Showing posts with label Alumni ITB. Show all posts
Showing posts with label Alumni ITB. Show all posts

Menghidupkan Kembali Budaya Relaks pada Manusia (ITB) Indonesia

>> Sunday, March 13, 2011

Oleh Cardiyan HIS


Lomba band antar angkatan alumni ITB dan pesta seni lainnya adalah contoh bagaimana merelakskan Manusia (ITB) Indonesia. Budaya relaks perlu dihidupkan kembali setelah kita bekerja keras, berpikir keras, berjuang dalam kesabaran untuk mayoritas rakyat Indonesia yang justru malah semakin terpuruk dan terpinggirkan di pasca Reformasi ini.


Anak ITB “maen ben” euy! Sungguh menghebohkan. Karena diformat dalam bentuk “Lomba Band antar Angkatan Alumni ITB”. Dan hebatnya para pemusik kelas nasional bahkan internasional seperti Purwacaraka (TI 1979), Doni Suhendra, Hari Sungkari (gitaris), Fuad Zakaria (drummer, GD 1973), penyanyi Agnes Sitompul (MA1979) ikut dalam lomba dan tentunya tampil sangat memukau. Sungguh saya sangat menyesal tak menyaksikan teman-teman alumni unjuk kemampuan, karena pada hari Jum’at, 11 Maret 2011 yang sama, saya sendiri harus dengar pendapat di depan para anggota DPRD Katingan, Kalimantan Tengah, tentang pembangunan proyek PLTU Mulut Tambang 62 MW.

Dan kehebohan berlanjut khas anak ITB yakni pasca penentuan pemenang. Yang difavoritkan juara Alumni ITB Angkatan 1983 (juara 2) tetapi yang akhirnya juara Alumni ITB Angkatan 1984. Karena ada banyak kritik tentang penilaian juri, sang Dewan Juri melalui Amrie Noor (AR 1977) cukup sewot juga atas insinuasi salah seorang alumnus wanita ITB yang band angkatannya kalah. Sabar-sabar.

Ide dasar dan atau esensi lomba band antar angkatan alumni ITB adalah lebih ditekankan kepada partisipasi untuk menjalin keakraban antar alumni ITB ketimbang suatu komba dalam arti sebenarnya. Bahwa Alumni ITB Angkatan 1984 yang menjuarai ya Alhamdulillah, anggap saja sebagai bonus (seperangkat alat band lengkap lho!). Atau dalam kata-kata Eko Tjahjo P., Direktur Eksekutif Ikatan Alumni ITB, pemenangnya adalah semua partisipan, baik itu kontestan, panitia maupun dewan juri. Bukan basa-basi. Karena di tengah kesibukan sehari-hari, mereka masih bisa menyempatkan untuk mempersiapkan diri ini semua. Sehingga penyelenggaraan lomba menjadi sukses.

Saya sangat senang, alumni ITB menikmati relaks di pasca Jum’atan. Mengapa? Karena mayoritas dari mereka selama ini terlalu larut dalam kesibukan bahkan dalam suasana di bawah tekanan. Mereka terus terjebak dalam suasana rutinitas yang sangat menjemukan. Bahkan manakala mereka menikmati suasana rekreasi pun masih berpikir tentang sesuatu yang lebih serius. “Saya memang sering diundang untuk main tenis, yang meskipun penting juga tetapi harapan saya tentu lebih dari sekedar main tenis, yang sifatnya lebih untuk tujuan rekreatif”, ungkap Sarwono Kusumaatmadja (Sipil ITB 1964), mantan Menteri di kabinet rejim Soeharto dan Gus Dur, kepada penulis beberapa waktu silam. Sementara Rachmat Witoelar (Arsitektur ITB, 1964), mantan Menteri KLH di Kabinet Indonesia Bersatu I, menganggap undangan-undangan yang sifatnya rekreatif memang perlu. “Justru untuk merelakskan ketegangan alumni ITB dari kesibukan sehari-hari yang sering kali berada di bawah tekanan”.

Istilah Budaya Relaks pertama kali dipopulerkan oleh DR. Soedjoko, dari Seni Rupa ITB pada tahun 1974 adalah suatu budaya positif yakni relaks setelah melakukan kerja keras dan kerja otak sepanjang hari. Soedjoko menarik garis pengamatannya kepada budaya kerja keras pada manusia di negara-negara maju yang mengakhirinya di ruang-ruang relaks yang berkesenian dan panggung dinamis sportifitas olahraga. Intinya adalah adanya keseimbangan jiwa, adanya keseimbangan penggunaan otak kiri dan otak kanan, yang ujung-ujungnya akan menghasilkan produktifitas tinggi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah relaks nonton anak ITB “maen baen” dan sebagian pentonton dapat pula kaos “anak ben ITB 1976” sejak sore Jum’at; setelah relaks bersama keluarga di hari Sabtu dan Minggu yang panjang. Maka di hari Senin, kita mulai kerja kembali. “I like Monday”.

www.cardiyanhis.blogspot.com
http://id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6

Read more...

ITB, UI, UGM dan IPB Melawan PT Thailand dan Malaysia.

>> Thursday, September 3, 2009

Oleh Cardiyan HIS


Kalah dalam kuantiti publikasi di jurnal tetapi menang dalam kualiti publikasi. Tanya kenapa? Karena ITB yang merupakan representasi terbaik Indonesia dalam hal publikasi di jurnal internasional lebih menekankan kepada substansi, kandungan dan orisinalitas paper yang dimuat di jurnal paling kredibel di dunia. Sehingga ITB menang dalam jumlah artikel dirujuk (Times Cited). Sedangkan Malaysia dan Thailand sudah pinter merekayasa strategi secara sistimatis sejak paper-paper yang dimuat di jurnal-jurnal nasional mereka diupayakan bisa masuk index ISI Knowledge dan Scopus; memperbanyak seminar dan konferensi internasional di negerinya agar dibuat proceedings yang bisa dicatat ISI Knowledge dan Scopus; dosen-dosen dirangsang bonus besar yang penting agar papernya banyak muncul dulu dan dicatat ISI dan Scopus, meski dimuat di jurnal internasional kelas dua dengan sedikit saja Times Cited .



Strategi persaingan antar perguruan tinggi (selanjutnya disingkat PT) di dunia internasional menarik untuk dikaji. Khususnya pada salah satu indikator utama kualitas PT yakni publikasi paper para dosen penelitinya yang dimuat di jurnal internasional. Berbagai upaya “public relations” yang menarik terus diupayakan oleh PT-PT di Asean khususnya PT Thailand dan Malaysia, begitu sistematis. PT-PT Singapura tidak dibahas disini karena dari segi dana riset yang diberikan oleh Pemerintah ke National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) misalnya sudah setara dengan dana riset universitas papan atas di dunia seperti MIT, Harvard University. Selain itu, NUS dan NTU diuntungkan oleh jumlah publikasi dosen-dosen terbaik yang direkrut dari berbagai belahan dunia sehingga mengkatrol Citations Index mereka. Di sinilah PT-PT Indonesia harus mengaku kalah dalam strategi pencitraan yang dilakukan secara sistematis oleh PT-PT Thailand dan Malaysia. PT-PT Indonesia yang diwakili ITB, UI, UGM dan IPB hanya masih menang dibanding PT-PT di Filipina dan Vietnam.


Politik pencitraan bagi PT-PT Thailand dan Malaysia sangat disadari akan membuat PT-PT mereka bisa survive bahkan diharapkan menjadi kiblat PT minimal di kawasan regional Asean. Dan ini berarti akan menjadi kiblat pula dengan berdatangannya mahasiswa asing untuk menuntut ilmu. Juga kalangan industri akan melirik hasil riset PT. Jadi ujung-ujungnya berarti bisnis besar di bidang pendidikan tinggi, seperti yang telah berhasil diperankan dengan baik oleh PT-PT di Australia dan Singapura.


ITB sebagai representasi terbaik Indonesia dalam hal jumlah dan kualitas publikasi di jurnal internasional dibanding UI, UGM, LIPI dan IPB. Ternyata ITB masih kalah jauh dalam jumlah judul publikasi dibanding PT-PT papan atas di Thailand (seperti Mahidol University, Chulalongkorn University, Thamasat University) dan PT-PT papan atas Malaysia (seperti University of Malaya, Universiti Sains Malaysia, Universiti Putera Malaysia, Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Teknologi Malaysia).
Tanya kenapa? Dosen-dosen peneliti ITB memang unggul dalam hal substansi, kandungan dan orisinalitas paper sehingga banyak dimuat di jurnal-jurnal papan atas (first tier) di dunia dibanding paper-paper PT-PT asal Thailand dan Malaysia yang mayoritas hanya dimuat di jurnal-jurnal internasional second tier. Ini menyebabkan dampaknya sangat signifikan terhadap jumlah paper dirujuk (Times Cited) milik dosen-dosen peneliti ITB yang dirujuk oleh banyak dosen peneliti kelas dunia pula, dibanding Times Cited seluruh dosen peneliti PT-PT di Thailand dan Malaysia bahkan PT-PT Singapura untuk disiplin ilmu tertentu seperti Natural Sciences.


Paper Prof.DR.Ir. Sri Widiyantoro (ITB) berjudul “The Evidence for deep mantle circulation from Global tomography” yang dimuat di jurnal sangat bergengsi di dunia “Nature” volume 386, Tahun 1997, misalnya telah dirujuk 576 kali!!! Sri Widiyantoro telah menulis 18 paper yang dimuat di jurnal-jurnal papan atas, selain Nature juga antara lain dimuat di jurnal sangat kredibel di dunia yakni “Science”, “Review of Geophysics”, “Journal of Geophysical Research-Solid Earth”, “Earth and Planetary Science Letters”. Total Times Cited (jumlah paper dirujuk) Sri Widiyantoro versi Scopus adalah 1.472 sedangkan versi ISI Web of Knowledge adalah 1.240, merupakan yang tertinggi di Asean. ITB juga masih memiliki dosen-dosen peneliti papan atas pada bidangnya di dunia yang jumlah Times Cited-nya ratusan seperti Benjamin Soenarko, Halim M, Noer AS, Soemarsono, Hidayat R, Wilson W. Wenas, Hakim EH, Wiramihardja SD, Ariando, Firman T, Gusnidar T, Pancoro A, Onggo D, Linaya C, Arif I, Herman, Suwono A, Hidayat T, Akhmaloka, Priadi B, Cahyati, Wenten IG, Hadi S, Adisasmito S, Wurjanto A, Herdianita NR, Rusdi A, Widjaja J, Hasanuddin ZA, Retnoningrum DS, Baskoro ET, Sutjahja IM, Iskandar DT, Dahono P, Arismunandar dan banyak lagi.


Untuk melihat fenomena ITB yang kalah di jumlah paper dibanding PT-PT Thailand dan Malaysia, tetapi ITB menang di jumlah paper dirujuk atau Times Cited. Maka ada bagusnya membaca H-Index seperti yang diusulkan oleh Jorge E. Hirsch. Hirsch menegaskan bahwa total jumlah paper tidak memperhitungkan kualitas publikasi ilmiah. Sedangkan jumlah citations (Times Cited) paper akan menunjukkan indikasi atas kualitas paper tersebut karena dimuat di publikasi ilmiah yang sangat kredibel dan menjadi rujukan banyak para peneliti di dunia. Juga bisa dibaca untuk tema serupa pada teori-teori John P. Perdew, yang telah sangat berhasil dalam devising baru perkiraan yang banyak digunakan dalam Teori Kerapatan Fungsional. Dia telah menerbitkan karya-karyanya dimana 3 karya dikutip lebih dari 5.000 kali dan 2 dikutip lebih dari 4.000 kali. Beberapa ribu makalah memanfaatkan Teori Kerapatan Fungsional yang diterbitkan setiap tahun, kebanyakan dari mereka mengambil sekurang-kurangnya satu paper karya JP Perdew. Dapat dibaca H-index Me pada www. scienceblogs.com/pontiff September 15, 2005 on 9:37 pm I In Science I.


Namun terus terang, penulis ingin mengkritik ITB terlalu “polos”, terlalu “PD” (percaya diri) dengan keunggulan substansi, kandungan dan orisinalitas karya penelitian yang ditulis dosen-dosennya dalam paper-paper di jurnal internasional papan atas di dunia. Tetapi ITB kalah telak dalam aspek strategi pencitraan dan strategi perekayasaan secara sistematis dibanding PT-PT di Thailand dan Malaysia. PT-PT Thailand dan Malaysia sangat pintar dan gesit dalam memobilisasi gerakan pencitraan jurnal-jurnal nasional milik mereka agar yang terpenting semua paper yang dimuatnya masuk terlebih dulu pada Index ISI Knowledge dan Scopus, disamping Google Sholar (lembaga independen yang mengumpulkan berbagai karya dari jurnal ilmiah ternama dan terpilih di dunia). Dosen-dosen senior mereka membimbing langsung dosen-dosen yunior dan mahasiswa program pasca sarjana agar berusaha menulis paper dengan target yang penting agar dimuat terlebih dulu di jurnal lokal agar paper tersebut berhasil Indexed oleh ISI Knowledge dan Scopus. PT-PT mereka merangsang bonus tinggi kepada dosen-dosen peneliti yang papernya berhasil dimuat di jurnal internasional meskipun di jurnal internasional kelas dua, sehingga tak apa-apa untuk tahap-tahap awal paper-paper mereka akan kurang dalam hal Times Cited. Mereka juga memperbanyak event kegiatan seminar dan konferensi ilmiah internasional sehingga hasilnya dibukukan dalam bentuk proceedings yang kemudian Indexed di Scopus dan ISI Knowledge.


PT-PT di Indonesia boleh saja belajar dengan strategi yang dilakukan oleh PT-PT Thailand dan Malaysia yakni dengan mewajibkan mahasiswa Pasca Sarjana S-2 dan terlebih-lebih S-3 untuk menulis thesis dalam bahasa Inggris yang novelty yang kemudian dijadikan paper untuk dikirim dan diseleksi untuk pemuatan di jurnal nasional dan kemudian di jurnal internasional. Program ini kalau konsisten dilakukan akan membuat produktifitas paper yang dihasilkan PT-PT di Indonesia akan melonjak tajam. Tetapi tetap politik pencitraan ini tidak melupakan akar pokoknya yakni paper yang substansial, kaya kandungannya dan orisinal. Selamat meneliti dan menuliskannya ke dalam jurnal-jurnal kredibel di dunia.

Read more...

ITB dan UGM Tetap Nomor 1 di SNMPTN 2009

>> Thursday, July 30, 2009

Oleh Cardiyan HIS



ITB dan UGM tetap memegang rekor pencapaian Nilai Rata-rata Tertinggi untuk kelompok IPA dan IPS pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2009. ITB bahkan rekornya untuk kelompok IPA belum pernah tumbang sejak tahun 1989 ketika masih bernama UMPTN.


Jumlah peserta SNMPTN 2009 yang diikuti 57 PTN, naik 9,04% dibanding tahun lalu yakni 422.534 orang. “Dari jumlah tersebut, peserta yang mengembalikan formulir 412.534 orang dan peserta yang mengikuti ujian sebanyak 359.751 orang,” kata Ketua Umum Panitia SNMPTN 2009, Haris Supratno, kepada para wartawan.
Meski hasil SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2009 akan diumumkan serentak pada 1 Agustus 2009 jam 00.00. Namun Nilai Rata-rata Tertinggi calon mahasiswa yang diterima di kelompok IPA dan IPS telah diumumkan oleh Ketua Umum Panitia Ketua Umum Panitia SNMPTN 2009.


Inilah hasil Nilai Rata-rata Tertinggi 5 Besar PTN sbb:


Kelompok IPA

1. ITB, Bandung (92,54)
2. UGM, Yogyakarta (88,88)
3. UI, Depok (87,11)
4. ITS, Surabaya (83,55)
5. Unair, Surabaya ( 83,89)


Kelompok IPS

1. UGM, Yogyakarta (88,42)
2. UI, Depok (85,97)
3. Unair, Surabaya (83,89)
4. UNS, Solo (79,89)
5. Unbraw, Malang (78,35)


Bagi ITB ini merupakan rekor yang belum terpecahkan oleh PTN manapun untuk pencapaian nilai Kelompok IPA sejak tahun 1989 ketika masih bernama Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) kemudian berganti-ganti nama -----antara lain terakhir SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) sejak 2002, sebelum berganti nama SNMPTN sejak tahun 2008 hingga SNMPTN 2009 sekarang ini. Sedangkan bagi UGM, ini pencapaian tiga tahun berturut-turut Nilai Rata-rata Tertinggi untuk kelompok IPS. Biasanya UGM saling bergantian bersaing dengan UI untuk menjadi nomor 1 di kelompok IPS ini.


Selamat datang di kampus yang kamu cita-citakan. Selamat bergabung di “Klub Kampus yang dicita-citakan”. Tapi ingat-ingat pesan Mama; “Kalau sudah pintar, jangan sekali-kali terpikir menjadi JOKI di SNMPTN 2010 mendatang, yaahh!”.

Read more...

Selamat Datang Nilai AB, BC Dosen ITB

Oleh Cardiyan HIS



Apakah Dosen ITB yang Bijak ataukah Dosen ITB yang Kejam akan coba disiasati ITB dengan sistem penilaian ini. Satu-satunya siasat mahasiswa adalah belajar lebih keras lagi. Maklum standar nilai masih ditetapkan oleh dosen ITB sendiri secara personal.



Ada yang sangat menarik dari acara “Penyegaran Dosen ITB 2008” pada 29 Agustus 2008. Apa yang disampaikan oleh Prof. Ir. Adang Surahman, Ph.D, Wakil Rektor Senior Bidang Akademik ITB pada acara tersebut adalah pengakuan fakta yang sangat ironis seperti yang ramai diungkapkan pada mailist IA ITB baru-baru ini dengan tajuk “ITB yang Bijak ataukah ITB yang Kejam”.


Statistik Seleksi Masuk Mahasiswa Baru secara Nasional sejak 1977 sampai 2008, selalu menempatkan ITB sebagai PTN di Indonesia dengan standar Nilai Masuk (passing grade) paling tinggi; Nilai Rataan tertinggi dan Nilai Maksimal tertinggi (bahkan bila ditelusuri lagi mahasiswa baru ITB adalah pemilik Nilai Rataan tertinggi Nilai Ebtanas Murni/NEM Sekolah Menengah Umum; nilai maksimal NEM SMU). Mahasiswa baru yang diterima di ITB adalah 80% berada pada ranking 1-2500 dan 20% berada pada ranking 2501-12.500, dari rata-rata 250.000 peserta seleksi masuk mahasiswa secara nasional bidang IPA.


Pokoknya mahasiswa yang masuk ITB itu hebring-lah. Namun pada kenyataannya (antara lain pengalaman dan pengamatan Betti Alisyahbana ketika masih menjadi Presiden IBM Indonesia), di dunia kerja, seringkali lulusan ITB bahkan tidak masuk hitungan dalam seleksi administratif karena tersandung permasalahan Indeks Prestasi (IP) yang kecil, jika dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri atau swasta lainnya. Jadi hanya sedikit saja pelamar alumni ITB yang masuk short list para recruiter. Hal ini tentu sangat merugikan lulusan ITB khususnya yang mau meniti karier di dunia PNS atau juga pegawai swasta nasional.


Prof. Adang Surahman sendiri mengakui berdasar berbagai kuesioner dan penelitian yang dilakukan Wakil Rektor Bidang Akademis ITB sangatlah sulit untuk mendapatkan nilai A pada sebuah dan apalagi pada banyak matakuliah di ITB. (Saya secara acak sudah “mensurvey” pada Program Studi di ITB bahwa untuk mendapatkan Nilai Huruf A itu mahasiswa harus mendapatkan Nilai Angka ujiannya 95-100). Wakil Rektor Senior Bidang Akademik mendapatkan sebuah fakta bahwa kebanyakan nilai mahasiswa ITB kurang ditentukan oleh kualitas dosen atau proses pembelajaran mahasiswa, tetapi oleh standar yang ditetapkan oleh dosen sendiri yang sangat personal. Disinilah terkuak betapa ITB sendiri tak berdaya atas “kekuasaan” masing-masing dosen ITB. Karena itu sudah menyangkut otoritas dosen ITB masing-masing, maka Rektor ITB sekalipun sebagai “bos” dosen-dosen seluruh ITB, tak bisa “intervensi” agar dosen-dosen mengubah kebijakan penilaian terhadap berkas para mahasiswanya menjadi “lebih bijaksana”.


Maka berdasarkan “keukeuhnya” (ngotot) para personal dosen ITB yang hendaknya tetap dihargai, mulai kurikulum baru 2008 ini, pihak ITB “mensiasatinya” dengan menerapkan sebuah sistem penilaian yang baru. Yaitu selain ada nilai A (4), B (3), C (2), D (1), dan E (0, tak lulus), akan ada nilai AB, dan BC. Dengan adanya nilai antara tersebut, diharapkan dosen dapat “lebih bijak” dalam memberikan penilaian. Sehingga menurut Prof. Adang, nilai-nilai mahasiswa yang "menyerempet", dalam hal ini contohnya "B gemuk", dapat dikelompokkan menjadi AB. Bagaimana dengan perhitungan IP? Tidak ada masalah signifikan, mengingat nilai AB adalah setara dengan 3.5, dan BC setara 2.5. Sistem penilaian baru ini akan mulai diterapkan di semester ini, dan berlaku bagi seluruh mahasiswa seluruh angkatan di ITB.
Nah, karena akan mulai diterapkan segera di semester ini, maka mahasiswa ITB hendaknya menyambutnya dengan sedikit gembira. Jahkan dari prasangka dosen ITB itu “kejam” bin ”killer” dsb. Belajar itu harus penuh dengan kegembiraan. Bangga diterima di ITB itu harus diimbangi dengan belajar lebih keras tetapi dalam suasana gembira, jauh dari suasana yang terbebani.


Oleh karena itu, para mahasiswa ITB juga hendaknya juga aktif bersosialisasi dalam kehidupan kampus sebagai proses latihan meraih softskill. Karena disinilah kelemahan umumnya mahasiswa ITB. Nilai IP tinggi itu bagus untuk diraih tetapi belum cukup bila tak memiliki tambahan softskill. Dan itu telah dibuktikan oleh softskill kakak-kakak alumni ITB yang sukses dalam kariernya, baik sebagai “tukang insinyur”, ilmuwan kelas dunia, wirausaha sukses maupun alumni yang telah menjadi Presiden RI dan Perdana Menteri RI (kalau Menteri-menteri alumni ITB sejak republik ini berdiri sudah nggak kehitung lagi sampai lupa namanya kecuali 5 menteri-alumni ITB angkatan saya, angkatan 1973 he he he ....!)

Sebaliknya, kepada para dosen ITB yang telah “disegarkan” oleh Wakil Rektor Senior ITB Prof. Ir. Adang Surahman, PhD -----Seangkatan dengan saya, tetapi saya di Departemen Teknik Geodesi. Di Departemen Sipil ITB, Kang Adang ini nomor pokok mahasiswanya 8173002 artinya ranking dua dari 120 mahasiswa Sipil ITB 1973. Waktu itu belum ada jurusan Informatika, yang paling top ya Sipil disusul Elektro !!!------ kita berharap otoritas yang dimiliki tidak “disalahgunakan” sebagai “kekuasaan mutlak”.


Dosen-dosen ITB juga harus mengevaluasi diri dalam proses belajar mengajarnya. Apakah cara penyampaian kuliahnya sudah komunikatif sehingga mudah diserap oleh mahasiswanya atau sebaliknya hanya pinter untuk diri sendiri. Apakah dosen-dosen senior ITB telah konsisten mengajar secara langsung dan tidak mewakilkan kepada para asistennya? Apakah ITB juga telah menyediakan sarana dan prasarana bagi 1.025 dosen (800 di antaranya bergelar doktor), misalnya dengan ruangan dosen yang memadai lengkap dengan koleksi buku-buku mutakhir. Karena penulis menemukan banyak fakta kalau profesor doktor ITB yang berkelas dunia pun ruangannya sangat sempit. Lalu bagaimana dengan ratusan doktor-doktor muda ITB pasti ruangannya akan lebih sempit lagi atau jangan-jangan ada yang tak memiliki meja kerja ....?


Selamat ujian bagi para mahasiswa ITB dan selamat menilai bagi para dosen ITB yang bijak. And last but not least kepada para alumni (apalagi yang punya anak, mahasiswa ITB he he he ...!) seperti biasa, selamat mengkritisi jalannya penilaian oleh para dosen ITB.

Read more...

Bagaimana SBY Mengendus Para Calon Menteri?

>> Sunday, July 26, 2009

Oleh Cardiyan HIS



Jangan menganggapnya terlalu serius. Tetapi ini adalah ceritera nyata bukan rekayasa, yang didapatkan penulis langsung dari 2 mantan menteri dan 8 masih menteri aktiv terutama asal alumni ITB, UI dan UGM. Semoga bermanfaat bagi mereka yang merasa akan menduduki sebuah jabatan prestisius. Sehingga harus menunggu terlalu lama tanggal 20 Oktober 2009 itu, saat SBY melantik para menteri anggota Kabinet SBY Jilid 2.


Tak berambisi menjadi Menteri Kesehatan RI bahkan bermimpi sekali pun. Sungguh! Maklum, saya hanyalah seorang dokter spesialis penyakit jantung. Jadi ketika pagi-pagi saya pergi ke Rumah Sakit Jantung “Harapan Kita” di Jakarta Barat, ya seperti melaksanakan tugas rutin saja. Apalagi saya tak termasuk orang yang dipanggil SBY ke Cikeas. Saya hanya pernah ditelepon oleh seorang Guru Bangsa yang mengisyaratkan harus menyatakan siap kalau ditelepon dari Cikeas. Saya tak menanggapinya terlalu serius karena dalam media cetak dan media elektronik malah yang sangat santer dan sering terekam kamera televisi adalah nama seorang dokter aktivis HIV/AIDS. “Saya terpilih menjadi Menkes ya pada saat-saat terakhir ketika menteri-menteri lain sudah pada tersenyum-senyum masuk kabinet SBY”, ungkap Dr. Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan RI, lulusan S-1 Fakultas Kedokteran UGM dan S-2 dan S-3 di Fakultas Kedokteran UI kepada penulis di rumah dinasnya jalan Denpasar Raya nomor 14.


Karena tak punya pengalaman memasuki partai politik, Jero Wacik kontak teman lamanya ketika bekerja di PT. United Tractors yang sudah menjadi Sekjen Partai Demokrat (PD). Hari itu juga saya dibikinkan kartu anggota PD. Kalau pun ada sisi “prestasi berpolitik”, dalam kehidupan Jero Wacik, ia memang mantan aktivis kampus ITB, di Bandung, awal tahun 1970-an, yang juga menonjol prestasi akademisnya. Sehingga ia mendapat anugerah “Tokoh Mahasiswa ITB” dari Dewan Mahasiswa ITB 1973. Maka setelah kartu anggota PD di tangan, Wacik langsung kerja keras dan menjadikan daerah asalnya Bali sebagai basis kampanye untuk pemenangan PD yang mengusung SBY-JK sebagai Capres-Cawapres. Setelah sukses menjadikan PD nomor 2 di Bali, eh urusan belum selesai. Pertengkaran di elite PD demikian kerasnya. Sehingga pada suatu Rapat Nasional PD sampai saya harus nangis kencang sekali, yang akhirnya malah mendamaikan semua elite untuk kompak membangun PD yang baru seumur jagung. Rupanya nangisnya Jero Wacik dan akhirnya juga banyak anggota PD sampai juga ke telinga SBY. Maka suatu ketika SBY memanggil Wacik ke Cikeas, SBY hanya sekejap saja baca proposal “Program Seratus Hari Menjadi Menteri”. “Sampai-sampai saya terkaget-kaget sendiri ketika SBY mengingatkan, ya sudah cukup pak Wacik, siapkan saja program seratus harinya termasuk menghidupkan Festival Film Indonesia 2004 itu”, ungkap Ir. Jero Wacik, SE, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, anak Mesin ITB 1970 dan juga Fakultas Ekonomi UI, kepada penulis di kantornya jalan Medan Merdeka Barat nomor 17 ini.


Yusman SD, anak Mesin ITB 1973 adalah anak Fortuga ITB (Forum Tujuh Tiga ITB) ke lima yang menjadi menteri, sebelumnya adalah Rizal Ramli, Alhilal Hamdi di Kabinet era Gus Dur dan Megawati; Hatta Rajasa dan Kusmayanto Kadiman di era Megawati dan era SBY. Mengapa SBY mengendusnya menjadi Menteri Perhubungan? Pertama, ketika Hatta Rajasa melepas Menteri Perhubungan karena akan ditarik menjadi Menteri Sekretaris Negara, ia diminta pendapat SBY tentang calon Menteri Perhubungan. Ya, Hatta merekomendasikan nama Yusman SD, teman sesama aktivis kampus ITB 1977-1978. Kedua, SBY juga cari second opinion dengan mengundang BJ Habibie ke Istana Merdeka. Maka ketika BJ Habibie memberikan personal garansi Yusman SD adalah orang yang pas karena memiliki kapabilitas tinggi setidaknya selama menjadi anak buahnya di PT. Dirgantara Indonesia. Jadilah Ir. Yusman SD, Menteri Perhubungan RI, yang ketika ditelepon Hatta Rajasa untuk segera ke Jakarta masih asyik-asyiknya main dengan anaknya di Bandung.


Sebagai Rektor ITB yang sangat prestisius, Kusmayanto Kadiman termasuk pinter membuat netwoking. Tidak hanya dengan sesama akademisi nasional dan internasional tetapi ia juga bikin dengan jaringan militer, baik jenderal aktif maupun yang telah pensiun. SBY -----sebelum jadi Presiden----- adalah salah seorang jenderal yang kerap tampil di kampus ITB untuk memberikan presentasi makalah-makalahnya. Namun “Rektor Gaul” ini suka heureuy (bercanda) kadang heureuy-nya suka keterlaluan. Maka ketika jenderal Sudi Silalahi, tangan kanan SBY, telepon pertama kali tak ditanggapinya serius. “Emangnya gue pikirin”, itulah ungkapan spontan Rektor ITB yang paling jagoan main golf ini (handicap 0). Tetapi setelah kemudian ada konfirmasi langsung dengan SBY, maka kepercayaan ini telah berubah menjadi suatu kewajiban bagi Kusmayanto Kadiman, sebagai seorang warga negara Indonesia yang baik untuk tidak menolaknya. Tentu saja.


Hatta Rajasa, anak Teknik Perminyakan ITB 1973, seperti halnya penulis adalah sama-sama Senator Mahasiswa ITB 1977-1978 ketika Ketua Dewan Mahasiswa ITB adalah Herry Akhmadi (sekarang Wakil Ketua Komisi X DPR dari PDIP). Karier politiknya melejit bagai meteor karena sangat cerdik memanfaatkan momentum gerakan Reformasi 1998. Ia bersama Alhilal Hamdi memilih Partai Amanat Nasional (PAN) yang didirikan oleh tokoh Reformasi Prof.DR. Amien Rais. Ketika Alhilal Hamdi duluan masuk Kabinet Gus Dur, Hatta Rajasa mematangkan kiprah politiknya di PAN dengan menjadi Sekjen PAN dan Ketua Fraksi Reformasi di DPR. Dan ketika Gus Dur lengser, kabinet era Megawati mengangkatnya menjadi Menteri Riset dan Teknologi, RI. Hatta tentu semakin matang bermain politik di PAN, sehingga tak terlalu sulit bila SBY-JK pun mengangkatnya sebagai Menteri Perhubungan. Dan kemudian Hatta malah menggantikan Yusril Ihza Mahendra sebagai Menteri Sekretaris Negara ketika terjadi resufle Kabinet Indonesia Bersatu hingga sekarang ini.


Aburizal Bakrie (Teknik Elektro ITB 1964) dan Rachmat Witoelar (Arsitektur ITB 1964) menjadi menteri karena mereka sudah lama dan matang berpolitik tentu saja di Partai Golkar. Sehingga bagi SBY sudah lama mengamati Aburizal Bakrie dan Rachmat Witoelar ketika masih di Golkar, terlebih-lebih ketika kemudian Rachmat Witoelar bergabung di Partai Demokrat. Tetapi saya sempat “taruhan” dengan teman saya anak Teknik Kimia ITB 1970 yang anggota DPR Partai Golkar bahwa Kang Rachmat tak akan jadi menteri. Pas si Kang Rachmat terpilih, eh politikus Golkar itu malah “ngacir” entah ke mana, tak jadi traktir saya makan siang di Hotel Mulia.


Sedangkan DR.Ir. Purnomo Yusgiantoro, (Teknik Perminyakan ITB 1970) sudah lama diamati SBY ketika dia menjadi Gubernur Lemhanas. Anak Teknik Perminyakan ITB paling pintar di angkatan 1970 ini memang sejak mahasiswa sudah memprogramkan dirinya suatu ketika akan menjadi menteri di Republik Indonesia. Bahkan ketika masih menjadi mahasiswa doktoral di Colorado School of Mine, at Denver, USA, untuk mencari sponsorship, dia terpaksa narsis bahwa dia suatu ketika akan menjadi orang nomor satu yang banyak berhubungan dengan operator minyak dan gas asing yang beroperasi di Indonesia. Saya yang menjadi moderator di acara Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pada sesi itu hanya berdecak kagum saja ketika mendengarkan ceritera beliau: antara cita-cita semasa mahasiswa dengan kenyataan beliau yang akhirnya memang menjadi Menteri ESDM, bahkan di tiga era berturut-turut yakni di era Kabinet Gus Dur, era Kabinet Megawati dan era Kabinet SBY!


Jadi dari ceritera di atas, SBY ini memang memiliki benang merah tersendiri dalam memutuskan siapa yang akan menjadi menteri pada kabinetnya. SBY selalu telah memiliki data track of record para calon, baik melalui networking dia sendiri maupun masukan dari anak-anak buah, komunitas teman-teman dekat. Bila data sudah diperoleh, SBY meminta second opinion kepada tokoh terpandang pada bidang yang sama dengan calon yang diincarnya. Kalau perlu minta personal garansi. Terakhir adalah pengambilan keputusan, apakah mengandung risiko besar atau tidak dengan keyakinannya. Jadi secara singkat SBY selalu menjalankan keputusannya berdasarkan: Networking-Common Sense-Risk Taking.


Dan jangan lupa pula, kalau pernah terakhir ketemu SBY dalam waktu yang tidak terlalu lama, jangan Ge-Er dulu. Karena SBY itu pintar menyenangkan semua orang, seolah-olah masing-masing diri yang disalaminya agak lama-lama bakal terpilih menjadi anggota Kabinet SBY Jilid 2. Nah.

Read more...

Penggemar Blog IA-ITB :

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP