagai era baik jauh sebelum era Joao Havelange yang sangat panjang itu sampai era Sepp Blatter sekarang ini.


Dualisme Kompetisi

Kesebelasan Indonesia yang kuat tidak mungkin terbentuk dari kompetisi sepakbola yang amburadul. Oleh karena itu akar pemecahan kisruh sepakbola Indonesia harus datang dari konsep pemikiran yang jernih, jujur, adil, penuh idealisme dan tak memiliki kepentingan apa pun selain ingin mewujudkan kompetisi sepakbola Indonesia yang kredibel dan berkualitas tinggi. Jadi bila kita menemukan dimana akar pemecahan masalah sebenarnya dan sejujurnya; maka akan membawa kepada kita bagaimana tindakan yang tepat, pas dan akurat harus dilakukan.


Sebelum rezim Nurdin Halid tumbang, konglomerat pemilik Medco Group, Arifin Panigoro dan keluarga, menurut sumber yang layak dipercaya sudah berinvestasi sedikitnya USD 35 juta untuk membuat “breakaway league” bernama Indonesian Premier League (IPL). Sementara Indonesian Super League (ISL) sudah dan sedang berkibar di rezim Nurdin Halid, tetapi dengan sangat menggantungkan diri masalah pembiyaan kompetisi ISL dan operasional PSSI ke Bakrie Group (Aburizal Bakrie dan keluarga) disamping menggantungkan kepada APBD untuk membiayai klub peserta ISL yang jelas-jelas sangat menggerogoti dan merugikan keuangan negara.


Nah ketika rezim Nurdin Halid tumbang, PSSI rupanya terlalu semangat berevolusi. Padahal membangun Roma tidak mungkin dalam satu hari, kata sebuah adagium. Semua produk rezim Nurdin Halid digusur meskipun sebenarnya ada juga yang tersisa sedikit yang cukup baik yang hanya memerlukan sedikit modifikasi saja untuk terus dilanjutkan. Kompetisi ISL (tanpa membubarkannya) misalnya sebenarnya bisa digabungkan dengan kompetisi IPL dengan mengubah menjadi nama baru sama sekali. PSSI misalnya bisa saja mengintegrasikan semua kepemilikan saham para stake holder kedua kubu besar ke dalam satu perusahaan baru, sehingga kapitalisasinya pun menjadi sangat besar. Disini rupanya yang sulit dilakukan karena masing-masing “God Father” dari Medco Group dan Bakrie Group dari awal sudah sulit untuk dirujukkan karena membawa “cacat bawaan konflik” kasus lumpur Lapindo pada PT. Lapindo Brantas pada kedua grup perusahaan tersebut.


Yang juga dibatalkan oleh PSSI adalah masalah perjanjian hak siar eksklusif kompetisi Djarum ISL yang sebelumnya dipegang oleh ANTEVE milik Bakrie Group melalui anak perusahaan PT. Cakrawala Andalan Televisi, yang menjadi kontributor terbesar PT. Visi Media Asia Tbk (VIVA, induk PT. Cakrawala Andalan Televisi, yang tentunya masih masuk Bakrie Group). Pembatalan hak siar eksklusif Djarum ISL kepada ANTEVE oleh PSSI, bila dicermati lebih mendalam ternyata bisa berakibat hukum jauh bagi ANTEVE. Karena VIVA dalam IPO (Initial Public Offering) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) menjanjikan perolehan terbesar pendapatannya berasal dari ANTEVE yang memegang hak siar eksklusif kompetisi Djarum ISL selama 10 (sepuluh) tahun. Dengan fakta ini ribuan pemegang saham VIVA bisa menuntut ke pihak VIVA atas fakta sangat akurat ini karena bisa dianggap sebagai suatu kebohongan publik dengan menyatakan sesuatu yang bukan miliknya. Setidaknya otoritas Bursa Efek Jakarta (BEJ) bisa men-suspend saham VIVA bahkan lebih jauh menutup keberadaanVIVA di BEJ.


Nah melihat situasi inilah, mudah dibaui dan ditengarai bila pihak VIVA berusaha mati-matian untuk mempertahankan ISL sebagai kompetisi yang legal dan bahkan lebih jauh berharap banyak FIFA mengakui “PSSI Tandingan” yang diprakarsai oleh KPSI (Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia) dan tidak mengakui PSSI kepengurusan Djohar Arifin dan kawan-kawan. Sebab dengan demikian legitimasi ISL sebagai kompetisi yang diakui FIFA otomatis akan menyelamatkan VIVA dari banyak gugatan publik dan terhindarkan dari kerugian bisnis yang lebih besar. Mudah-mudahan motif dan gerakan seperti itu tidak benar dan ini harus dibuktikan dengan tindakan nyata dari kubu ISL untuk melakukan rekonsialisasi sebagai solusi terbaik.


Sementara PSSI begitu kepengurusannya terbentuk, yang merasa punya wewenang sebagai satu-satunya organisasi sepakbola yang diakui FIFA, dengan serta merta hanya mengakui kompetisi legal adalah kompetisi IPL, memberikan hak siar eksklusif IPL kepada MNC Group melalui statsiun televisi RCTI dan Global TV.


Dengan melihat pemetaan permasalahan yang terang benderang tadi, masyarakat sepakbola Indonesia sangat berhak memaksa para kepentingan bisnis sesaat untuk menghentikan segera segala permainan mereka yang lebih mengedepankan kepentingan bisnis mereka sendiri yang selama ini sangat merugikan sepakbola Indonesia. Damai, damailah. Semua bisa duduk satu meja dengan mengabaikan ego masing-masing untuk mencari solusi terbaik agar kita lolos dari tenggat waktu yang telah ditetapkan oleh FIFA tanggal 15 Juni 2012.


Kita hargai berbagai upaya rekonsialisasi oleh PSSI untuk mengundang klub-klub anggota ISL sampai tiga kali sampai 5 April 2012. Namun dari 18 klub anggota ISL hanya klub terbesar Persib Bandung yang datang memenuhi undangan. Kita masih berharap agar upaya rekonsialisasi ini tetap dilakukan oleh PSSI dengan penuh kesabaran sampai sebelum deadline FIFA datang. Karena kalau pun FIFA tak memberikan sanksi kepada Indonesia karena misalnya hanya mengakui PSSI kepengurusan Djohar Arifin, tetap saja terutama para pemain dan pendukung klub ISL akan sangat dirugikan. Mengapa? Karena klub-klub kesayangan mereka akan langsung didegradasi ke Divisi Utama oleh PSSI meneruskan keputusan FIFA. Bahkan bukan tidak mungkin banyak klub ISL gulung tikar.


Sayang bukan. Padahal sebagai Bangsa Indonesia kita masih memiliki ruang untuk menyelesaikan masalah. Karena berbagai suku bangsa Indonesia memiliki begitu banyak kearifan lokal seperti kearifan bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah. Maka sebenarnya, semua hal bisa diselesaikan secara musyawarah, secara damai, dari hati ke hati yang dalam, yang tulus dengan mengubur segala kedengkian dan kebencian. Terlebih mereka; kedua bos besar yang terlibat adalah berasal dari almamater yang sama Institut Teknologi Bandung (ITB), bahkan pada program studi yang sama pula yakni Teknik Elektro ITB. Sebagai penggila bola yang alumnus ITB juga, saya menghimbau kedua senior saya ini untuk menguatkan tekad yang kuat pada masing-masing pihak untuk sama-sama menyelamatkan sepakbola Indonesia ketimbang ambisi pribadi.

Read more...

Supaya “Pintar” Anjing pun Rajin ke Sekolah

>> Friday, January 6, 2012



Oleh Cardiyan HIS


“Takut Masuk Neraka Orang Hutan pun Terpaksa Berpuasa dan Kelelawar Menjerit-jerit Kesakitan”. Itu judul artikel “Ole-ole Kalimantan” dari penulis 2 tahun lalu. Ole-ole Kalimantan kali ini soal nasib binatang juga. Tapi yang ini soal Anjing bernama Blacky, yang rajin pergi ke sekolah, ke ruang kelas 3, Sekolah Dasar Negeri 8 Tewah, kecamatan Tewah, kabupaten Gunung Mas, provinsi Kalimantan Tengah. Apakah si Blacky ingin belajar Matematika agar “pintar” seperti kepintaran si Blacky berburu Kijang dan Babi Hutan? Entahlah.

Pada mulanya si Blacky sebagai bukti kesetiaan terhadap bos tersayang, ingin mengantar bosnya, Yudisia, yang masih siswa kelas 2 ke sekolah. Waktu masih kelas 1 Yudisia masih diantar ibunya dan Si Blacky juga masih kecil “belum percaya diri” untuk antar bosnya. Dan setelah merasa “besar dan PD” si Blacky berinisiatip mengantar bosnya, setelah mandi pagi disabunin bosnya dan sarapan pagi.
Tetapi ternyata si Blacky keblablasan ingin sekaligus masuk ke ruang kelas 2. Meskipun dipaksa-paksa diusir dari ruang kelas, si Blacky tetap bersikukuh ingin masuk kelas; ingin ikut “belajar” bersama-sama bosnya; Yudisia, murid kelas 2 di sekolah itu. Meski sudah dirayu oleh bos Yudisia agar menunggu di luar kelas saja, Si Blacky terus memaksa masuk dengan perangai “bersahabat”. Dan hebatnya setelah gagal diusir, si Blacky malah langsung minta tempat “meja belajar” di atas meja baris belakang; persis di belakang bos, Yudisia.

Sang ibu guru Ny. Suryaningsih SPd, (isteri Dodi Jamal, manajer perusahaan batubara SWI Group) pada mulanya ketakutan juga dan merasa tak pantas anjing ikut-ikutan belajar bersama murid-muridnya. Namun akhirnya bu guru “mengalah” setelah Yudisia muridnya “menjamin” si Blacky tak akan mengganggu suasana belajar siswa. Dan memang betul, selama bu guru mengajar dengan “disiplin” si Blacky mendengarkan segala penjelasan. Entah mengerti atau tidak penjelasan bu guru, yang jelas si Blacky tak bikin gaduh dengan menggonggong layaknya seekor anjing, misalnya. Ini malah berbeda dengan para siswa yang kadang bikin gaduh kalau pelajaran sudah dirasakan “bete”.

Dan manakala bel berbunyi tanda istirahat, si Blacky pun meloncat dari “meja belajar” dan berjalan mengikuti bos Yudisia dan siswa-siswa lainnya untuk makan-minum siang. Kadangkala kalau istirahat panjang, para siswa main sepakbola. Si Blacky pun ikut-ikutan main sepakbola; ke mana Yudisia lari mengejar bola si Blacky selalu mengikuti di belakangnya. Sekali Yudisia bertindak menjadi penjaga gawang, si Blacky pun ikut menjadi “penjaga gawang kedua” dengan berdiri gagah di belakang Yudisia.

Setelah bel berbunyi tanda siswa harus masuk, si Blacky dengan “disiplin” selalu masuk menguntit bos Yudisia. Dan setelah bosnya duduk, si Blacky langsung meloncat ke “meja belajar”. Suasana belajar pun berlangsung dengan tenang dengan si Blacky tetap setia duduk di “meja belajar”. Begitulah suasana di salah satu ruang kelas SDN 8 Tewah dengan kehadiran seekor anjing “pintar” Blacky yang telah “naik kelas” ke kelas 3, berlangsung dengan tenang hampir dua tahun lamanya.


www.cardiyanhis.blogspot.com
http: //id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6

Read more...

Ikatan Alumni ITB Kapan Mau Maju?

>> Saturday, December 24, 2011

Oleh Cardiyan HIS


Ikatan Alumni ITB adalah paguyuban yang lebih memerlukan para alumni yang menjadi pengurusnya bekerja tanpa pamrih, tanpa niat ngiler sana-sini. Impian ke depan Ketua Umum IA ITB datang dari kalangan muda yang independen (wirausaha sejati) yang dipilih dengan mekanisme perpaduan pemilihan langsung agar bersilaturahmi sesama alumni dan voting melalui dunia maya agar menjangkau alumni ITB sedunia.



Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni ITB memang paling heboh di Indonesia bahkan di dunia. Pemungutan suaranya yang dipusatkan di Kampus ITB, telah menyiksa para pengguna jalan di Bandung karena kendaraan mewah para alumni ITB tumpah blek menyerbu Bandung. Hotel-hotel sudah fully booked beberapa hari menjelang acara karena dipesan habis oleh masing-masing “Tim Sukses” para kandidat. Tak mengherankan alumni UGM, UI dan Unpad yang alumninya jauh lebih banyak dari alumni ITB pun sering berdecak kagum bahkan mereka beranggapan alumni ITB sangat kompak. Alumni ITB kompak? Ah tunggu dulu, itu soal lain lagi. Kadangkala saya jadi ingin ketawa sendiri.


Dan ternyata soal kehebohan IA ITB memang “numero uno”, nomor satu. Coba pasca Ketua Umum IA ITB terpilih pun masih menyimpan kehebohan. Karena Ketua Umum IA ITB terpilih SUM (S. Widayatin) yang mengumpul suara 38,93%, diatas H. Dardak (26,16%), Amir Sambodo (22,69%), Nining I. Soesilo (6,18%) dan Dasep A. (6,03%) ternyata belum mampu menyusun kabinetnya karena dia harus segera terbang ke Brasil urusan dinas. Maklumlah dia masih terbilang orang makan gaji, masih punya bos besar, meski pun jabatannya keren Deputi Menteri di sebuah kementrian sangat sexy; Kementrian BUMN. SUM hanya berhasil menetapkan Betti Alisjahbana sebagai calon Sekretaris Jenderal. Dan ini yang meninggalkan kehebohan khususnya bagi yang berkepentingan berebut untuk masuk gerbong kabinet SUM. Karena para “vested interest” menganggap Betti tak berkeringat kok diangkat jadi Sekjen. Belum tuduhan Betti “neolib”. Betti hasil “intervensi” Hatta Rajasa. Tak mengherankan SUM terpaksa membentuk Tim 9 tanpa Betti di dalamnya, yang ditengarai untuk meredam gejolak di kalangan “Tim Sukses”-nya.


Jangan Pilih “Tim Sukses”
Ketika menjelang H-7, setelah dengar pendapat dengan para alumni muda ITB di kawasan Bakrie Club, Kuningan, Jakarta, saya mengingatkan Laksamana Sukardi (Menteri BUMN ketika itu) kalau terpilih kelak sebagai Ketua Umum IA ITB untuk tidak mengangkat anggota “Tim Sukses” dalam kepengurusannya. Karena sebagian besar anggota “Tim Sukses” seringkali punya motif “minta balas budi”. Saya ingatkan Laksamana Sukardi agar mengaca kepada pengalaman Cacuk Sudariyanto, seorang alumnus ITB yang hebat karena jagoan manajemen yang penuh terobosan. Namun sebagai Ketua Umum IA ITB ternyata Cacuk tersandera dengan “harus balas budi” kepada mayoritas “Tim Sukses”-nya, tetapi sepanjang kepengurusannya gagal total menjalankan program yang sebelumnya sukses terutama yang telah diperankan oleh kepengurusan Sanyoto Sastrowardoyo.


Laksamana Sukardi pun akhirnya bernasib sama dengan pendahulunya, hanya sebagian kecil programnya jalan. Laksamana tebar pesona dengan mengangkat banyak teman dari “Tim Sukses” menjadi pejabat di berbagai perusahaan BUMN. Bahkan sobat saya yang mantan menteri dan petinggi kampus ITB menyebut banyak janji Laksamana Sukardi untuk almamater ITB sendiri tak terbukti satu pun. Sobat saya ketika sesama menjadi Senator Mahasiswa ITB perioda 1977-1978, Hatta Rajasa, yang kemudian terpilih juga menjadi Ketua Umum IA ITB, saya kritik habis ketika nyaris “100 Hari Pertama” kepengurusannya dia belum juga berbuat apa-apa terhadap alumni ITB.


Menjadi Ketua Umum IA ITB dianggap banyak alumni ITB dan non-alumni ITB sebagai jabatan prestisius. Sanyoto Sastrowardoyo, Giri Suseno dan Cacuk Sudariyanto adalah Ketua Umum IA-ITB sebelum menjadi Menteri Kabinet di rejim Suharto, BJ Habibie dan Gus Dur. Tentu saja Laksamana Sukardi dan Hatta Rajasa menjadi kekecualian karena sudah menjadi Menteri ketika terpilih sebagai Ketua Umum IA ITB, namun tak dapat dipungkiri mereka berdua sangat bangga menjadi Ketua Umum IA ITB. Entah apa alasannya; padahal IA ITB hanyalah sebuah paguyuban seperti halnya paguyuban lawak “Srimulat” dulu atau sekarang paguyuban lawak “Opera van Java” si Sule.


Sebagai alumnus ITB “senior” (maklum masuk ITB 1973) yang tak akan pernah bosan menulis untuk kemajuan civitas academica ITB, saya hanya ingin mengingatkan Ketua Umum IA ITB S. Widayatin agar “tidak tertipu” dalam memilih anggota kabinetnya. Pilihlah alumni ITB yang mau bekerja keras tanpa dibayar (kecuali para staf dan karyawan Eksekutif IA ITB), mau bekerja tanpa pamrih hanya untuk kemajuan IA ITB; mau bekerja tanpa niat ngiler sana-sini cari proyek BUMN (apalagi Anda bos di Kementrian BUMN). Konsekuensinya Anda harus berani untuk tidak memilih anggota “Tim Sukses” Anda yang motifnya tidak tulus. Jangan terjebak jargon “yang berkeringat” dan “tak berkeringat”. Yang benar adalah siapa yang mau bekerja tulus untuk Ikatan Alumni ITB. Sebagai mantan aktifis kampus, saya percaya Anda sudah pinter “membaui” siapa-siapa saja alumni ITB yang “emas dan loyang”.


Untuk program ke depan saya ingin mengingatkan agar aspirasi banyak alumni ITB yang sudah menyebar ke berbagai belahan dunia dapat terakomodasikan, maka dalam mekanisme pemilihan Ketua Umum IA ITB ke depan harus dipikirkan adanya perubahan dalam AD/ART. Perpaduan antara pemungutan suara langsung di kampus ITB dan cabang-cabang IA ITB di berbagai tempat baik di dalam maupun di luar negeri (karena ini akan sangat baik untuk silaturahmi sesama alumni ITB); tetapi juga melalui pemungutan suara melalui dunia maya agar suara yang diberikan kepada calon Ketua Umum ITB akan menjangkau alumni ITB di berbagai belahan dunia. Sehingga jumlahnya akan jauh melebihi jumlah sekarang ini bahkan bisa mendekati jumlah alumni ITB yang masih hidup dari jumlah alumni seluruhnya sejak ITB (TH Bandung) tahun 1920 yang telah mencapai 70.000an. Selebihnya program Anda yang digadang-gadang selama kampanye pemilihan, harus konsekuen dan konsisten dijalankan.


Impian saya ke depan, Ketua Umum IA ITB adalah datang dari kalangan wirausaha muda sejati (genuine entrepreneur). Kemarin sudah ada Dasep A, pemenang BJ Habibie Award sebagai seorang wirausaha sejati yang sukses, yang independen, yang sudah berani maju ke depan. Namun karena Dasep tak mampu menggalang para alumni ITB yang banyak terpusat di lingkungan pemerintah (Kementrian-kementrian terutama Kementrian BUMN), maka nasibnya menjadi “juru kunci” saja. Inilah sebenarnya dimensi kekeringan atau kemunduran alumni ITB yang tetap tak mandiri dalam memilih Ketua Umum IA ITB. Mitos Ketua Umum IA ITB “harus” dari kalangan pejabat tinggi pemerintah tetap tak tergoyahkan. Dan ini dimanfaatkan betul oleh “Tim Sukses” di lapangan dalam “menggiring” para alumni ITB yang pegawai negeri di berbagai Kementrian RI dan alumni ITB yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang bosnya menjadi “kroni” pejabat tinggi pemerintah.


Selamat bekerja dengan tulus Pengurus IA ITB yang baru!!!


www.cardiyanhis.blogspot.com
Http://id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6

Read more...

Selamat Datang Profesor. Bedahlah Penyakit PSSI

>> Sunday, July 10, 2011


Oleh Cardiyan HIS

Penantian lama mereformasi PSSI setelah tumbangnya rezim Nurdin Halid, untuk sementara berakhir sudah dengan terpilihnya Ketua Umum PSSI Prof.DR. Djohar Arifin Husein. Mantan pemain seangkatan breaker Nobon (PSMS/timnas) dan stopper Risnandar (Persib/timnas), wasit FIFA dan pejabat tinggi serta profesor ini diharapkan dapat melaksanakan semangat reformasi di tubuh PSSI.



Profesor Djohar sangat paham situasi sepakbola Indonesia. Maka waktu yang sangat berharga yang hilang percuma selama kepengurusan rezim Nurdin Halid harus segera diganti dengan kinerja yang serba cepat tetapi sistematis. Perseneling sudah harus siap digerakkan dari gigi tiga dan gas siap diinjak dalam-dalam untuk mengejar program mendesak terutama hajatan timnas Indonesia di Pra Piala Dunia melawan timnas Turkmenistan (home and away) dan sepakbola SEA Games 2011 di Jakarta-Palembang.


Tetapi seperti sama-sama maklum program PSSI begitu menumpuk untuk secara paralel harus dijalankan segera pula. Perhatian kepada Kompetisi Usia Muda harus menjadi prioritas. Karena dari sinilah suplai bahan baku terbaik bagi tim nasional secara sistematis dan berkesinambungan akan terjadi. Sejarah membuktikan, mengapa prestasi timnas Indonesia bisa berlangsung bagus dan lama sejak 1950-an sampai 1970-an karena ada kesinambungan antara pembinaan timnas Indonesia Yunior dengan timnas Indonesia Senior ketika itu. Peranan sponsor yang sebelumnya diperankan dengan konsisten oleh Medco Group tentu akan semakin berlipat lagi karena perusahaan milik Arifin Panigoro ini, suka atau tidak suka melalui Kelompok 78 sangat berperan besar bagi terpilihnya Profesor Djohar Arifin Husein, sebagai Ketua Umum PSSI dan Farid Rahman, sebagai Wakil Ketua Umum PSSI serta dominasi anggota Kelompok 78 di jajaran Komite Eksekutif PSSI. Tentu sponsor yang lain juga akan menyusul seperti dari Salim Group, Coca Cola dsb.


Dualisme kompetisi Indonesia Super League (ISL) dan Liga Primer Indonesia (LPI) juga optimis akan segera berakhir antara lain dengan terobosan ide menggabungkan kepemilikan masing-masing klub melalui merger. Setidaknya pada klub-klub sekota atau sepropinsi. Ini jawaban sangat logis atas fakta bahwa klub sepakbola professional sudah sepatutnya dilarang memanfaatkan dana bersumber APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) maupun APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional). Karena ini akan menjadi bibit korupsi sistemik dan penyalahgunaan kekuasaan para politikus dalam melanggengkan kekuasaannya. Dana yang dimiliki Rakyat Indonesia ini sangat adil bila dialihkan untuk pembangunan infrastruktur olahraga (tidak hanya sepakbola) dan juga pembinaan sumberdaya manusia dalam membina para calon olahragawan berprestasi melalui pencarian bibit unggul, program pelatihan calon pelatih dan wasit di berbagai kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.


Pembenahan kompetisi dengan peleburan dua sistem kompetisi menjadi satu kompetisi PSSI diharapkan akan mengerucut kepada meningkatnya prestasi timnas PSSI. Namun ini tidak mudah karena menyangkut banyak hal terutama profesionalisme pemain; wasit; pengurus klub; pengurus PSSI, Komite Eksekutif dan Komisi Disiplin serta Komisi Banding PSSI; aturan pembatasan jumlah pemain professional asing; peranan media cetak dan elektronik dan juga tentunya sikap dewasa penonton. Bila setiap stake holder menyadari kedudukan dan tanggungjawabnya, masalah sponsor kompetisi rasanya tidak akan terlalu sulit lagi. Mengapa? Karena lepas dari pencapaian mutu kompetisi PSSI yang belum bisa dibanggakan, tetapi sepakbola Indonesia memiliki keunggulan luar biasa dalam hal potensi nyata jumlah penonton yang sangat luar biasa serta peliputan media yang luar biasa pula. Hanya dengan kejelian dan profesionalisme pada pengurus PSSI, sepakbola Indonesia akan menjelma menjadi industri sepakbola yang luar biasa di level dunia.


Kita berharap, dengan adanya “Pelajaran Sepakbola Nurdin Halid”, jajaran pengurus PSSI harus sejak awal kepengurusan di PSSI menjadikan organisasi PSSI sebagai “ladang beramal” dan bukan malah sebaliknya sebagai “ladang mencari duit”. Kita akan sangat mengapresiasi bila niat baik mereka diwujudkan dengan karya nyata terwujudnya prestasi tim nasional Indonesia di jajaran elite dunua. Tentu pencapaiannya secara bertahap dan sistematis. Sebab bukankah membangun Roma tidak bisa diwujudkan dalam satu hari?


Selamat bekerja Profesor Djohar Arifin Husein. Sampai ketemu di stadion Senayan manakala timnas Indonesia menjuarai sepakbola SEA Games 2011 dan timnas senior Indonesia lolos Pra Piala Dunia.

Read more...

Fenomena Menarik: SMA “Kampung” Taklukkan SMA “Elite Kota”

>> Saturday, June 4, 2011

Oleh Cardiyan HIS

SMA-SMA dari daerah membuat kejutan pada Ujian Nasional SMA 2011. Selain menduduki SMA dengan nilai rata-rata murni terbaik nasional juga menempatkan siswanya mendominasi prestasi individu nasional. Akankah kejutan ini akan berlanjut pada hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2011? Sangat layak untuk ditunggu kalau kita peduli dengan perkembanan kemajuan pendidikan.

Bayangkan! Berturut-turut SMA Negeri 10 Fajar Harapan, Banda Aceh; SMA Negeri 4 Denpasar, Bali dan SMA Negeri 1 Kota Tasikmalaya, Jawa Barat memperoleh nilai rata-rata murni terbaik nasional!. Dari 10 SMA Negeri terbaik nasional tak menyisakan satu pun untuk SMA Negeri “Elite Kota” seperti SMA Negeri 8 Jakarta; SMA Negeri 3 Bandung atau SMA Negeri 3 Malang yang selama ini dikenal sebagai penghasil siswa terbanyak yang diterima di PTN ternama.

Tak berhenti disini; SMA Negeri 4 Denpasar, Bali juga menempatkan siswanya mendominasi prestasi individu yakni berturut-turut nomor 1 sampai nomor 4 terbaik nasional. SMA Negeri 2 Tasikmalaya, Jawa Barat, berturut-turut menduduki nomor 5 sampai nomor 8 terbaik nasional dan dikunci oleh SMA Negeri 2 Lamongan, Jawa Timur dan SMA Negeri 1, Bekasi, Jawa Barat pada nomor 9 dan 10 terbaik nasional!!!

Bagi para alumnus SMA Negeri “kampung” seperti penulis (alumnus SMA Negeri 2 Tasikmalaya, Jawa Barat), fenomena SMA “Kampung” Taklukkan SMA “Elite Kota” ini bukan hanya menjadi kebanggaan tersendiri. Tetapi menjadi menarik bahwa ada kemajuan signifikan tentang kualitas SMA-SMA Negeri di daerah sekarang ini. Terus terang sudah menjadi semacam mitos bahwa hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) adalah jauh lebih bergengsi ketimbang hasil Ujian Nasional SMA. Hal ini bisa dimaklumi kalau melihat kepada fakta begitu banyak kejadian kebocoran soal pada pelaksanaan Ujian Nasional SMA, sementara SNMPTN relatif lebih terkontrol meskipun ada sedikit tercoreng dengan kasus joki.

Bahwa selama ini SNMPTN, yang dimulai pada tahun 1989 dengan nama Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) kemudian berganti-ganti nama -----antara lain terakhir SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) sejak 2002, sebelum berganti nama SNMPTN sejak tahun 2008 hingga sekarang ini----- adalah seleksi yang sangat berkualitas, kredibel, dan efisien. Secara akademis hasilnya berkualitas tinggi karena calon mahasiswa yang diterima adalah mereka yang berhak atas kecerdasannya dan tidak ditentukan atau tidak diembel-embeli lagi oleh tebal tidaknya kantung orangtua calon mahasiswa. Kredibel karena penyelenggaraannya dilakukan sangat jujur, dimana secara nasional dari Aceh sampai Papua tidak pernah ada kasus kebocoran soal ujian; dan bahwa ada kasus joki pun telah berhasil ditindak secara pidana; sehingga tidak mempengaruhi hasil secara keseluruhan. Efisien dan hemat secara ekonomi karena setiap calon tidak perlu mendatangi masing-masing PTN yang menjadi pilihannya tetapi hanya cukup datang dan mendaptar kepada Panitia Lokal SNMPTN di PTN terdekat dengan domisili sang calon mahasiswa.


Disertasi DR. Toemin A. Maksoem yang berjudul “Hasil UMPTN Lebih Tajam dari pada Nilai Ebtanas Murni untuk Digunakan sebagai Kriteria Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri” yang dipertahankan di IPB, Bogor pada tahun 1996, telah membuktikan tentang kredibilitas seleksi UMPTN ini. Disertasi ini kemudian dibukukan dengan judul “Mana Yang lebih Dapat Diandalkan Ebtanas atau UMPTN” (Penerbit UI Press 1997) semakin membuka mata publik, bahwa Nilai Ebtanas Murni tidak dapat menggantikan UMPTN sebagai alat seleksi untuk memilih calon mahasiswa baru PTN.


Tak mengherankan bila komunitas pendidikan tinggi di dunia internasional pun sangat mengapresiasi kredibilitas penyelenggaraan UMPTN di Indonesia. Ini terbukti dalam kriteria Selektivitas Mahasiswa dalam ranking perguruan tinggi di Asia Pasifik versi majalah “AsiaWeek” (Hong Kong) , PTN-PTN Indonesia menduduki skor tertinggi yakni ITB nomor 1, UI nomor 5, UGM nomor 6, Undip nomor 19 dan Unair nomor 37 (“Time of Ferment”, Cover Story Education, Asia Week, 30 Juni 2000).

Bertahap Harus Dikaitkan UN SMA dengan SNMPTN

Oleh karena adanya fenomena kemajuan signifikan SMA-SMA Negeri di daearah pada hasil akhir Ujian Nasional SMA 2011 dan kemungkinan adanya “stagnansi” pada SMA-SMA Negeri mapan yang selama ini lebih dikenal dalam kaitan dengan SNMPTN. Maka menjadi sangat menarik menunggu hasil SNMPTN 2011 yang baru saja dilaksanakan pada 31 Mei dan 1 Juni 2011. Bila ada korelasi kuat antara prestasi SMA Negeri dan prestasi individu siswanya yang berprestasi secara nasional pada Ujian Nasional SMA 2011 dengan hasil SNMPTN 2011, maka kita boleh menaruh harapan bahwa ada kemajuan dalam proses pendidikan di SMA-SMA Negeri di daerah.

Dan selanjutnya perlu diteliti secara lebih mendalam bahwa boleh jadi ada keterkaitan perkembangan prestasi SMA-SMA Negeri dan atau swasta di daerah atau secara nasional dengan kebijakan untuk memberikan “kepercayaan” nilai Ujian Nasional SMA mulai diperhitungkan sebagai alat seleksi yang memiliki bobot tertentu bagi penerimaaan mahasiswa baru pada PTN secara nasional. Sehingga ada kesinambungan antara hasil binaan para guru SMA dengan PTN yang akan menyeleksi para calon mahasiswanya. Paling tidak, kebijakannya bisa dilakukan secara bertahap sampai diyakini betul setelah melalui riset yang kredibel bahwa memang ada keterkaitan kuat antara prestasi pada Ujian Nasional SMA dengan SNMPTN.



Read more...

Topi Pandan yang Menawan

>> Thursday, June 2, 2011


Oleh Cardiyan HIS



Bung Karno pun memakainya di kala jalan-jalan di tempat pembuangannya di Bengkulu, sampai mendapatkan sang pujaan hati Fatmawati.



Uang bisa diciptakan. Bukan hanya di Jakarta tetapi juga di desa-desa. Syaratnya asal selalu memiliki kreatifitas. Terlebih di desa-desa di Indonesia masih banyak tanah terlantar atau bahkan banyak ditemui halaman belakang rumah yang lumayan luas sementara ekonomi keluarga anda secara kebetulan pula sedang mengalami kemarau yang berkepanjangan. Kemudian anda ingin memiliki uang cukup. Bagaimana caranya?

Mulailah berfikir untuk menanam pohon Pandan. Apalagi kalau. kebetulan anda dianugerahi kebolehan dalam hal anyam-menganyam seperti yang dimiliki oleh penduduk di daerah Rajapolah (Tasikmalaya, Jawa Barat), pinggiran Tangerang (Banten), dan Gombong (Kebumen, Jawa Tengah), yang merupakan sentra-sentra kerajinan tangan.
Pohon Pandan (Pandanus tectorius) adalah tanaman asli Indonesia. Habitus yang baik bagi tumbuhnya pohon ini adalah di daerah pesisir sampai ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Selain Pandanus tectorius -----yang adalah merupakan varietas unggul serta biasa digunakan sebagai bahan utama pembuatan topi Pandan----- dalam famili Pandan-pandanan ini terdapat pula pohon Pandan Jaksi (Pandanus pandanaceae). Namun species Pandan Jaksi ini lebih banyak digunakan untuk bahan anyaman topi Pandan yang kualitas kasar bahkan lebih cocok untuk bahan anyaman tikar Pandan. Selain morfologis Pandan Jaksi ini rata-rata lebih besar dari Pandanus tectorius, maka pada bagian punggung Pandan Jaksi, di bawah lengkung "talang air" -----yang merupakan ciri-ciri pohon Pandan----- tidak terdapat duri (spina) sebagaimana yang ada pada Pandanus tectorius. Serat yang dikandung baik oleh Pandanus tectorius maupun oleh Pandan Jaksi menyebabkan pohon ini jadi kesayangan para penganyam. Hal semacam ini ada pula pada pohon Panama (Panama americana) yang menjadi bahan utama topi Panama.

Di atas lubang-lubang galian sedalam 1 (satu) meter anak-anak pohon pandan yang merupakan bibit, ditanam. Sudah barang tentu tanah yang akan dijadikan tempat habitusnya itu harus sudah terjamin kompleks humusnya. Untuk memperoleh hal itu, orang melakukan tindakan pemupukan jauh sebelum waktu tanam dimulai, Biasanya, sebagaimana yang di lakukan kebanyakan penanam-penanam sekaligus penganyam pandan, di desa-desa kecamatan Rajapolah (Tasikmalaya) adalah mempergunakan pupuk alam. Entah kenapa, tapi kata mereka pupuk ini lebih baik dari pupuk kimia seperti Urea, Sendawa Chili, ZA. Yang jelas pupuk dari jenis terakhir ini memang cukup mewah untuk ukuran kantong mereka.


Suwakan
Jarak terbaik antara lubang situ dengan lainnya adalah antara 3 sampai 4 meter. Dan di musim penghujanlah konon waktu paling tepat untuk mulai menanam pohon ini. Pada musim ini segala kebutuhan bagi tumbuh baiknya pohon Pandan lebih banyak terjamin. Sebab orang menanam pohon Pandan terutama dengan harapan baiknya keadaan daun-daun pada waktu akan dipetik. Pernah, pada tahun 1960 petani-petani pohon Pandan di daerah Cihaurbeuti, Ciamis (tetangga kecamatan Rajapolah), mengalami kerugian besar karena salah memilih waktu tanam. Daun-daun Pandan pada mengering dan menghasilkan serat yang jelek-jelek. Pada musim kemarau panjang sekarang ini pun serat Pandan yang baik sulit didapatkan, sehingga mengakibatkan harga ayaran Pandan melonjak tinggi. Setelah itu dengan sedikit rajin membersihkan tumbuh-tumbuhan parasit seperti rumput Alang-alang (Imperata cylindrica) dan rumput Teki (Eleocharis dulcis) ditambah sedikit rasa sabar dalam membasmi hama pohon yang bernama Kepik Indol-Indol (Mylabris pustulata) yang terkenal amat rakus memakan-habiskan daun mudanya. Maka insya Allah dalam tempo 19 bulan, daun Pandan yang sedang mulai membesar itu sudah bisa dipetik.

Dalam hal ini, harap jangan diumbar rasa ingin kaya, hingga sekarang pemetikan dilakukan, habislah daun-daun itu. Cara paling selamat dan paling baik dalam hal petik-memetik ini adalah masing-masing pohon sebanyak 6 helai daun dua bulan sekali. Dengan pisau khusus, duri-duri yang ada padanya itu kita buang. Kemudian dengan alat sejenis yang bernama suwakan (micro stome), berukuran 5 x 2 cm, daun-daun selesai dipetik ini diiris-iris hingga seragam bentuknya. Untuk mendapatkan serat, irisan seragam itu direbus, direndam selama semalam, lalu dijemur. Sampai di sini serat yang akan digunakan menganyam itu sudah didapatkan. Tinggal lagi terserah pada keterampilan tangan yang akan menganyam. Dan duit sudah mulai bisa dihitung-hitung mulai dari sini.

Referensi:
HIS, Cardiyan, “Pandanus tectorius Plus”, Rubrik Ilmu, majalah Tempo, Jakarta, 18 Nopember 1972.
HIS, Cardiyan, “Topi Panama”, majalah Prima, Bandung, April 1973.

Read more...

[Senyum-ITB] Ki Buntoro mengajak bentuk Teknopark yang pas untuk Indonesia

>> Wednesday, May 4, 2011

> To: Senyum-ITB@yahoogroups.com
> From: edy2@panca.net.id
> Date: Wed, 4 May 2011 10:09:08 +0800
> Subject: Re: [Senyum-ITB] Ki Buntoro mengajak bentuk Teknopark yang pas untuk Indonesia
>
> Sugeng ndalu Mr.Buntoro @USA Made in Indonesia,
>
> (1) Sekedar menguji angka-angka yang disajikan Bapak. Pertumbuhan
> rata-rate sebesar 30% per tahun selama 20 tahun, coba bayangkan . . .
> luar biasa sehingga sulit dipercaya.
>
> Tetapi setelah menghitung dibantu spread-sheet, angka yang disampaikan
> Pak Buntoro akan terlihat secara visual (di-asumsi-kan linier):
>
> Tahun | Nilai Penjualan (dalam juta Rupiah)
> 1 600
> 2 780
> 3 1,014
> 4 1,318
> 5 1,714
> 6 2,228
> 7 2,896
> 8 3,765
> 9 4,894
> 10 6,363
> 11 8,272
> 12 10,753
> 13 13,979
> 14 18,173
> 15 23,624
> 16 30,712
> 17 39,925
> 18 51,902
> 19 67,473
> 20 87,715
> 21 114,030
>
> (2) Sebelum ini saya sudah cukup bangga bisa punya team dengan
> produktivitas sebesar USD4K per bulan, dengan kualifikasi karyawan
> cum-laude2 dari ITB. Lah ini ada industri manufaktur yang tentu
> kualifikasi karyawan rata-rata di bawah S1, kecuali jajaran manajemen
> dan tenaga ahli, berani pasang target USD5K/bulan/orang. Sungguh saya
> merasa tertampar nih Pak (kalau saya kuda mungkin istilah-nya menjadi
> saya ter-pecut).
>
> (3) Mengalahkan serbuan Paramount Bed dari Negeri Jepang? Perusahaan ini
> sudah berdiri sebelum Pak Buntoro lahir ke dunia ini.
> http://www.paramount.co.jp/english/
>
> Saya tidak akan percaya jika saya tidak punya kesempatan mengujinya.
> Bulan Feb 2011 yang lalu saya berkesempatan masuk ke ruang VVIP RS Prima
> Medika di Sanglah Denpasar. Kebetulan di ruang ini terdapat tempat tidur
> listrik (bukan kursi listrik loh) buatan MAK. Saya telusuri rangka-nya,
> sampai ke bawah, mencari motor listrik dan controller-nya. Saya coba
> naik-turunkan dengan remote control yang ada, coba pasang telinga
> baik-baik . . . tidak terdengar suara motor atau gesekan benda pejal
> (logam). Koq bisa ya? Mungkin saya perlu pinjam stetoskop dokter untuk
> dapat mendeteksi suara dari bed MAK ini. Luar biasa!
>
> Salam dari Bali,
> Edy Gunawan, alumni EL ITB 1988, chip designer, sekarang bekerja untuk
> Crypto Product Group, Atmel Corporation sebagai Application Engineer.
>
> -------- Original Message --------
> Subject: RE: [Senyum-ITB] Ki Buntoro mengajak bentuk Teknopark yang pas
> untuk Indonesia
> Date: Wed, 4 May 2011 05:46:16 +0700
> From: buntoro MAK - 1
>
> Selamat sore P. Edy
> Disini masih tanggal 3 Mei jam 18.40, langit masih terang benderang.
> Saat ini saya di New York.
> Lagi heboh dengan terbunuhnya Osama Bin Laden. Kemarin Time Square dan
> Broadway dijaga ketat, polisi bersenjata lengkap ada di setiap sudut jalan.
>
> Berbicara mengenai NEJ-1,
> NEJ-1 memang banyak memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk berani
> berwirausaha.
> Namun NEJ-1 menyisakan banyak sekali pertanyaan, antara lain:
> 1. Bagaimana meningkatkan penjualan dari Rp 600 jt pada tahun 1990
> menjadi Rp 120 M pada 2010
>
> 2. bagaimana mempertahankan sustainable growth sebesar 30%/tahun
> sepanjang 20 tahun
>
> 3. Bagaimana mempertahankan ICOR (Incremental Capital Output Ratio)
> sebesar 1/3
>
> 4. Bagaimana mempertahankan tingkat keuntungan ditengah turunnya harga
> produk (akibat globalisasi dan faktor Cina)
>
> 5. Bagaimana sepanjang 10 tahun (sejak tahun 2000) menghadapi pesaing
> industri sejenis PMA Jepang yang merupakan world leader market dan
> masuknya produk import dari Cina.
>
> 6. Bagaimana meningkatkan produktivitas karyawan dari US 10.000 /org/th
> menjadi US $ 60.000/org/tahun
>
> 7. Bagaimana menembus pasar dunia
>
> 8. Bagaimana menjadi World Class Company
>
> 9. dll
>
> Semua itu akan coba dijawab dan dibeberkan se-gamblang2nya di NEJ-2,
> dengan demikian nanti generasi muda Indonesia tidak melihat NEJ hanya
> sebagai dongeng yang abstrak tetapi sebagai sesuatu yang masuk akal dan
> dapat dilakukan oleh semua orang.
>
> Memang sepintas apa yang kami lakukan bisa dikatakan "tidak lumrah"
> bahkan juga "tidak waras", tapi kalau dikaitkan dengan visi MAK untuk
> menjadi salah satu mata rantai dalam rangkaian proses Indonesia menjadi
> negara industri, ya memang itu yang mesti dikerjakan.
>
> Mengenai motor "Mbonceng Aku Kepenak", sudah mulai "on the road" sejang
> Agustus tahun lalu. Tapi cerita detailnya nanti saja Pak.
> Saat ini saya hanya mau "sesumbar" bahwa, Insya Allah kami akan kalahkan
> Honda dan Yamaha di bumi Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun.
>
> Salam entrepreneur
>
> http://buntoro-mak-one.blogspot.com/
> This blog will realy inspiring You....
>
> Best Regards
> buntoro

Read more...

[Senyum-ITB] Peran Alumni ITB: Mengelola SDA untuk Kemakmuran Rakyat Indonesia

Date: Thu, 28 Apr 2011 03:36:53
Subject: Re: [Senyum-ITB] FW: TANAH AIR TERGADAI? MINERAL GO SKY HIGH


Prof.Hasan

Tulisan rekan Andri yg dikutip dari milis Dosen ITB, menantang untuk menjawab.Seharusnya memang alumni ITB yang bisa menjawab,dan tdk tenggelam dalam keluh kesah sekedar menyalahkan pemerintah.Karena kita sudah sadar bahwa sistem politik yang "korup" sudah melemahkan pemerintah shg kurang efektif dalam menyusun dan mengeksekusi program Pembangunan Nasional.Dalam situasi politik sperti ini "kelas menengah"seperti alumni ITB yang bisa berperan besar "mendobrak belenggu politik korup"dengan kemampuan profesional,teknokratis dan komitmen moral nya.

Usaha untuk pemanfaatan SDA dg mengembangkan industri sdh disadari semua pihak.Pemerintah sdh memutuskan kebijakan utk pemanfaatan Gas Bumi sbg bahan baku (feed stock) dan energi dalam negeri.Lebih penting adalah implementasinya

Harus diakui,masih sedikit korporasi Nasional yg mampu mengolah SDA menjadi produk industri.a.l.Antam (Dirut Alwin Lubis alumni ITB TA 76) yg telah membangun Ferro Nickel smelter,dan sdg membangun Aluminium smelter,Tuban Petro mengolah kondensat dari Kaltim menjadi. (Dirut Amir Sambodo,alumni ITB MS 78)produk Paraxylene bahan dasar textile,BBM dan LPG,mengolah crude oil menjadi poly propylene,Bakrie Chemical (Dirut Rauf Purnama TK 65) menyiapkan pembangunan gasifikasi batubara menjadi petrokimia.

Saya bersama tim sedang mendesain kawasan ekonomi khusus industri dasar yang mengolah SDA di Kalimantan Timur dalam Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia.

Saya mengajak alumni ITB untuk berkontribusi mengembangkan "Indonesia Sustainable Development"memanfaatkan SDA dan "Knowledge" untuk pembangunan industri Nasional yang berwawasan lingkungan.




Salam
Amir Sambodo


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Read more...

[Senyum-ITB] Membangun Industri Mekanik

>> Wednesday, April 27, 2011

On 4/24/11, buntoro MAK - 1 <buntoro2811@hotmail.com> wrote:
>
> Pak Adi,
>
> Berbicara soal "mimpi" saya jadi teringat diskusi saya dengan Alm. Pak
> Samaun di suatu ruangan Lab Manufel pada suatu hari di tahun 1999.
> Pada saat itu saya mengkritisi beliau dan mempertanyakan mengapa beliau
> terus menebar mimpi mengenai BHTV dan mengharapkan pemerintah serta berbagai
> perusahaan IT kelas dunia seperti IBM, Cisco, HP dll untuk membangun
> fasilitas produksi atau pusat riset di Bandung, yang diharapkan bisa menjadi
> "inti pertumbuhan" BHTV.
> Saat itu saya katakan, mengapa tidak dimulai saja dengan membantu
> mengembangkan industri2 kecil yang bertumbuhan di sekitar ITB secara all-out
> sehingga nantinya menjadi cukup besar untuk bisa menjadi "inti pertumbuhan"
> industri IT di Bandung.
> Mimpi memang perlu pak.
> Tapi kalau mimpinya itu-itu terus sepanjang lebih dari sepuluh tahun, saya
> kira ada "sesuatu yang salah" yang perlu dikoreksi.
>
> Saya memang melakukan pendekatan yang berbeda karena sebagai praktisi saya
> mengalami sendiri berbagai kesulitan dalam membangun sebuah industri.
> Saya tidak menyangkal bahwa saya punya modal untuk melakukan sesuatu dan
> industri yang running sebagai back bone
> Tapi jangan dibayangkan bahwa modal itu besar dan industri itu running well.
> Sebagai gambaran, pada tahun 1998 jumlah karyawan saya sekitah 80 orang dan
> nilai penjualannya sekitar Rp 6 M, atau kalau disetarakan dengan industri
> sepatu kira2 yang kapasitasnya 30.000 pasang / tahun.
> Dengan kapasitas sekecil itu saya kira sulit bagi siapapun untuk mewujudkan
> "mimpi" membangun 100 industri dalam 10 tahun.
> Tapi dalam berbagai keterbatasan itu, sejak September 2001 kami mulai
> membangun Teknopark yang diharapkan akan selesai seluruhnya pada tahun 2011
> ini.
> Dengan selesainya Teknopark ini, masyarakat (akademisi) bisa belajar
> bagaimana mentransformasikan IpTek (Ide/gagasan) menjadi Industri dan
> bisnis.
>
> Saya kira saat ini hampir dapat dikatakan tidak ada lulusan perguruan tinggi
> yang berani terjun sebagai pengusaha industri.
> Tidak usah jauh2, sepanjang kurun waktu 20 tahun terakhir ada berapa lulusan
> ITB yang jadi pengusaha industri.
>
> Salam entrepreneur.....
>
> http://buntoro-mak-one.blogspot.com/
> This blog will realy inspiring You....
>
> Best Regards
> buntoro
>
>
>
>
>
>
> To: Senyum-ITB@yahoogroups.com
> From: adisaja@gmail.com
> Date: Sun, 24 Apr 2011 15:07:01 +0700
> Subject: Re: [Senyum-ITB] Adakah Science Park di Indonesia?
>
>
>
>
>
>
> Pak Buntoro,
>
> Mimpi itu penting pak. Kami yg di kampus setiap hari harus terus
> menjual mimpi ke generasi muda, agar mereka termotivasi utk terus
> berjuang. Mimpi itu perlu pak ....
>
> Bedanya, utk pak Buntoro, mimpi itu lebih dekat dgn realitas karena
> anda punya modal cukup utk ke arah sana. Dgn adanya industri yg
> running .... mimpi itu bisa terwujud. Sementara kami yg di kampus ini
> masih sangat tergantung dari banyak pihak, yaitu para alumni yg
> tersebar baik di industri maupun di birokrasi.
>
> Perjuangan masih terus berlangsung pak ... bentuknya berbagai cara dan
> macam .... dan masih terus bereksperiment ....
>
> Yg menyedihkan .... kalau nanti jumlah orang yg punya idelisme utk
> membangun industri makin berkurang, apalagi dgn suasana ekosistem
> industri yg kurang mendukung. Makin banyak generasi muda yg memilih
> hidup pragmatis ... gak perlu repot2 yg penting cepat kaya dan happy
> :-(
>
> Belum banyak yg bisa di share pak .... nanti saja kalau sudah ada
> success story yg bisa diceritakan .....
>
> salam,
>
> -ai-

Read more...

Logo IA-ITB

>> Friday, April 22, 2011





Read more...

[Senyum-ITB] Temannya Vina menyanyi lagu Cinta

>> Wednesday, April 13, 2011

Temannya Vina menyanyi lagu Cinta



Sebagai obat rindu sementara buat Om Ari dan Teh Dyah, temanku akan menyanyikan lagu Cinta yang biasa akyu nyanyikan.
Aksen suara akordeon yang romantis mengisi lagu ini kalau akyu yang membawakan.
Kalau versi temanku ini lebih ke arah reggae.

Sudah siap mendengar lagu Cinta yang akyu populerkan dibawakan oleh temanku ?
Silahkan diputar video di bawah ini.

Sampai jumpa Selasa 19 April 2011, 13.00 - 15.00 WIB di milis Senyum-ITB untuk acara pembukaan Pameran April M yach.





Salam maniez,

:-))
Vina Panduwinata & 99Venus Team


------------------------------

Read more...

[Senyum-ITB] Vina menyanyi di Pameran April M

Vina menyanyi di Pameran April M



Ketika rembulan tersenyum diantara mega biru
Kutangkap sebersit isyarat dimatamu

Kasih,
Kau sibak sepi di sanubariku
Kau bawa daku berlari di dalam asmara
Yang mendamba dan bahagia


Untuk membuka pameran April M di milis Senyum-ITB ini, akyu akan menyanyikan sebuah tembang populer dari album pertamaku Citra Pesona.
Lagu ini berjudul September Ceria.

Lagu yang hadir pertama kali di blantika musik Indonesia pada tahun 1982, yang langsung membuat namaku populer di telinga pendengar musik Indonesia.
Terima kasih.

Sengaja akyu membawakan lagu September Ceria karena ada persamaan nama dengan September M yang sejarahnya akan diceritakan oleh teman-teman jurusan Mesin.
Ditunggu yach.


Tatkala butiran hujan
Mengusik impian semu
Kau hadir disini
Dibatas kerinduanku


Kasih,
Kau singkap tirai kabut hatiku
Kau isi harapan baru
Untuk menyonsong masa depan bersama



Untuk mendengarkan suaraku yang jernih, yang punya ciri khas tersendiri, yang langsung membuat penggemar musik menyukainya, silahkan diputar video di bawah ini.
Video satu lagi ialah tembangku ini dibawakan oleh paduan suara IPB.

Selamat berpameran teman-teman Mesin di pameran April M.
Selamat dan sukses !!!



Salam maniez,

:-))
Vina Panduwinata & 99Venus Team


--------------------------




Read more...

Kubur “Low Politic” Ecek-ecek PSSI, Kembalikan ke PSSI “High Politic”, “High Product”

>> Wednesday, April 6, 2011

alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592680583090789042" />



Oleh Cardiyan HIS



Trio Nurdin Halid-Nirwan Bakrie-Nugraha Besoes habis sudah. Menurut FIFA, mereka telah kehilangan seluruh kredibilitasnya di Indonesia dan tidak berada pada posisi untuk bisa mengawal suatu proses yang dapat menyelesaikan krisis yang sedang terjadi. What next?



Sepakbola Indonesia memang paling hiruk pikuk di dunia. Ketika Piala Dunia berlangsung seolah Indonesia yang punya hajatan dan kesebelasan Indonesia bakal masuk final. Padahal kesebelasan PSSI Nurdin Halid sudah lama masuk kotak; menjadi juru kunci di penyisihan grup. Begitu pula hiruk pikuk organisasi PSSI di Senayan Jakarta bahkan mengalahkan induk organisasi FIFA sendiri yang tetap adem ayem di Zurich, Swiss. Ini tak lepas dari kontroversi rejim Nurdin Halid yang sangat minim prestasi tetapi memiliki “prestasi” luar biasa dalam mengelabui masyarakat sepakbola Indonesia. PSSI digiring-giring sekehendak udel Nurdin Halid; untuk melakukan “low politic” alias politik ecek-ecek demi kepentingan Partai Golkar maupun kepentingan pribadinya. Sementara stake holder sepakbola Indonesia diperlakukan oleh Nurdin Halid seperti kerbau dicokok hidungnya, dianggap orang bodoh semua.


Dan manakala FIFA telah menentukan keputusannya untuk menyetop rejim Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI, bagaimana selanjutnya PSSI? Apakah PSSI di masa depan akan menjadi organisasi nirlaba yang kredibel, karena PSSI dibesarkan oleh masyarakat pecinta sepakbola yang menginginkan Indonesia memiliki prestasi kelas dunia seperti jaman dahulu kala. Sehingga PSSI sekaligus sebagai alat perjuangan “high politic” untuk membuat rakyat Indonesia memiliki kebanggaan dan harga diri tinggi di jajaran bangsa-bangsa di dunia karena memiliki kesebelasan nasional yang berprestasi tinggi di level Asia bahkan dunia. Ataukah PSSI hanya akan dijadikan alat perjuangan “low politic” alias politik ecek-ecek para pejabat atau politisi untuk meraih kekuasaan dan kemudian melanggengkan kekuasaannya sementara prestasi sepakbolanya sendiri jeblog, masuk kelas paria bahkan di kawasan Asean?


Sepakbola Indonesia memang tak bisa dilepaskan dari masalah politik. Sejarah sepakbola Indonesia hampir identik dengan sejarah perjalanan Bangsa Indonesia . PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia ) yang didirikan oleh Ir. Soeratin Sosrosoegondo di Solo pada 19 April 1930 bercita-cita agar PSSI ini menjadi alat perjuangan Bangsa Indonesia, sebagai upaya politik untuk menentang penjajah Belanda. Kalau mau menganalisis lebih mendalam saat-saat sebelum, selama, dan sesudah kelahirannya hingga 5 tahun pasca proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, memang sangat terlihat jelas bahwa PSSI lahir dibidani oleh muatan politis; baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia yang ikut bergabung.


Maka pada pasca kemerdekaan, sepakbola dijadikan alat perjuangan pembentukan karakter bangsa ( National Character Building ). Dan hal ini sangat sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Bung Karno. Presiden RI pertama ini meminta sahabatnya di KTT Non Blok, Presiden Yugoslavia , Broz Tito untuk mengirim ke Indonesia salah seorang pelatih sepakbola terbaik di Eropa yakni Tony Pogacknik.


Pelatih Tony Pogacknik sangat menyelami keunggulan dan kelemahan pemain Indonesia. Tony Pogacknik memang sangat jeli. Ia menemukan kehebatan para pemain Indonesia ada pada kemampuan sprint pendek, sehingga dia mengembangkannya sebagai sebuah taktik penyerangan merayap, dengan umpan-umpan tik-tak cepat sejak dari belakang mendekati kotak penalti lawan. Maka menghadapi pemain-pemain Eropa bertubuh tinggi besar pun bukan menjadi halangan bagi para pemain Indonesia , karena bisa bermain tik-tak untuk menerobos benteng pertahanan lawan. Sebagai orang Eropa, Tony sudah sangat hapal tentunya kelemahan para pemain belakang yang berfisik tinggi besar ada pada kekakuan tubuh, tak lentur dalam membalikkan badan manakala penyerang lawan berhasil menembus tembok pemain belakang. Nah sebaliknya para pemain belakang Indonesia memiliki kemampuan fisik yang lentur, sehingga mereka akan mudah membalikkan badan untuk mengejar pemain depan lawan yang mencoba lolos.


Sedangkan fisik dan kebugaran para pemain Indonesia tempo dulu juga terbilang bagus, karena pada jamannya mereka memakan dan meminum makanan tradisional kampung yang bebas dari polutan, tidak merokok dan jelas tidak pernah makanan junk food seperti pemain sepakbola Indonesia jaman sekarang. Sedangkan dari aspek mentalitas, para pemain Indonesia memiliki daya juang sangat tinggi, yang tidak mudah menyerah, yang perjuangan di lapangan hijau merupakan perwujudan dalam membela kehormatan Bangsa Indonesia seperti halnya perjuangan para pahlawan di medan pertempuran melawan musuh.


Tony Pogacknik berhasil membawa Indonesia sebagai tim elite di Asia kalau tak boleh disebut sebagai yang terbaik di Asia . Setidaknya terbukti dengan lolosnya kesebelasan Indonesia ke Olimpiade Melbourne, Australia, pada tahun 1956, bahkan mencapai babak perempat final sebelum dihentikan oleh kesebelasan Uni Soviet melalui pertandingan yang sangat dramatis. Uni Soviet sendiri akhirnya yang tampil sebagai juara dan mengantungi medali emas sepakbola Olimpiade Melbourne setelah di final mengalahkan Yugoslavia 1-0. Bagaimana kesebelasan Indonesia menjadi representasi atas daya juang bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang gagah berani, bukan bangsa yang lembek yang mudah ditaklukkan, dapat digambarkan sebagai berikut: “If there was an Olympic Medal awarded for courage, tenacity and refusal to admit inferiority, the INDONESIAN SOCCER TEAM would have won it hands down yesterday at Olympic Park. They confounded experts, amazed the spectators and worried the Russian team a scoreless draw, even after extra time had been ordered. It was the most fantastic soccer match I have ever seen”.(Bill Fleming, senior soccer writer at the Argus newspaper, Australia, 30 November 1956).


Kesebelasan Indonesia tempo dulu memang memainkan “high politic” yang menghasilkan “high product”. Menutup periode 1950an Indonesia memenangi medali perunggu Asian Games 1958, di Tokyo, Jepang. Kemudian pada Asian Games 1962 di Jakarta, kesebelasan Indonesia memperoleh medali perak. Indonesia juga menjuarai berbagai turnamen internasional bergengsi seperti Merdeka Games (Malaysia), King’s Cup (Thailand), Queen’s Cup (Thailand), Agha Khan Gold Cup (Pakistan), President Cup (Korea Selatan), Pesta Sukan (Singapura) dan Jakarta Anniversary Cup (Indonesia) pada era 1960-an sampai 1970-an. Sementara untuk level kesebelasan yunior, Indonesia juga merajai kejuaraan resmi Asia.


Pencapaian prestasi sepakbola Indonesia jaman dulu adalah karena perpaduan antara kemampuan manajemen PSSI dalam mengelola kompetisi Perserikatan, -----yang meskipun bukan kompetisi professional yang memang baru ada di kawasan Eropa ketika itu----- tetapi kompetisi Perserikatan berlangsung relatif teratur dan bermutu, sehingga menghasilkan tim nasional yang berkualitas di level Asia. Hal ini didukung dengan suasana kondusif yang diciptakan oleh pihak Pemerintah yang memang menjadikan sepakbola sebagai alat perjuangan membangun karakter bangsa.


Pemain-pemain Berkarakter Kuat

Pembangunan karakter bangsa yang menjadi komitmen Presiden RI Bung Karno semakin menampakkan hasilnya. Masih dengan pelatih Tony Pogacknik, Indonesia semakin merajalela di peta sepakbola Asia . Tony Pogacknik bukan saja mampu meramu kesebelasan Indonesia menjadi kesebelasan yang kuat. Tony juga mampu mengembangkan para pemain Indonesia menjadi pemain yang memiliki karakter kuat seperti pada diri Aang Witarsa (Persib), Fatah Hidayat (Persib), Soetjipto Soentoro (Persija), Anwar Ujang (PSMS), Iswadi Idris (Persija), Djunaedi Abdillah (Persebaya), Ronny Patti (PSM) yang berturut-turut kesemuanya adalah para kapten tim nasional Indonesia yang sangat berwibawa.


Dengan kualitas timnas Indonesia yang cemerlang, maka berdatanganlah ke Jakarta kesebelasan-kesebelasan kelas dunia seperti Dynamo Kiev dengan kapten penjaga gawang legendaris Lev Yashin dan Dynamo Tiblisi (Uni Soviet), Csepel (Hongaria), Hajduk Split dan Red Star Belgrade (Yugoslavia), Spartac (Cekoslowakia), Santos, Cruzeiro, Corinthians dan Flamengo (Brazil), Independentie (Argentina). Sebaliknya, negara-negara kuat sepakbola di Eropa seperti timnas-timnas Belanda, Yugoslavia, Cekoslowakia, Bulgaria, Hongaria dan klub juara Bundesliga Jerman Barat Werder Bremen, dengan senang hati menerima timnas Indonesia yang melakukan “Tour Eropa” pada awal tahun 1965.


Dari beberapa pertandingan “Tour Eropa”, pertandingan paling dahsyat adalah ketika timnas Indonesia melawan Werder Bremen . Indonesia memang kalah 5-6, dua di antara enam gol Werder Bremen diperoleh melalui tendangan penalti. Tetapi pelatih Werder Bremen , Herr Brocker memiliki kesan sangat mendalam terhadap timnas Indonesia . Ia sangat kagum dan heran apa yang ditunjukkan kesebelasan Indonesia yang dianggapnya sudah memiliki tingkat permainan kelas dunia. Juga mereka melihat “handicap” yang ada soal tinggi dan lebih ringkihnya badan pemain-pemain Indonesia, ternyata dapat dikompensasikan dengan “gorengan bola” (dribble) yang sangat lincah dan operan tik-tak cepat yang sangat teliti terutama pada diri Soetjipto Soentoro dan Max Timisela.


Pelatih Brocker selanjutnya memuji pemain-pemain Indonesia yang dari segi teknis “perfect”, sangat pandai menguasai bola dan gesit. Selama main dalam kompetisi “seizum” 1965, Werder Bremen tak pernah kebobolan gol sebanyak lima . Padahal dalam melawan Indonesia , pelatih Brocker telah mengajukan pasangan yang terkuat, banyak di antaranya adalah pemain-pemain tim nasional Jerman Barat. Oleh karena itu, Brocker memuji sistem permainan Indonesia yang sering memberikan “long passing” dari sayap ke sayap yang lain. Menurut pelatih Werder ini pertandingan berlangsung dengan mutu tinggi, berjalan cepat dan sama sekali tidak menjemukan. Semua gol yang dicetak, baik oleh Werder Bremen maupun timnas Indonesia adalah “gol-gol ideal” yang tidak dapat dilihat setiap hari. Wasit Herr Redelfs yang juga diwawancarai para wartawan mengatakan, bahwa pertandingan telah berlangsung dengan fair. Ia mengatakan, bahwa Indonesia merupakan kesebelasan terkuat di Asia . “Saya yakin setiap klub sepakbola Jerman Barat akan bersedia menerima pemain-pemain seperti Soetjipto Soentoro dan Max Timisela, yang sangat berkualitas”. Kedua pemain Indonesia ini memang paling banyak mendapat tepuk tangan riuh setiap kali ia “menggoreng bola” dan “menipu” dua atau bahkan tiga pemain belakang Werder Bremen yang tinggi besar itu. Beberapa pemain belakang Werder Bremen bahkan saling meneriaki ke sesama temannya “Pele”, “Pele”, “Pele” yang dimaksudkannya mengingatkan temannya agar menjaga ekstra keras Soetjipto Soentoro, yang mencetak tiga gol dalam pertandingan tersebut.


Maka adalah sangat membanggakan, ketika Indonesia berhasil menduduki posisi elite sepakbola Asia bersama Israel (ketika itu masih masuk zona Asia, belum masuk ke zona Eropa seperti sekarang), Burma ( Myanmar sekarang) dan Iran. Kesebelasan Jepang dan Korea Selatan yang sekarang menjadi pelanggan Piala Dunia, ketika itu biasa dipermak rata-rata 4-0 oleh Indonesia . Taiwan bahkan pernah dihancurkan oleh Soetjipto Soentoro dkk dengan skor 11-1 di Merdeka Games 1968. Jangan ceritera soal Thailand , Malaysia dan Singapura, mereka nggak level dengan Indonesia . Sedangkan jazirah Arab bahkan ”belum bisa bermain sepakbola” karena federasi sepakbola pun mereka memang belum punya (negara-negara Arab berkembang pesat sepakbolanya dengan merekrut pelatih kelas dunia asal Brazil ketika mereka mendapat anugerah kekayaan minyak bumi dan gas mulai pertengahan tahun 1970-an). Bayangkan. Tim Asian All Stars 1966-1970 itu 4 pemainnya berasal dari Indonesia yakni Soetjipto Soentoro (sekaligus bertindak sebagai kapten), Jacob Sihasale, Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Bahkan kalau AFC (Asian Football Confederation) yang berkantor di Kuala Lumpur nggak malu hati sama negara-negara lain, Basri (gelandang elegan), Anwar Ujang (stopper paling sulit dilewati lawan) dan Yudo Hadiyanto (penjaga gawang “paling kebal” di Asia versi koran “Utusan Malaysia” dan “Bangkok Post”) pun sebenarnya mau ditarik juga untuk mengisi skuad bintang-bintang Asia tersebut.



Berbasis Kompetisi Profesional

Dengan tradisi kuat memenangi berbagai turnamen di Asia dan dengan memiliki pemain berbakat luar biasa banyak yang tersebar di seluruh Indonesia. Maka Ali Sadikin ingin menguatkan pilar-pilar itu ke dalam sebuah kompetisi yang profesional yang disebut kompetisi Liga Sepakbola Utama atau yang lebih dikenal sebagai Galatama pada tahun 1979. Nama Galatama dengan demikian membedakan dengan kompetisi amatir yang berbasis nama kota atau yang lebih dikenal sebagai Perserikatan. Ali Sadikin yakin sepakbola Indonesia hanya bisa maju menuju ke level dunia bila sepakbola dikembangkan berbasis kompetisi profesional. Tak akan terdengar lagi mantan pemain nasional Indonesia menjadi pengangguran karena kompetisi akan memberikan hajat hidup bukan hanya kepada para pemain, pelatih dan wasit tetapi lebih banyak lagi orang terlibat di dalamnya karena kompetisi sepakbola adalah suatu industri besar.


Klub sepakbola pun didirikan oleh para pengusaha gila bola seperti Benny Mulyono, pengusaha cat bermerek “Warna Agung” dengan membuat klub berwarna Warna Agung pula; pengusaha Ciputra memprofesionalkan klub Jayakarta yang semula anggota Persija; Sjarnubi Said memprofesionalkan klub yang sebelumnya disponsori Pertamina, Indonesia Muda; TD Pardede meneruskan klub profesional pertama di Indonesia yang dirintisnya, Pardedetex di Medan; Probosutedjo membentuk klub Mercu Buana FC, Medan yang diambil dari nama grup perusahaannya; Sigit Haryoyudanto mendirikan klub Arseto di Solo; seorang pengusaha Surabaya pemilik dunia entertainment mendirikan klub Niac Mitra; pengusaha mantan Pangdam Cendrawasih dan Gubernur Irian Barat, Acub Zainal membentuk Arema di Malang; pengusaha koran Cahaya Kita membentuk klub Cahaya Kita di Jakarta; perusahaan perkebunan di Lampung mendirikan klub Yanita Utama dsb.


Kompetisi profesional Galatama adalah kompetisi sepakbola kedua di Asia setelah Hong Kong, memiliki daya tarik tersendiri bagi pemain asing sekelas Fandi Ahmad dan David Lee (Singapura) yang memperkuat Niac Mitra, Surabaya dan Jairo Matos ( Brazil ) yang memperkuat Pardedetex, Medan . Dan atmosfir pertandingan juga sangat mendukung. Kalau klub Warna Agung, Indonesia Muda dan Jayakarta bertanding melawan Niac Mitra atau Pardedetex, maka stadion Senayan dengan kapasitas 110.000 pun penuh sesak. Klub Warna Agung yang dikapteni Ronny Pattinasarani menjadi klub pertama yang menjuarai Galatama musim pertama. Tak mengherankan, jauh sebelum didirikan J-League pada tahun 1992, tim persiapan kompetisi liga sepakbola Jepang pun belajar dari Galatama Indonesia . Begitu pula tim nasional Jepang selalu mengadakan sasaran uji coba ke Indonesia , yang di mata mereka sudah lebih maju kualitas tim sepakbolanya.


Namun dalam perkembangan kemudian, setelah Ali Sadikin “dilengserkan” Presiden Soeharto, kompetisi PSSI pun ikut-ikutan melorot. Suap merajalela merasuki pemain, wasit dan juga pengurus. Judi sepakbola mulai dari judi buntut, toto resmi SDSB Departemen Sosial RI dan tentunya judi liar beromzet miliaran rupiah menambah runyamnya nasib sepakbola Indonesia . Konon mafia judi sepakbola ini berporos Semarang -Jakarta- Kuala Lumpur-Hong Kong-Makao. Maka Galatama pun hancur lebur. Bahkan tim Perserikatan Persib, Bandung yang sedang berjaya dengan pemain-pemain top seperti Ajat Sudrajat, Robby Darwis, Yusuf Bachtiar, Sukowiyono, Iwan Sunarya, Wawan Karnawan, Kosasih dkk sering menghancurkan tim-tim Galatama dengan skor telak.


Nah mengapa J-League sekarang jauh lebih bersinar dibanding Indonesia Super League? Karena organisasi sepakbola Jepang memiliki pengorganisasian yang bagus; manajemen kompetisi yang terjadwal dengan baik yang ujungnya mengacu kepada kompetisi tingkat klub Asia dan dunia dan tentunya persiapan tim nasional di kompetisi resmi FIFA; dunia industri sangat mendukung kompetisi level tertinggi di Asia ini sehingga para pemain dan pelatih kelas dunia mau berkarier di sini; para suporter mereka sudah sangat dewasa dan sportif, tidak bertindak anarkis dan rasis. Pokoknya semua stake holder kompetisi J-League sangat berperilaku profesional dan sangat kondusif bagi tumbuh kembangnya kompetisi yang berlevel tinggi. Tak mengherankan bila kompetisi yang bagus bermuara ke timnas Jepang yang bagus pula. Timnas Jepang sekarang sudah sangat jauh melebihi timnas Indonesia .


Kemenangan terakhir timnas Indonesia atas Jepang adalah pada tahun 1981 ketika dalam ujicoba di stadion Senayan, Jakarta, tim Olimpiade Jepang kalah 0-4 dari timnas Indonesia yang dikapteni Ronny Pattinasarani. Setelah itu sampai sekarang Indonesia tak pernah menang lagi kalau lawan kesebelasan nasional Jepang. Bahkan melawan anak bawang Laos pun, di SEA Games 2009 lalu timnas Indonesia kalah 0-2, sekaligus menjadi juru kunci grup. Banyak pemain Indonesia yang kalah sebelum bertanding kalau mendengar nama-nama pemain timnas Jepang seperti Hasebe, Endo, Honda, Nakamura, Nakazawa, Tulio, Matsui dkk. Jepang jadi pelanggan tiket wakil Asia bersama Korea Selatan dari tiga tiket wakil Asia ke Piala Dunia, sedangkan timnas Indonesia menjadi pecundang paling awal; masuk kotak.


Super Big Business

Kompetisi sepakbola Indonesia sih namanya paling keren yakni ISL alias Indonesia Super League. Nama internasional tetapi mutu lokal. Manajemen sangat buruk pada PSSI, menjadi biang keladi kegagalan timnas Indonesia bangkit dari keterpurukan yang demikian panjang. Bertahun-tahun dalam dua periode kepengurusannya, Nurdin Halid lebih sibuk mengurus dirinya sendiri dari pada mengurus manajemen organisasi PSSI.
Dia lebih banyak menggalang kekuatan para pendukungnya agar tak diadakan Kongres Luar Biasa PSSI yang bisa membawa kepada pemakzulan dirinya dan dipecat FIFA. Padahal potensi penonton sepakbola Indonesia adalah sangat luar biasa, terbanyak di Asia setelah Cina. Stadion Jalak Harupat Bandung sudah biasa disesaki 50.000 penonton kalau Persib main. Begitu pula stadion di Gajayana dan atau stadion Kanjuruhan di Malang kalau Arema Malang main akan disesaki 40.000 penonton. Dan kalau saja pertandingan Persija lawan Persib dibolehkan dilangsungkan di stadion Senayan seperti pertandingan kandang Persija vs Persib pada ISL musim lalu, maka 90.000 penonton pendukung Persija (karena bobotoh Persib dilarang nonton untuk menghindari bentrok antar penonton) pasti akan menonton “super big match” ini.


Jadwal kompetisi amburadul. Padahal pengurus PSSI melalui liga ISL telah menggembar-gemborkan; “hanya gempa bumi dan tsunami yang akan bisa mengubah jadwal kompetisi”. Akibatnya kondisi fisik dan mental pemain menjadi hancur sehingga rawan cedera dan mudah keluar emosi. Akibatnya mudah menyulut terjadinya tawuran sesama pemain bahkan pemain memukul wasit. Ini juga antara lain karena integritas wasit pun belum bisa dipercaya. Komplit sudah bila ditambah penonton mengamuk dan membakar dan merusak apa saja yang ada di depan mata, di stadion bahkan sampai ke luar stadion.


Kemudian konsep dibolehkannya 5 pemain asing main dalam satu pertandingan ISL, telah mengawali penghambatan potensi maju pemain lokal. Karena terlalu sering duduk di bangku cadangan, para pemain lokal bahkan yang sudah berstatus pemain nasional sekalipun menjadi tidak berkembang kemampuannya. Yang rugi ujung-ujungnya tim nasional juga. Ditambah jadwal kompetisi molor berakibat setiap persiapan pelatnas timnas selalu terkendala. Kalau tidak lengkap semua pemain terkumpul; kendala yang lain adalah kondisi fisik dan mental pemain sudah kelelahan dan jenuh karena jadwal kompetisi yang amburadul tadi. Tak mengherankan bila hal ini sudah menjadi kebiasaan ketika kompetisi berakhir, pemain-pemain tidak siap mengikuti kompetisi level Asia . Juara kompetisi Indonesia sudah langganan menjadi bulan-bulanan gol lawan yang telah memiliki kompetisi teratur untuk persiapan ke Liga Champions Asia. Jatah 2 tim Indonesia ke Liga Champions Asia menjadi berkurang tinggal 1 saja. Dan bila tak ada kesungguhan untuk memperbaiki manajemen kompetisi ISL, jangan-jangan jatah Indonesia untuk Champions Asia pun tak ada lagi.


Karena jadwal kompetisi yang amduradul ini pula. Maka belanja klub lebih hancur-hancuran lagi. Karena dengan mengembangnya waktu, maka belanja menjadi tambah tidak terkendali. Padahal sebagian besar klub hanya mengandalkan biaya APBD. Kalau rata-rata setiap klub dari 18 klub ISL yang ada membelanjakan masing-masing Rp 15 miliar per musim kompetisi saja. Maka ada sedikitnya perputaran uang Rp. 270 miliar. Padahal klub besar seperti Persija Jakarta yang masih mengandalkan sepenuhnya dana APBD lebih dari Rp. 30 miliar. Tetapi hasilnya? Persija tetap gagal menjuarai ISL.
Perputaran uang di sepakbola Indonesia ini akan semakin menggila bila pihak Kementrian Dalam Negeri RI tidak segera menyetop penggunaan dana APBD untuk kepentingan klub sepakbola peserta ISL dan Divisi Utama dan Divisi Dua PSSI pada 2012. Penggunaan dana APBD itu jelas telah melanggar aturan hibah, yang tak boleh terus-terusan, dari tahun ke tahun diberikan kepada klub sepakbola. Kalangan anti korupsi menengarai dana tersebut hanya menjadi amunisi para Bupati incumbent untuk melakukan “low politic” ecek-ecek dalam mempertahankan kekuasaan dengan aktif menjadi pengurus klub sepakbola. Sepakbola hanya dijadikan “Public Relations” mereka.


Hanya Persib Bandung dan Arema Malang yang sudah menjadi klub profesional, yang sama sekali tidak dibiayai lagi oleh dana APBD. Pemerintah harus segera menyetop aliran dana untuk PSSI dan mengalihkannya untuk membangun infrastruktur sepakbola di daerah-daerah dan pembinaan kompetisi usia dini. Keuangan PSSI dikontrol habis, karena selama kepengurusan Nurdin Halid dana yang diserap oleh PSSI luar biasa banyak tanpa diimbangi transparansi pengelolaan keuangannya. Dari pabrik rokok Djarum sponsor utama ISL saja sedikitnya Rp. 50 miliar. Ditambah lagi sumbangan tetap FIFA untuk PSSI sebesar US$ 1 juta/tahun yang konon tak berbekas bagi pembinaan kompetisi usia dini dan pembangunan infrastruktur. Belum ditambah lagi penjualan hak siar televisi ke Anteve untuk 150 siaran langsung dan tunda liga ISL sebesar Rp. 30 miliar yang sekaligus dibayar di muka. Plus dana denda pemain dan panitia setempat yang melakukan pelanggaran pada pertandingan. Plus hasil jualan iklan outdoor di sekitar stadion Senayan dan stadion-stadion di seluruh Indonesia yang tak ketahuan berapa jumlahnya. Plus transfer fee yang diperoleh dari jual beli pemain terutama pemain asing. Plus hasil penjualan tiket kepada penonton. Plus perolehan bila ada pertandingan internasional resmi agenda FIFA maupun bukan resmi. Plus donasi pribadi-pribadi gila bola yang juga gelap gulita berapa jumlahnya. Plus bila belanja pada kompetisi Divisi Utama PSSI, Divisi Satu PSSI dan Divisi Dua PSSI ditambahkan ke dalam perputaran uang disini. Plus dan plus bila kejuaraan yang berbeda yakni Piala Indonesia yang diikuti oleh klub ISL dan Divisi Utama juga turut dijumlahkan dalam perputaran uang ini. Maka perputaran uang sepakbola Indonesia bisa melampaui angka Rp. 1 triliun !!!


Karena sepakbola Indonesia adalah sudah merupakan persoalan manajemen. Maka untuk memecahkannya pun adalah melalui pendekatan manajemen. Nah para ahli manajemen tinggal melihat dan mengelolanya dari hal-hal yang tangible dan intangible pada peta profil sepakbola Indonesia ini. Jangan sampai terulang kembali manajemen sepakbola Indonesia adalah mismanajemen.



www.cardiyanhis.blogspot
Http://id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6




KEPUSTAKAAN:

Cardiyan HIS, PSSI Tempo Doeloe Hebring, Penerbit PT. Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta , 1988.
Cardiyan HIS, Si Gareng Menggoreng Bola: Sebuah Biografi Soetjipto Soentoro, Penerbit PT. Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta , 1988.
Cardiyan HIS dan Muhamad Kusnaeni, Intinya Pemain Inti untuk PSSI: Sebuah Biografi Ajat Sudrajat dan Ricky Jacobi, Penerbit PT. Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta , 1988.
Conny Semiawan et al., Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Mengengah, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta, 1984.

Read more...

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP